Beranda Hukum Kriminal Percobaan Pembunuhan Direktur Walhi NTB, Polisi Diminta Usut Tuntas

Percobaan Pembunuhan Direktur Walhi NTB, Polisi Diminta Usut Tuntas

388
BERBAGI
Rumah tampak depan dengan pagar yang masih utuh, tidak ditemukan tanda tanda kerusahakan pada gerbang masuk rumah Direktur Walhi NTB.

TERASLAMPUNG.COM — Rumah Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi (Walhi) Nusa Tenggara Barat (NTB), Murdani, dibakar orang tak dikenal,  Senin dini hari, 28 Januari 2018 sekitar pukul 03.00 Wita. Pembakaran rumah Murdani diduga merupakan upaya percobaan pembunuhan terhadap keluarga Murdani terkait aktivitas Murdani selama ini.

Api membakar habis rumah dan mobil Murdani. Beberapa pintu rumah ikut dibakar, diduga agar korban dan keluarga tidak dapat meloloskan diri. Beruntung, warga cepat mengevakuasi Murdani dan keluarga dari kobaran api.

Menurut Murdani, rumahnya di Desa Bagu, Lombok Tengah diduga kuat dibakar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pasalnya selama ini dirinya intens menyuarakan kepentingan lingkungan hidup, salah satunya aktivitas pertambangan di lingkup Provinsi NTB. Bahkan baru-baru ini Murdani mengaku mendapatkan intimidasi dari seseorang.

“Dugaannya dilakukan oleh oknum pengusaha tambang yang bermasalah dan dikritisi oleh WALHI NTB,” Kata Murdani di NTB, Kamis,  31 Januari 2019.

Kabid Humas Polda NTB, Komisaris Besar Polisi Komang Suartana, mengatakan polisi saat ini polisi sedang mengumpulkan bukti-bukti dan meminta keterangan saksi saat kejadian.

“Nanti kami cek  apa ada informasi (ancaman pembunuhan). Polres Lombok Tengah masih mengumpulkan bukti-bukti, saksi-saksi atas kebakaran tersebut. Kalau ada unsur kesengajaan saya yakin ditemukan bukti di TKP (tempat kejadian perkara),” ujarnya.

Polisi juga telah mengindikasi adanya unsur kesengajaan di balik kebakaran tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, polisi menduga rumah tersebut memang sengaja dibakar.

“Indikasi ada ke sana (ancaman pembunuhan), tetapi masih diproses Polres Lombok Tengah. Kalau api cepat membesar berarti ada lemparan semacam minyak,” katanya.

Titik api kedua di depan pintu utama masuk rumah Direktur Walhi NTB, dengan bukti adanya sisa sisa kain (Foto: Istimewa)

Polisi juga berencana akan menurunkan Tim Forensik untuk mengungkap kasus tersebut.

“Kami memang akan melibatkan forensik untuk mencari bukti-bukti, saksi-saksi. Forensik akan diturunkan, karena mengandung minyak atau gas ahlinya yang menangani,”katanya.

Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Wahyu Wagiman, api yang menyala sekitar 45 menit di rumah milik Ketua WALHI NTB, sangat memungkinkan terjadi akibat dia kerap mengkritisi masalah lingkungan di NTB.

“Kejadian yang menimpa Murdani merupakan bentuk pelanggaran HAM serius terhadap pembela HAM atas lingkunganm,” ujarnya melalui rilis yang dikirimkan.

Dia meminta polisi untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan mencari aktor yang terlibat di balik kebakaran tersebut.

Jaringan NGO Mengecam Keras

Terkait teror dan upaya pembunuhan terhadap keluarga Direktur Walhi NTB, jaringan NGO di Indonesia mengecam keras aksi tersebut dan meminta polisi mengusut tuntas kasus tersebut.

Walhi , Ammesty Internasional, YLBHI, Human Right Watch, Kiara, ICEL-YPII, HuMa, dan 14 NGO di Lampung yang terdiri atas Walhi Lampung, LBH Bandar Lampung, PBHI Lampung, KBH Lampung, Mitra Bentala, WANCALA, Kawan Tani, PKBI Lampung, ELSAPA, YASADHANA, SP Sebay Lampung, Matala Lampung, Poltapala Polinela, Mapala Ardenaswari, dan Masapala AKL secara tegas menuntut negara dalam hal ini Presiden untuk menjadikan pembakaran yang diduga sebagai upaya terencana untuk menghilangkan nyawa Murdani dan keluarganya.

Mereka berharap kasus kekerasan terhadap Murdani sebagai kekerasan terakhir yang terjadi kepada pejuang lingkungan hidup dan pembela HAM lainnya.

“Kami meminta ada Kepolisian Republik Indonesia khususnya Kapolda NTB untuk segera mengusut, menangkap dan mengungkap motif kejadian pembakaran yang patut diduga direncanakan untuk membunuh Murdani dan keluarganya,” kata Direktur Walhi Lampung, Hendrawan.

Selain itu, Hendrawan mengatakan pihaknya juga meminta Kepolisian Republik Indonesia dan pihak terkait untuk segera melakukan tindakan perlindungan dan pemulihan atas kerugian materil dan psiskis yang dialami Murdani, keluarganya serta WALHI NTB dari berbagai upaya tindak kekerasan;

“Kami mendesak Presiden untuk segera melakukan tindakan progresif secara menerbitkan kebijakan dan implementasi peraturan dan kebijakan khusus yang memberikan jamian dan perlindungan dalam melindungi warga negara yang melakukan perjuangan untuk keselamatan lingkungan hidup kepada Pejuang Lingkungan Hidup dan Pembela HAM lainnya,” kata Hendrawan.

“Meminta kepada Presiden untuk mengehentikan keseluruhan proses penerbitan izin sekaligus serta meninjau ulang seluruh izin-izin industri ekstraktif skala besar yang ditolak oleh warga dan berpotensi mengakibatkan ancaman kepada kondisi mengancam keselamatan rakyat dan kelestarian dan keberlanjutan lingkungan hidup,” tandasnya.

Loading...