Beranda Views Kopi Sore Perang Air?

Perang Air?

303
BERBAGI
Asarpin*
 

2006  lalu saya bersama petani Rawa Sragi I dan
Rawa Sragi II Jabung, Lampung Timur, melakukan penelitian mengenai penyebab
utama ribuan haktare sawah di lokasi itu yang kekuarangan air. 80 % petani
sudah menggunakan mesin penyedot air untuk mengaliri air di sawah mereka.  Selama tiga bulan kami meneliti dan menemukan
bahwa Sungai Mumbangan yang amat terkenal di Lampung Timur, sebagai sumber air
petani Rawa Sragi I dan II iyang amat luas itu, mengalami penyempitan dan
pendangkalan. Air yang mengalir dari hulu ke hilir semakin hari semakin
berkurang volumenya. Ketika kami melakukan penelusuran di sungai itu, betapa
kagetnya saya dan teman-teman ketika persis di hulu sungai itu berdiri
perusahaan air kemasan bermerk  Grand.
Waktu itu saya
menyamar untuk bisa masuk ke dalam melihat-lihat kolam penampungan air di
perusahaan itu. Beberapa teman juga bisa masuk. Terdapat beberapa kolom
penampungan air berukuran besar, sedang dan kecil, yang kemudian dari kolam itu
air disalurkan lewat selang besar masuk ke dalam pabrik. Air yang mengalir di
sungai Mumbangan dibuat kolam-kolam sehingga alirannya menjadi sangat pelan.
Kondisi sungai tepat di bawah perusahaan itu sangat kecil dan dangkal. Semakin
ke hilir semakin dangkal.
Kami mendiskusikan
berkali-kali temuan ini dengan para petani, hingga suatu hari kami melakukan
negosiasi dengan perusahaan namun perusahaan tidak menanggapi. Kemudian kami
melakukan aksi seratusan orang namun kami dicegah oleh beberapa orang yang
dipercaya sebagai keamanan perusahaan Grand tersebut. kebetulan semuanya orang
Lampung dan saya berusaha semaksimal mungkin untuk berkomunikasi dengan mereka menggunakan
bahasa Lampung. Selang beberapa hari saya dan beberapa teman mencoba mendatangi
orang yang dipercaya sebagai keamanan perusahaan itu untuk mengenalnya lebih
jauh sekaligus melakukan pendekatan dan menyelidiki  berapa ia mendapat bayaran dari perusahaan.
Singkat cerita, yang
terlibat menikmati uang dari perusahaan Grand bukan hanya preman kampung,
melainkan lurah, camat, anggota dewan hingga bupati. Kami sempat menghitung
berapa mobil dalam sehari mengangkut botol air dari Grand dan berapa botol
ukuran besar dan kecil yang keluar dari perusahaan itu.  Kami tidak memiliki pengetahuan menghitung
debit air secara lebih canggih.
Yang mau saya katakan
di sini adalah: krisis air yang terjadi di negeri kaya air ini,  selain penebangan pohon secara massif,  penggunaan sumur bor, adalah karena bebasnya
perusahaan-perusahaan mendirikan air kemasan di tempat-tempat yang justru
menjadi sumber mata air utama bagi petani dan penduduk.  Saya tak membayangkan nasib sawah ribuan hektare
lahan pertanian dua puluh tahun yang akan datang jika setiap tahun
sungai-sungai mengalami penyusutan dan pendangkalan.
Di Tanggamus di hulu
Wai Isom dan Wai Jelai yang sangat dingin juga demikian.  Sejak masuknya perusahaan air kemasan debit
air setiap tahun  mengalami penyusutan. Demikian
pula di Way Semangka dan Way Ngarip, 
kedlaman air di kali kali tak sampai selutut. Petani amat kesulitan
mendapatkan air untuk menanam padi mereka dan sebagian mengandalkan air hujan.
Melakukan advokasi
terhadap perusahaan-perusahaan air kemasan selama ini tidak gampang. Semua
media memasang iklan air perusahaan air kemasan dan tak satu pun media mau
memuat hasil temuan kami di Lampung Timur itu. 
Data itu hanya beredar dari email-ke email (waktu itu belum ada twitter
dan facebook).
Sayang data dan
informasi itu kini tak saya miliki lagi. Bahkan kami sempat membuat video dan
beberapa kali dipresentasikan di Jakarta tapi agaknya tak punya dampak apa-apa.
Sekarang kita memperingati Hari Air Sedunia dan di Lampung para aktivis
menggelar aksi dengan tema Krisis Air Bersih. 
Tapi beberapa aksi yang saya lihat secara nasional sangat ironis karena
para aktivis itu minum air kemasan saat aksi berlangsung.
Saya sangat sedih ketika hampir semua
energi teman-teman aktivis LSM terserap ke dalam kerja-kerja praktis yang tak
memiliki jangkauan jauh ke depan.  Sering
kita dengar keluhan terhadap LSM yang tak memiliki informasi dan database
yang kuat terhadap isu dan persoalan yang diperjuangkan, padahal ini penting sekali
untuk mengatasi kerentanan database pemerintah dan lembaga swasta
lainnya. Titik lemah lembaga-lembaga politik formal seperti parlemen, instansi
sektoral, termasuk kampus, terletak pada data dan pengetahuan, sementara
pusat-pusat data, penelitian dan ilmu pengetahuan sudah tercerabut dari pulsa
rakyat.
Dulu kita punya
George Junus Aditjondro yang menjalankan model jurnalisme investigatif dengan
kemampuan menulis dan menganalisis yang mengagumkan. Sekrang  sulit sekali mencari orang selevel dia
karena  selain amat berat, butuh dana yang
tidak sedikit melakukan riset dan penelitian alternatif. Di India ada Vandha Shiva—feminis dan aktivis lingkungan India—yang kuat sekali menggunakan data dan infromasi.  Salah satu bukunya diterjemahkan oleh Walhi
berjudul Waters War  (Perang
Air
) yang berangkat dari penelitian di beberapa tempat di India.  Tanda-tanda ke arah “perang air” itu semakin
dekat karena di mana-mana orang berebut air bersih.
*Esais

Loading...