Beranda News Kabar Desa Percepat Peningkatan Ekonomi Desa, Kemendes Lakukan Tata Produk Unggulan

Percepat Peningkatan Ekonomi Desa, Kemendes Lakukan Tata Produk Unggulan

44
BERBAGI
Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo berdiskusi dengan Pengurus Nasional Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia (WAMTI), Jumat (29/7).

TERASLAMPUNG.COM — Banyaknya desa yang menghasilkan produk unggulan hanya dalam skala kecil membuat Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi membuat terobosan dengan menata produk unggulan desa.

“Banyak produk unggulan saja tidak cukup. Harus ada tata produk unggulan desa agar membantu mempercepat peningkatan ekonomi desa,” kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo di Jakarta, Kamis (4/8).

Menurut Eko, produksi produk dalam skala kecil tersebut, justru akan memperpanjang rantai distribusi dan berdampak pada tingginya biaya transportasi.

“Saat berkunjung ke desa, saya lihat ada yang menanam jagung, tapi sekupnya kecil-kecil. Ada yang menanam bawang tapi hanya beberapa dan hanya kecil-kecilan. Yang seperti ini kurang nilainya. Bisa kan kita buat, satu atau dua desa dikombinasikan produk unggulannya apa, kita fokus pada produk tersebut dan buat dalam skala besar,” ujarnya.

Menteri Eko mencontohkan, beberapa desa yang memiliki potensi jagung, masyarakatnya diarahkan untuk fokus dan konsisten menanam dan produksi jagung. Dengan begitu, akan mempermudah distribusi dan meningkatkan daya tarik konsumen.

“Ini tidak, kadang masyarakat kita ini tidak konsisten. Kadang menanam kedelai, kadang menanam bawang, ini sulit berkembang,” terangnya.

Menteri Eko melanjutkan, hasil produksi desa dalam jumlah besar, dapat disimpan ataupun diolah melalui sarana pasca panen. Dengan begitu, kualitas produk seperti halnya hasil panen pertanian dapat terjaga dengan baik.

“Kalau hasil panen padi misalnya, jumlahnya sangat banyak dan melebihi kebutuhan warga, dapat disimpan dulu di sarana pasca panen agar harga tidak merosot. Sebaliknya, di saat panen padi mulai langka, padi yang disimpan tadi bisa didistribusikan agar harga tidak terlalu melonjak naik. Ini menguntungkan petani, tapi juga menguntungkan konsumen,” ujarnya.

Meski demikian Menteri Eko mengaskui, masing-masing desa memiliki potensi dan ciri khas berbeda. Untuk itu, perlu adanya kerjasama dari Pemerintah Daerah, Media Massa dan NGO, untuk memberikan informasi mengenai pengembangan ekonomi yang cocok diterapkan desa.

“Kita harus benar-benar merancang desa-desa ini mau dijadikan apa. Karena ada yang potensinya di wisata, perikanan, peternakan, meskipun mayoritas di agriculture,” ujar Menteri Eko.