Beranda Ekbis Bisnis Percepat Revitalisasi Tambak, Petambak Dipasena Kembali Beli Dua Ekskavator

Percepat Revitalisasi Tambak, Petambak Dipasena Kembali Beli Dua Ekskavator

759
BERBAGI
Dua alat berat yang dibeli para petambak Dipasena secara swadaya. (Foto: Ist)

Teraslampung.com — Meski sempat dipusingkan oleh turunnya harga udang beberapa waktu yang lalu,  semangat ribuan petambak di Bumi Dipasena, Kecamatan Rawajitu, Kabupaten Tulangbawang, tidak pernah surut. Mereka kini makin giat melakukan revitalisasi tambak secara mandiri. Salah satunya dengan memperbaiki areal pertambakan, mengeruk lumpur, dan memperpaiki jalan.

Program revitalisasi mandiri yang dicanangkan oleh para petambak pada 30 September 2013 lalu itu kini telah mendapatkan hasil yang cukup signifikan. Setidaknya  mereka kini telah memiliki 4 unit excavator, 3 unit ponton dan melakukan perbaikan jalan Poros Rawajitu secara berkala.

Revitalisasi mandiri mereka lakukan setelah para petambak tersebut tidak bekerja sama lagi dengan PT AWS (anak perusahaan PT CP Prima) menyusul terjadinya konflik yang berlarut-larut.

Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW), Nafian Faiz, mengatakan untuk melakukan revitalisasi tamba para petambak iuran untuk membeli alat berat (ekskavator). Setelah beberapa bulan lalu satu ekskavator berhasil mereka beli dari hasil iuran, kini para petambak kembali membeli satu unit ekskavator.

“Kami menargetkan bisa punya 8 unit excavator, 1 unit greder dan 8 ponton untuk mempercepat revitalisasi mandiri dan pembangunan infrastruktur di Bumi Dipasena,” kata Nafian Faiz kepada teraslampung.com, Minggu (13/9/2014) .

Menurut Nafian, untuk membeli alat berat itu para petambak iuran dengan cara menyisihkan uang Rp 1.000 untuk tiap kilogram udang yang terjual saat panen. Pendanaan Program revitalisasi mandiri yang sering disebut oleh petambak sebagai “Investasi Rp1000”  ini telah berhasil mengumpulkan dana hingga 10 miliar lebih.

Nafian  mengatakan, pembelian alat berat secara swadaya dan revitalisasi tambak secara mandiri merupakan bukti bahwa petambak udang di Bumi Dipasena mampu bangkit dan mengelola areal pertambakan terbesar di Asia Tenggara itu secara mandiri.

Dengan kebersamaan, kata Nafian, kini para petambak mandiri di Bumi Dipasena tidak perlu tergantung lagi pada perusahaan.

Loading...