Beranda Teras Berita Perang Puisi: Kampanye Membakar Capres

Perang Puisi: Kampanye Membakar Capres

255
BERBAGI

Slamet Samsoerizal*

Ciri khas kampanye para juru kampanye parpol dan capres kita ialah menyindir, menghujat, dan merasa hanya parpolnya, sosok caleg dan capresnya yang paling hebat daripada pesaingnya. Tak ayal, gesekan dan benturan pun terjadi. Zaman Orde Baru, konflik suasana kampanye tak jarang menimbulkan aksi konflik fisik. Fanatisme parpol pun menjadi anutan massa.

Sindir-menyindir, terutama dilakukan ketika kampanye di depan massa simpatisan dan ditayangkan media massa. Hasilnya, hujat-menghujat terjadi. Seiring perkembangan zaman, peran media massa sosial, seperti twitter dimanfaatkan para politisi untuk menyuarakan kampanyenya.

Sindir-menyindir juga dilakukan oleh dua parpol besar yang mengusung capres. Sosok capres yang diunggulkan tentu tak rela jika diusik keberadaannya. Perang panggung, perang spanduk, perang orasi pun dinyalakan. Belakangan bahkan, situs parpol, facebook dan twitter pun dimaksimalkan demi aksi ini. Inilah fenomena baru- yang terjadi.

Dua parpol: Gerindra dan PDIP melalui dua tokohnya menabuh genderang perang lewat puisi. Dua tokoh yang dimaksud adalah Fadli Zon dari Gerindra dan Fachmi Habcyi dari PDIP.

Sebagaimana kita ketahui, dua sosok capres usungan Gerindra: Prabowo Subianto dan usungan PDIP: Jokowi menurut kabar, selalu saja mencoba menarik simpati melalui beragam tampilan. Jokowi yang senang blusukan sejak menjabat Gubernur DKI Jakarta dan dianggap “boneka”-nya para petinggi PDIP sering menerima cemooh dari pihak pesaingnya. Demikian pula, tampilan genit mantan danjen Kopassus, capres unggulan Gerindra pun dijadikan olok-olok.

Fadli Zon, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, melalui akun twitternya @fadlizon pada Sabtu (29/3) mem-posting  dua puisi. Puisi pertama, berjudul “Air Mata Buaya” dan puisi kedua berjudul “Sajak Seekor Ikan”.

Agaknya “Sajak Seekor Ikan” yang memaparkan tentang seekor ikan akuarium yang dibeli dari tetangga sebelah dan berwarna, kerempeng dan lincah lebih merupakan puisi metafora ironi yang ditujukan kepada capres usungan PDIP. Berikut isi lengkap puisi tersebut!

Seekor ikan di akuarium kubeli dari tetangga sebelah 
Warnanya merah Kerempeng dan lincah 
Setiap hari berenang menari 
Menyusuri taman air yang asri 
Menggoda dari balik kaca 
Menarik perhatian siapa saja 
Seekor ikan di akuarium 
Melompat ke sungai bergumul di air deras 
Terbawa ke laut lepas 
Di sana ia bertemu ikan hiu, paus dan gurita 
Menjadi santapan ringan penguasa samudera

 29 Maret 2014.

Kemudian puisi Fadli Zon berikutnya berjudul “Air Mata Buaya”. Inilah selengkapnya!

Kau bicara kejujuran sambil berdusta 
Kau bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura 
Kau bicara nasionalisme sambil jual aset negara 
Kau bicara kedamaian sambil memupuk dendam 
Kau bicara antikorupsi sambil menjarah setiap celah 
Kau bicara persatuan sambil memecah belah 
Kau bicara demokrasi ternyata untuk kepentingan pribadi 
Kau bicara kemiskinan di tengah harta bergelimpangan 
Kau bicara nasib rakyat sambil pura-pura menderita 

Puisi Fadli Zon ini merupakan bentuk sindiran terhadap elit PDIP dan Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres dari PDIP. Kiat Zon menyindir Jokowi melalui puisi, juga dikaitkan dengan puisi “Boleh Bohong Asal Santun” yang ditulis dan dibacakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, ketika berkampanye terbuka Partai Gerindra di Gelora Bung Karno pada 23 Maret 2014. Puisi ini dianggap oleh banyak kalangan sebagai sindiran Prabowo terhadap Jokowi. Puisi itu selengkapnya adalah

Boleh bohong, asal santun
Boleh nipu, asal santun
Boleh curi, asal santun
Boleh korupsi, asal santun
Boleh ingkar janji, asal santun
Boleh jual negeri, asal santun
Boleh menyerahkan kedaulatan bangsa, asal santun

Sehari usai “Sajak Seekor Ikan” tayang,  Fachmi Habcyi, caleg PDIP dari daerah pemilihan Kota Bogor – Kabupaten Cianjur membalas puisinya Fadli Zon dengan puisi yang diberinya judul “Pemimpin Tanpa Kuda”.
Di bawah ini kutipan lengkap puisi Fachmi Habcyi tersebut!

Masa kompeni telah berlalu lama
Tak ada jarak rakyat dan centeng
Masa perang telah berganti damai
Tak ada jarak prajurit dan panglima
Masa gagah-gagahan telah tak laku
Tak ada jarak manusia dan manusia
Kejantanan telah berubah
Tak ada amarah dipunggung kuda
Bung Karno blusuk Cipagalo beralas nestapa
Temukan Marhaen tanpa asa
Pemimpin tak perlu kuda
Rakyat tak suka gaya
Cukup Tuhan Punya Kuasa

Cianjur, 30 Maret 2014

Puisi tersebut ditulis Fachmi saat mendampingi Jokowi bersilaturahmi ke rumah Umi Sepuh di Cianjur. Ketika dikonfirmasi wartawan, Fachmi berkomentar “Maksud dari puisi saya, adalah sekarang ini yang dibutuhkan pemimpin yang tidak membangun jarak dengan rakyat yang dipimpinnya.”

Akankah perang puisi bersemangat kampanye tersebut, mampu membakar jiwa ksatria capres yang kita usung? Ataukah malah menyeretnya pada hujat-menghujat tak tentu rimba? (Eh, rimba kita sudah banyak yang gundul dan terbakar ya?). Tabik!

* peneliti pada Pusat Kaji Darindo 
Loading...