Beranda Teras Berita Penyelesaian Terbaik Kasus Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh

Penyelesaian Terbaik Kasus Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh

47
BERBAGI

Ahmadun Yosi Herfanda

Kawan-kawan, suasana pergaulan sastra kita setelah buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terbit menjadi kisruh, penuh intrik, dan fitnah. Saya kira ini suasana yang sangat tidak produktif. Kiranya perlu penyelesaian yang arif dan bijaksana, sekaligus jelas dan tegas, dengan tanpa merugikan siapapun, demi menyelamatkan sastra Indonesia yang kita cintai. Penyelesaian ini menyangkut dua pokok akar masalah:

I. Berkaitan dengan buku 33 Tokoh Sastra Paling …. Akar masalah buku ini ada dua: (1) penempatan Denny JA sebagai salah tokoh sastra paling berpengaruh yang menjadi akar utama pemicu kontroversi. dan (2) penyebutan dalam judul “tokoh sastra paling berpengaruh yang rawan kontroversi.

Untuk penyelesaian masalah ini saya kira Tim 8 dan Denny JA perlu berendah hati mencari solusi terbaik, misalnya mengganti istilah “paling berpengaruh” dengan sebutan lain yang lebih netral. Bisa juga disertai dengan mereposisi Denny JA dan tokoh-tokoh lain yang “kurang pas” dari daftar tokoh utama ke daftar tokoh “potensial”. Tim 8 dan pihak-pihak terkait perlu mempertimbangkan ini sebagai langkah paling bijak untuk mengakhiri kontroversi yang kurang sehat, lalu menarik buku-buku itu dari peredaran, merevisinya, baru mengedarkannya kembali.

II. Berkaitan dengan buku antologi puisi esai karya 23 penyair Indonesia. Pihak sponsor (Denny JA), perantara (Fatin Hamama , dan ke-23 penyair itu perlu bertemu untuk mencari jalan keluar terbaik tanpa merugikan siapa pun. Untuk bagian ini saya siap menjadi penengah yang netral tanpa bayaran. Kita bicarakan dengan terbuka bagaimana sebaiknya buku itu dan posisi kawan-kawan di dalam buku itu.

Mungkin tidak penerbitannya dibatalkan atau direvisi seluruhnya tanpa embel-embel puisi esai yang politis itu. Tentu, poisisi dan sikap saya pribadi sudah jelas, menarik puisi saya dari buku itu. Yang lain tentu boleh saja punya sikap yang berbeda, asal bisa dicapai kesepakatan yang paling baik demi menjaga kehormatan dunia kepenyairan Indonesia.

Demikian, semoga mendapat tanggapan yang positif dan konstruktif demi membangun kembali tradisi sastra Indonesia yang lebih sehat dan bebas dari kepentingan yang hanya mengotorinya.

Wassalam wrwb
Ahmadun Yosi Herfanda