Opini  

Penyebab Mundurnya Puncak Musim Hujan di Lampung

Hujan (ilustrasi)
Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh Ramadhan Nurpambudi*

Puncak musim hujan di wilayah Lampung normalnya terjadi di akhir bulan Desember sampai bulan Januari, namun saat ini yang terjadi lapangan sedikit berbeda. Hujan dengan intensitas lebat baru banyak turun di pertengahan bulan Februari ini dan hampir sepanjang hari ada hujan turun meskipun dengan intensitas yang ringan.

Gangguan cuaca di atmosfer sudah sering kali terjadi terutama di wilayah Lampung namun hujan lebat tidak kunjung tiba, gangguan seperti belokan angin, arus konvergensi atau perkumpulan massa udara di atmosfer sering kali terbentuk di sekitar atmosfer Lampung. Kelembaban udara juga terpantau basah mulai lapisan permukaan hingga ke lapisan 700mb dimana diantara lapisan ini merupakan lapisan penting dalam proses pembentukan awan.

Madden-Julian Oscillation (MJO) pada bulan Januari yang lalu juga berada di kuadran 4 dan 5 yang berarti MJO sedang aktif mempengaruhi pembentukan awan-awan hujan di wilayah Indonesia salah satunya Lampung. Namun yang terjadi di lapangan juga pada bulan Januari yang lalu hujan masih kurang yang diprediksi akan menjadi puncak musim hujan.

Setelah dianalisa ada satu unsur penting yang selama bulan Januari tidak mendukung untuk proses pembentukan awan, suhu muka laut. Sepanjang bulan Januari di perairan Lampung dan sekitarnya anomaly suhu muka laut terpantau dalam kondisi yang negatif. Negatifnya suhu muka laut berarti pasokan uap air ke atmosfer minim sehingga meskipun banyak gangguan di atmosfer Lampung tidak akan terbentuk menjadi awan.

Suhu muka laut menjadi faktor penting dalam pembentukan awan sebab bahan dasar awan adalah uap air yang menguap dari permukaan bumi dan yang paling besar adalah dari lautan. Bukannya hujan tidak terjadi di wilayah Lampung selama bulan Januari, hujan banyak turun secara sporadis atau lokal di berbagai wilayah dan tidak merata seperti yang terjadi sekarang ini di bulan Februari.

Hujan sporadis ini terjadi di wilayah yang lokasinya berada di sebuah Teluk salah satunya Bandar Lampung. Selain itu hujan yang bersifat sporadis terjadi di wilayah yang di permukaannya banyak terjadi penguapan secara lokal melalui sungai dan juga tumbuh tumbuhan kondisi ini seringkali membuat di wilayah Lampung Tengah turun hujan secara sporadis.

Baru di awal-awal bulan Februari suhu muka laut kembali dalam kondisi yang normal sehingga banyaknya pasokan uap air ke atmosfer dengan didukung dengan adanya gangguan cuaca di wilayah atmosfer Lampung memberikan dampak hujan lebat yang disertai petir dan juga angin kencang. Bahkan di wilayah Lampung Timur sudah seringkali terjadi dampak dari awan Cumulunimbus yaitu puting beliung yang merusak banyak hunian warga.

Prediksi kedepannya hujan lebat masih berpotensi terjadi terutama sampai 3 hari kedepan, namun di akhir bulan Februari diprediksi intensitas hujan secara keseluruhan akan berkurang. Kondisi ini berdasarkan analisa radiasi gelombang panjang pada bulan Februari ini menunjukkan angka yang besar sehingga potensi tutupan awan diprediksi berkurang terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan Barat.

Kami dari BMKG Lampung akan selalu memberikan pembaharuan terkait informasi cuaca yang masyarakat bisa mengakses beritanya melalui akun Facebook @Infocuaca Bmkg Lampung dan juga nomer whatsapp 0816-404-333.***

*Prakirawan Stasiun Meteorologi Radin Inten Lampung