Perahu Cadik Menantang Samudera

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial Pascasarjana FKIP Unila

Perahu cadik adalah perahu yang menggunakan penyangga di kanan dan kirinya untuk keseimbangan agar perahu tidak mudah terbalik. Cadik (outrigger  adalah sebutan untuk bambu atau kayu yang dipasang di samping kiri dan kanan perahu sebagai stabilitas perahu tersebut. Di Manado dan Maluku stabilitator ini disebut ‘sema-sema’. Makanya kita mengenal ada sebutan perahu sema-sema.

Di Maluku juga ada ‘kole-kole’. Di Sulawesi Selatan ada ‘lepa-lepa’, dan masih banyak lagi. Kalau ‘leva-leva’, itu adalah sampan yang digunakan suku Ingurus dan Nungbuyu dari Groote Eylandt dan Pantai Barat dari Teluk Carpentaria. Kita juga mengenal ‘pakata’, ini adalah perahu ‘sema-sema’ dari kepulauan Bacan, kadang ia disebut juga sebagai ‘Perahu Paketa’. Sema-semanya terbuat dari 3 batang bambu yang diikat jadi satu, dan kemudian ditahan oleh dua kayu penahan yang dipasang secara melintang.

Perahu jenis ini pada umumnya dipakai nelayan untuk mencari ikan di daerah Teluk atau Selat yang tidak terlalu jauh dari pantai; dengan menggunakan bahasa gaul “mainnya tidak terlalu jauh”; karena itu perahu model ini tidak dilengkapi dengan alat komunikasi modern; namun untuk menambah laju perahu biasanya di buritan ditambah mesin kecil. Akan tetapi sejarah perahu model inilah yang pernah mengarungi laut lepas pada jamannya dengan menggunakan layar, walaupun tidak ada catatan yang pasti.

Kita biarkan perahu cadik dalam pengertian konkret untuk mengarungi selat dan teluk. Pada tataran abstrak itu yang akan menjadi konsep bahasan pada tulisan ini. Salah satu peristiwa dari rangkaian peristiwa, di antaranya adalah saat sekarang partai politik di negeri ini; sedang gencar-gencarnya membangun ‘perahu cadik’. Karena tidak memiliki perahu besar, sehingga cadik pun jadi. Tampaknya untuk membangun perahu besar seperti “perahu kuno” masa lalu yang tiga besar itu, untuk saat ini tidak mudah untuk dilakukan.

Perahu kecil kecil seukuran cadik pun dibuat bukan dengan mudah, bahkan cenderung berdarah-darah. Organisasi kaki dibangun, baik bersifat masa maupun profesi, diikuti dengan pimpinan yang tidak jarang diambil dari mereka yang “lompat pagar”; dengan alasan tidak perlu membesarkan lagi. Semua lini dibangun dengan pendekatan personal maupun impersonal; bahkan ketokohan masa lalu jika perlu dilakukan dengan cara “membangunkan” tokoh dari kuburnya.

Perahu cadik juga dibuat di mana mana, yang bisa digunakan oleh siapa saja yang ingin menaikinya untuk menuju gedung parlemen, atau sekadar jadi juru tulis di suatu institusi. Namun semua tidak gratis. Ada ongkos perahu yang dijadikan semacam mahar, dan harus dibayarkan kepada organisasi, dengan perjanjian jika setelah duduk jika diperlukan “sumbangan sukarela tetapi maksa” harus bersedia dengan jumlah besaran sesuai lebar meja dan tingginya kursi. Tidak kalah pentingnya juga menyiapkan semua fasilitas yang diperlukan oleh organisasi, terserah apa itu dari milik negara atau pribadi, semua harus ada saat diperlukan.

Dampak perahu cadik ini membuat Pak Carik harus menyusun barisan dari Kamituwo, sampai Bayan, harus satu barisan; karena jika diperlukan untuk mendapatkan sumbangan sukarela tetapi maksa tadi, tidak mengalami kesulitan. Sementara parameter yang dipakai terserah Pak Carik, bisa saja Kamituwo diambil dari tamatan Sekolah Rakyat, dan Bayan diambil cukup kelas lima Sekolah Dasar; itu tidak menjadi persoalan; yang penting satu garis dan bisa cari cuan saat diperlukan atas nama organisasi.

Sekalipun rakyatnya ada yang perpangkat Jenderal, Ketua RT-nya bergelar Raden Mas Yosonegoro; itu bukan urusan, bila perlu mereka kakinya diamputasi atau dilumpuhkan secara sistemik, sehingga hanya menjadi penonton sandiwara di bawah panggung.

Jabatan Kamituwo atau Bayan pun jika diperlukan bisa dirangkapkan dua atau tiga sekaligus; agar tampak cantik, maka semua aturan yang menjadi penghalang direkayasa supaya terkesan tidak melanggar perundangan atau peraturan yang ada; soal kepatutan, itu biarkan saja menjadi buah bibir, pada saat di meja makan semua orang. Bahkan ada adagium “biarkan dunia menangis asal kita bahagia”, adalah frase yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Bahkan oligarki pun dikadali agar tampak demokrasi, terlepas dengan cara yang tidak terpuji.

Politik “iming-iming” (bhs Jawa: artinya menjanjikan) dikedepankan; sehingga jika dilihat dari jarak jauh; kemilau demokrasi tampak bersinar dan bau wangi, sekalipun pada jarak dekat semua berubah menjadi bau busuk.

Perahu Cadik dipaksakan untuk mengarungi Samudra Lepas yang berombak ganas, hal itu tidak ada juga peraturan yang dilanggar, hanya semua orang yang melihat akan mengurut dada, miris, kasihan terhadap Perahu dan Pengemudinya. Namun ada sisi lain yang menjadi jawaban religius, jika kita tidak mampu mengubahnya, maka berdoalah untuk kebaikannya, karena siapa tau peristiwa itu terjadi karena Tuhan ingin menunjukkan kebesaran-Nya.

Ada kalimat kiasan dalam bahasa Jawa “Kodok nguntal leng” terjemahan bebasnya kodok menelan lubang tempatnya tinggal. Maksudnya adalah jika Tuhan menghendaki sesuatu untuk terjadi, maka jadilah. Oleh karena itu sekalipun perahunya hanya cadik, namun jika Tuhan menghendaki untuk keliling dunia, itu bisa saja terjadi. Kita tidak boleh iri, apalagi dengki; karena ukuran manusia sering tidak jumbuh (sesuai) dengan ukuran keilahian.

Mari kita nikmati keberlangsungan sandiwara ketuhanan di muka bumi, dengan rasa syukur yang dalam; karena menerima kehadiran kodrat adalah suatu sikap iman yang tinggi dihadapan Tuhan. Sekalipun kita tidak jarang dibuat geli karena pemain sering salah kostum, atau juga tidak pandai menari lantai di salahkan, bisa jadi juga tari dan kendang tidak sejalan.

Selamat ngopi pagi…