Beranda Views Opini Penyebab Suhu Lebih Tinggi di Bulan Oktober

Penyebab Suhu Lebih Tinggi di Bulan Oktober

152
BERBAGI

Oleh Eka Suci Puspita Wulandari
Prakirawan BMKG Lampung

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai di media sosial terkait suhu udara di sebagian besar wilayah Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi umumnya. Bahkan di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan sempat mencapai suhu tertinggi 39.6oC pada tanggal 24 Oktober 2019 yang lalu. Sehari sebelumnya di Kota Semarang suhu mencapai 39.4oC. Kira-kira apa yang menyebabkan suhu di permukaan wilayah Indonesia mengalami peningkatan ? Mari kita ulas apa penyebabnya.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa matahari terbit dari ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Penyebabnya adalah rotasi yang dilakukan bumi setiap harinya, tepatnya bumi yang mengitari matahari atau berotasi selama 23 jam 56 menit 4.1 detik. Selain terbit dari ufuk timur dan terbenam di ufuk barat, posisi matahari juga mengalami pergerakan seakan-akan bergerak ke utara dan selatan bumi inilah yang disebut dengan gerak semu matahari. Hal ini disebabkan oleh revolusi yang dilakukan bumi terhadap matahari.

Gerak semua matahari menjadi pemicu meningkatnya suhu udara di wilayah Indonesia. Sebagai gambaran wilayah Indonesia berada di wilayah ekuator atau khatulistiwa. Pada bulan Maret (tanggal 21) posisi matahari tepat berada di wilayah ekuator dan perlahan bergerak ke bagian utara bumi, pada bulan Juni (tanggal 21) mencapai posisi paling utara.

Menuju bulan September 2019, matahari kembali bergerak ke arah equator dan tepat berada di atas equator pada tanggal 23 September 2019. Kemudian menuju bulan Desember matahari yang semula berada di ekuator kembali bergerak ke arah selatan bumi dan mencapai posisi paling selatan pada tanggal 22 Desember 2019. Setelah ini matahari kembali ke posisi di equator menjelang bulan Maret (tanggal 21), begitulah proses dari gerak semu matahari yang terjadi setiap tahunnya.

Pada bulan Oktober 2019 posisi matahari berada di wilayah Indonesia bagian selatan, inilah mengapa suhu udara beberapa waktu yang lalu mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Hal ini didukung dengan masih berlangsungnya musim kemarau di wilayah Indonesia bagian selatan sehingga kondisi di permukaan sangat kering, keberadaan uap air di permukaan sudah sangat tipis sehingga selain suhu udaranya tinggi nilai kelembapan udaranya juga sangat rendah. Berdasarkan data pengamatan kelembapan udara di wilayah Makassar bahkan mencapai 18.0%. Wilayah Lampung tercatat juga mengalami kondisi yang sangat kering akhir-akhir ini dimana paling rendah mencapai 20.0% pada tanggal 23 Oktober 2019 yang lalu.

Tingginya suhu udara yang terjadi belakangan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi rata-rata normalnya. Rata-rata suhu udara maksimum yang pernah terjadi berdasarkan data klimatologis 30 tahun antara 34.0 – 37.5oC. Kondisi tingginya suhu udara ini sudah berlangsung selama satu minggu, selama satu minggu ini suhu maksimum rata-rata di wilayah Indonesia khususnya wilayah selatan nilainya diatas 37.5oC.

Akibat dari adanya gerak semu matahari menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah di wilayah Indonesia bagian selatan relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari. Selain itu atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari. Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara. Gerak semu matahari merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

BMKG menghimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, serta mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla.

Di wilayah Lampung, hasil pantauan sampai saat ini masih sering terjadi titik panas atau hotspot di wilayah Mesuji, Tulangbawang, dan sekitarnya. Untuk menghindari informasi yang tidak benar selama beberapa hari kedepan selama periode tingginya suhu udara kami mengimbau agar selalu mengikuti perkembangan berita hanya dari instansi resmi pemerintah salah satunya dari BMKG agar tidak menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.

Loading...