Beranda Views Sepak Pojok Penyebab Anak SD dan SMP di Lampung Jadi Begal dan Tega...

Penyebab Anak SD dan SMP di Lampung Jadi Begal dan Tega Membunuh Korbannya

1528
BERBAGI
Tiga pelaku begal saat diamankan di Markas Kompi Senapan C Banyu Urip, Kotabumi, Lampung Utara, Senin (1/8/2016).

TERASLAMPUNG.COM —  Publik di Lampung terkejut ketika mengetahui salah satu begal yang membegal Komandan Pleton (Danton) Kompi B Cimeng, Bandarlampung, Letda Suprianto, pada Minggu malam, 31 Juli 2016, masih duduk di bangku SMP.  Namun, sebenarnya  bagi warga Lampung, aksi nekat pembegal berusia belasan tahun sebenarnya bukan hal aneh.

Faktanya, banyak kasus pembegalan di Lampung dilakukan remaja. Mereka ketika ditangkap polisi seperti bertampang ‘baby face’, unyu-unyu, memelas, dan membuat orang tidak yakin mereka adalah tersangka begal yang bisa bertindak sadis. Di Lampung, ada juga terpidana kasus pembegalan yang korbannya ditusuk meninggal dunia, usianya masih 13 tahun dan duduk di bangku SD. Ia berasal dari wilayah di Lampung yang terkenal sebagai ‘daerah merah’ asal pembegal. Alasan membunuh korban sangat simpel: ingin punya uang banyak dengan menjual sepeda motor hasil membegal.

Sampai hari ini, nyaris tidak ada kajian mendalam dari ahli hukum atau ahli sosial mengapa anak-anak usia remaja di Lampung ada yang ‘menekuni’ karier sebagai pembegal. Pihak penegak hukum, kelompok kritis, maupun pejabat birokrasi seolah merasa hanya cukup bisa memahami mereka bisa berlaku seperti itu. Belum terdengar ada upaya untuk mengubah mental kriminal menjadi bermental lebih baik. Seolah mereka menjadi kelompok yang nyaris tidak tersentuh. Padahal, peta mereka sudah sangat jelas: lokasinya, nama asal wilayahnya, komunitasnya.

Seorang tokoh masyrakat di Lampung pernah mengakui wilayahnya memang dikenal sebagai sumber ‘pemasok begal’. Namun, ia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena  warga di sekitar kampungnya dari dulu memang sudah seperti itu tabiatnya: para orang tua akan lebih bangga jika anak-anaknya hidup sukses dengan cari nafkah di luar daerah, tanpa mau mengerti pekerjaan asli anaknya. Bahkan, kabarnya di sebuah wilayah di Lampung ada juga wilayah yang penduduknya bangga anaknya sukses jadi begal. Di wilayah seperti inilah regenerasi begal tumbuh lancar dan subur. Itulah sebabnya, cerita tentang begal usia remaja di Lampung tidak pernah habis.

Masyarakat yang permisif terhadap perilaku begal tentu saja memiliki kepala desa, punya KTP, ikut pilkada, ikut pilpres, dan menggunakan hak-haknya sebagai warga negara Indonesia. Mereka juga menonton televisi, main medsos, punya gadget canggih, dan kendaraan bagus. Namun, mereka seolah berada di negara asing. Identifikasi mereka membuat banyak orang ‘jiper’.Bahkan, kabarnya seorang polisi pun tidak berani datang sendirian dengan sepeda motor di kampung-kampung yang diidentifikasi sebagai daerah merah itu.

Bagaimana peran tokoh agama atau para kyai? Sampai sekarang kita belum mendengar ada kabar para pendakwah rajin menyambangi kampung-kampung itu untuk berdakwah atau menanamkan nilai-nilai agama bagi remaja kampung atau para orang tua yang permisif terhadap aksi begal. Jadi, siapa pun yang jadi Kapolda dan Wakapolda — apalagi hanya setingkat Kapolres/Kapolresta — jangan harapkan aksi kriminal dengan pelaku para remaja akan lenyap di Lampung.

Rama Pandu

Loading...