Penyebab Berkurangnya Hujan di Lampung

  • Bagikan
Awan (ilustrasi)

Oleh : Eka Suci Puspita Wulandari*

 

Bulan januari yang sewajarnya memasuki puncak musim hujan nyatanya hujan lebat tidak banyak terjadi di wilayah Lampung. Hasil pantauan dinamika atmosfer memang ada beberapa kendala yang terjadi yang menyebabkan terganggunya pembentukan awan-awan hujan di wilayah Lampung.

Gangguan cuaca skala global yang mempengaruhi pasokan uap air di Indonesia bagian Barat yaitu Dipole Mode berada di angka-0.21 yang menandakan suplai uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat kurang signifikan sehingga aktivitas pembentukan awan-awan hujan juga ikut berkurang.

Dipole Mode sendiri merupakan Penyimpangan suhu muka laut yang terjadi dan biasa dikenal dengan istilah anomaly suhu muka laut. Saat suhu muka laut di wilayah perairan Hindia khatulistiwa bagian barat lebih dingin, maka suhu muka laut di wilayah barat pulau Sumatra akan menjadi lebih panas. Begitu pula sebaliknya. Saat di wilayah perairan Hindia khatulistiwa bagian barat lebih hangat, maka suhu muka laut di sebelah barat Sumatra akan lebih dingin.

Faktor lainnya yang  mempengaruhi adalah Madden Julian Oscillation (MJO) dalam kondisi netral sehingga tidak berkontribusi terhadap pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat.MJO sendiri sirkulasi skala besar di ekuator dan berpusat di Samudera Hindia dan bergerak ke timurantara 10° LU dan 10° LS. Daerah yang dipengaruhi  MJO suhu muka lautnya meningkat seiring dengan perjalanan arus laut ke timur sehingga berdampak pada tingginya penguapan air laut.

Proses selanjutnya terjadi gerakan uap air secara vertical dan membentuk beberapa pumpunan awan hujan yang bergerak ke timur dengan kecepatan 5–10 m/s. Awan ini mengandung air sangat banyak serta mempunyai periode berulang 30 – 90 hari yang berarti dalam kisaran waktu tersebut akan terjadi peningkatan hujan di kawasan-kawasan yang dilaluinya. MJO hanya akan berperan ketika posisi matahari berada di bagian selatan khatulistiwa.

Analisid suhu muka laut beberapa hari terakhir ini terpantau dalam kondisi yang normal sehingga suplai uap  air ke atmosfer tidak signifikan. Hal ini didukung dengan tidak adanya belokan angin di wilayah timur serta selatan Lampung yang sering menjadi tumpuan pendukung terjadinya pembentukan awan-awan hujan di wilayah Lampung.

Secara iklim diprakirakan hujan masih akan terjadi hingga awal bulan Februari. Mulai memasuki musim pancaroba atau peralihan pada bulan Maret – April. Potensi hujan untuk 1 minggu ke depan sudah mulai berkurang, namun beberapa wilayah di Lampung bagian utara dan timurseperti Way Kanan bagian utara, Mesuji, Tulangbawang, serta Tulangbawang bagian utara masih berpotensi mendapat hujan lebat pada malam hari.

Berkurangnya hujan pada bulan ini patut disyukuri dengan positif yaitu berkurangnya bencana yang dapat ditimbulkan jika hujan lebat terja di sepanjang hari. Bencana yang harus diwaspadai antara banjir,  tanah longsor, puting beliung, dan bencana lainnya.***

*Pengamat Stasiun Meteorologi Maritim Panjang. Lampung

 

  • Bagikan