Perang dan Damai

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Saat artikel ini ditulis, di belahan bumi sana sedang berkecamuk perang dua negara yang membuat heboh dunia karena dibesarbesarkan oleh media masa. Digambarkan serunya peperangan yang diskenariokan oleh para jago perang bahwa bisa jadi jika salah satu tidak menahan diri, maka akan meletuslah Perang Dunia III.

Sebersit harapan muncul sebenarnya mereka yang bertikai tidak menutup peluang untuk berunding guna berdamai. Namun,  para “kompor” yang ada di belakang mereka yang sedang bertikai tentu tidak semuanya setuju dengan berbagai alasan, karena membuat kepentingan mereka akan terganggu, terutama penjualan senjata dan amunisi yang sudah lama menumpuk digudang mereka.

Di belahan dunia sini ada peristiwa lain: sekelompok orang yang sedang berkuasa, merasa terancam jika tidak berkuasa lagi. Maka dengan segala upaya mereka melakukan usaha baik halal maupun tidak, itu bukan persoalan bagi mereka, yang penting bagaimana melanggengkan kekuasaannya agar tetap bisa mengatur “dunia”-nya. Embusan yang dijual dia ntaranya mereka adalah kelompok terpinggirkan selama ini, dan setelah dengan susah payah “merebut” kekuasan. Maka, kekuasan harus dipertahankan  walaupun banyak orang membaca itu adalah balas dendam yang dibungkus dengan pembalikkan dan pembelokkan ide. Upaya untuk mendamaikan situasi tidak pernah berhasil, karena masing-masing merasa pada posisi yang benar. Akhirnya terbentuk dikhotomi “orang kita versus bukan orang kita” dan pemikiran ini dipelihara untuk menciptakan musuh dalam bayangan, sehingga terjadi semacam persatuan semu antarmereka.

Di belahan lainnya ada sekelompok orang yang merasa diuntungkan dengan kepemimpinan yang ada sekarang. Batas undang-undang sudah menjelaskan dan menegaskan bahwa periodesasi kepemimpinan itu, baik berhasil atau gagal, tetap hanya dua periode. Kelompok yang merasa “periuk nasinya” terancam  berupaya dengan cara apa pun untuk meyakinkan bahwa kepemimpinan harus diteruskan. Fatamorgana dibangun untuk memperkuat halusinasi sehingga seolah peristiwa masa depan akan “kiamat” jika kepemimpinan hanya cukup sampai di sini; mereka seolah menafikan keberadaan Tuhan yang Maha Mengatur.

Peritiwa-peristiwa di tempat lain jika kita tuangkan di sini mungkin halaman yang ada tidak akan mampu menampungnya. Sebab,  peristiwa seperti di atas hampir di semua belahan bumi ini ada, walaupun dengan redaksional dan latarbelakang yang berbeda. Akan tetapi esensi persoalan pada umumnya sama, yaitu konflik yang terjadi atau terbangun. Hanya penyebab utamanya yang kemungkinan berbeda.
Konflik dengan siapa pun, baik personal maupun komunal, pada umumnya dapat diselesaikan dengan berdamai  atau melakukan perdamaian atas dasar kesepakatan perjanjian bersama. Bahkan dua negara yang sedang berhadap hadapan saat ini pun, banyak ahli meramalkan akan berujung pada perdamaian dengan segala konsekuensinya. Tinggal kapan waktu dan tempatnya, sebagai orang yang beragama akan mengatakan itu ketentuan Yang Maha Mengatur.

Ada perdamaian yang sangat sulit diwujudkan, bahkan sulit dilaksankan oleh kebanyakan kita, yaitu berdamai dengan diri sendiri. Ratu Shima, pemimpin Kerajaan Kalingga 674-695 Masehi), dikenal sebagai sosok pemimpin perempuan yang tegas. Ia memerintah Kerajaan Kalingga untuk menggantikan suaminya, Raja Kartikeyasinga, yang wafat pada 674 Masehi. Mempunyai ucapan yang terkenal sampai hari ini, beliau mengatakan: Pada akhirnya orang yang paling tenang hidupnya adalah dia yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri…. “

Tampaknya ucapan bijak itu memang sulit sekali dilakukan,. Ini terbukti inti persoalan konflik itu ada pada ego yang berlebihan, sehingga membuat orang menjadi gelap mata dan gelap hati, sehingga membuat garis yang tidak sama dengan dirinya atau kelompoknya adalah musuhnya, dan harus dihabisi, paling tidak diposisikan sebagai rival sepanjang masa. Akibat lanjut: semua yang diperbuat oleh mereka yang di luar kelompoknya, semua salah, semua tidak benar, dan yang paling benar adalah miliknya. Rasa super-ego kolektif inilah dahulu yang menyebabkan Perang Dunia meletus. Akankah itu berulang? Kita simak saja skenario keilahian yang sedang berjalan.

Konflik tidak selamanya merugikan. Konflik terkadang diciptakan agar terjadi persaingan, guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ambil contoh Hiler dalam mengendalikan organisasinya terkenal dengan menggunakan pendekatan koflik, sehingga semua jenderal bawahannya dibuat tergantung pada tangannya. Konsep damai pada Hitler adalah bagaimana mengendalikan dan memelihara konflik agar tidak menjadi perpecahan karena pertikaian.

Jika kita ingin lebih jernih melihat atau menyimak segala persoalan, kita dapat memperhatikan peringatan orang bijak yang mengatakan: “Kalau Anda ingin mengumpulkan madu, jangan tendang sarang lebahnya.” Ujaran bijak ini menunjukkan bahwa mengedepankan rasa bijak dalam memandang segala persoalan adalah sikap kedewasaan sempurna bagi seseorang. Oleh karena itu, berdamai itu hakikatnya adalah bukan melupakan, karena yang dimaafkan adalah kesalahannya bukan masalahnya.

Jadi orang yang memaafkan belum tentu bisa melupakan masalahnya. Memaafkan itu sesuatu yang mudah dilakukan Yang sulit adalah melupakan yang terjadi jika itu melukai hati dan harga diri. Atas dasar itulah berdamai dengan diri sendiri seperti diungkapkan di atas adalah upaya yang memerlukan kelegowoan pribadi.

Selamat ngopi pagi!