Perempuan Jadi Tema Besar dalam Cerpen-cerpen Syaiful Irba Tanpaka

Bagikan/Suka/Tweet:

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Diskusi “Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua” (foto: irwan wahyudi)

BANDARLAMPUNG—Dunia gemerlap (dugem) menjadi tema besar cerpen-cerpen Syaiful Irba Tanpaka. Inilah yang menarik dari buku kumpulan cerpen Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua. Dengan memperhatikan sosok prempuan dalam cerpen-cerpen di buku ini, di manakah letak perempuan ini di hati pengarangnya? Bagaimana (pula) posisi perempuan ketika berhadapan atau dihadapkan dengan laki-laki?

Hal itu yang mengemuka pada acara peluncuran dan diskusi buku kumpulan cerpen Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua karya Syaiful Irba Tanpaka, penerbit Siger Publisher, di Graha Kemahasiswaan PKM Unila, Jumat (6/6) malam.

Peluncuran dan diskusi yang digelar kerja sama Siger Publisher, KoBer, dan UKMBS Unila ini dimulai pukul 20.00 dan berakhir tengah malam ini. Diawali dengan pembacaan karya oleh Alexander GB, Ari Pahala Hutabarat yang diiringi music, Adolf Ayatullah Indrajaya, dan Elda UKMBS Unila.

Sementara disuksi berlangsung hangat menghadirkan para sastrawan “gaek” Lampung, yakni Iwan Nurdaya-Djafar, A.M. Zulqornain Ch., Udo Z. Karzi, Syaiful Irba Tanpaka.

Iwan Nurdaya melihat bahwa cerpen-cerpen dalam buku ini sangat kental warna kepenyairannya. Menurut Iwan, Syaiul Irba Tanpaka adalah seorang penyair, namun kali ini dia menerbitkan buku kumpulan cerpen.

“Latarbelakangnya sebagai penyair masih amat mewarnai penulisan cerpen-cerpennya yang puitis lagi bernas,” katanya.

Sementara A.M. Zulqornain mengatakan, yang menarik dari pembacaan atas cerpen-cerpen dalam buku kumpulan cerpen ini, pengarangnya—Syaiful Irba Tanpaka—seperti tidak ada beban. Cerpen-cerpennya mengalir apa adanya: ia bicara dunia malam, perselingkuhan, cinta, dan sebagainya.

“Seakan kita membaca realitas kehidupan yang ada dalam diri pengarangnya,” katanya. Itu sebabnya, Zulkarnain menambahkan, kita perlu tahu pendapat dari Syaiful soal perempuan dan dunia gemerlap yang ada dalam cerpen-cerpennya.

Sebelumnya Udo Z. Karzi menegaskan, cerpen (sastra) adalah refleksi dari kehidupan nyata. “Jadi, baca sastra itu wajib hukumnya kalau mau menjadi orang baik, orang yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan dengan bijak, dan tak mau terpeleset ke dalam lembah dosa,” kata redaktur Sastra di Lampung Post ini.

Kehidupan nyata yang dimaksud Udo Z. Karzi dan A.M. Zulqornain Ch., mendapat rangsangan dari peserta diskusi. Di antaranya penyair Yuli Nugrahani yang mempertanyakan hubungan perempuan muda dan tokoh dalam dominan cerpen Syaiful Irba Tanpaka.

Dipertegas lagi oleh Adolf Ayatullah Indrajaya. Ia meminta pengarang menjelaskan kepada publik. “Syaiful mesti menegaskan hal ini, demi ‘stabilitas negara’,” kata Adolf.

Namun, Hazwan Iskandar Jaya dan Iwan Nurdaya-Djafar melihat sebuah karya sastra ibarat ‘anak yatim’ yang tak lagi memiliki bapak bernama pengarang. “Kita lupakan hubungan karya dengan pengarang. Namun yang jelas sebuah karya sastra lahir dari realitas sosial, apakah itu dari pengalaman orang lain atau pengarangnya sendiri,” kata Iwan Nurdaya-Djafar.
 

Ari Pahala saat baca “Tubuh Kinan”

Karena anak yatim, kata sastrawan Yogyakarta asal Lampung ini, karya sastra bisa dianalisis dari berbagai sisi. “Sehingga kita tak lagi melihat realitas dalam sastra, karena seolah pengalaman pribadi pengarang jadi melekat,” kata Hazwan.

Sedangkan Ari Pahala Hutabarat menggarisbawahi cerpen-cerpen Syaiful Irba Tanpaka sebagai kepekaan pengarang terhadap persoalan sosial dan perempuan. “Namun tema sosial lebih dominan,” kata Direktur artistic Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung ini.

Dikatakan Ari, meskipun pengarang mengangkat persoalan personal (perempuan), namun menjadi persoalan sosial (publik). Dia mencontohkan, cerpen “Tubuh Kinan” adalah personal namun menjadi persoalan sosial, sebagai gambaran kemiskinan struktural.

“Cerpen-cerpen Syaiful bicara soal perselingkuhan dan perempuan, tapi di sana ada juga persoalan sosial. Saya kira inilah yang menarik, selain kelincahan bercerita, ‘ringan’ saat dibacakan,” ujar Ari Pahala Hutabarat.