Beranda Kolom Sepak Pojok Perempuan Pelindung Bumi

Perempuan Pelindung Bumi

181
BERBAGI
Hutan di Kutai Timur (dok Mongabai.com)
Virtual Product March 2019

Asarpin

Ibu saya tinggal di sebuah desa kecil di dekat kaki Gunung Tanggamus, Lampung. Di desa kami ibu saya sangat dikenal oleh penduduk sebagai perempuan gigih yang tak pernah berhenti menanam pohon. Ratusan batang pohon duren di kebun kami ia yang menanamnya. Begitu pula ribuan pohon cempaka, mulai dari menyemai sampai menanam dia lakukan sendirian dari hari ke hari dan tahun demi tahun.

Kebiasaan ini ia tularkan kepada anak dan cucunya. Saya pun sejak kecil diajak nanam pohon. Pernah ia tunjukkan beberapa pohon sebesar batang kelapa, sayalah yang menanam pohon itu. Saya lupa. Tapi beberapa pohon saya masih ingat saya menanamnya semasa SMA dan ketika selesai kuliah.

Sampai usianya yang ke-66 tahun, ibu saya masih terus menyemai bibit Pohon Cempaka dan ditanamnya di celah-celah ladang yang masih kosong, atau di pinggir sungai di celah-celah pohon kelapa yang ia pula yang menanamnya. Beberapa anaknya membangun rumah dengan kayu hasil tanaman ibu.

Tak perlu slogan “Ayo Tanam Sejuta Pohon” untuk menyelamatkan peradaban bumi ini. Kalau masing-masing orang menyadari bahwa pohon itu penting dan menjadi pasak bagi bumi, tanamlah walau satu batang. Kesadaran menanam pohon ini perlu teladan dan contoh nyata, bukan kampanye.

Dibandingkan menanam pohon, kita lebih banyak merusak habitat hutan dan menebang pohon tanpa bertanggungjawab menanam kembali.

Di Kalimantan orang ribut karena pohon terus dibabat oleh individu maupun perusahaan raksasa. Padahal kita tahu fungsi pohon bagi masyarakat Dayak di sana. Dalam pidato kebudayaannya di TIM, Karlina Supelli mengutip tradisi masyarakat adat Dayak Ngaju dan Dayak Benuaq berikut jerit perempuan dari Mahakam yang kehilangan ribuan hektare hutan sebagai penyangga kehidupan. Padahal bagi masyarakat Dayak di sana, pohon dan hutan bukan hanya sumber mata pencaharian, tetapi juga sebagai acuan hidup itu sendiri.

Di Medan kita mendapatkan kisah seorang perempuan penjaga sungai melalui novel karya Martin Aleida berjudul Jamangilak dengan tokoh teladan bernama Molek.

Lagi-lagi kisah dalam buku ini mengingatkan akan laku-hidup ibu saya yang saat mandi di sungai tangannya tak pernah berhenti membersihkan pinggir sungai dari sampah agar aliran air lancar. Kreativitas tangannya sungguh telah menjadi kebiasaan setiap kali ia mandi di kali selalu diiringi dengan membersihkan pinggir sungai dari sampah sehingga air tidak tersumbat.

Sementara Molek dalam kisah novel Martin Aleida jauh lebih politis. Perempuan ini adalah seorang ibu rumah tangga di sebuah dusun pinggiran Sungai Asahan Sumatera Utara. Sungai Asahan telah beratus-ratus tahun mengalir dengan lancar dan jernih, menjadi sumber mata air bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidupnya dari pertanian dan perkebunan. Tapi sejak perusahaan raksasa berdiri di hulu sungai itu, air mulai tercemar oleh limbah kimia berbahaya.

Molek meratap getir tatkala menyaksikan air pekat hitam mengeluarkan bau busuk menggenang di atas Sungai Asahan yang legendaris itu. “Pabrik keparat itu mambunu itti ru ngolu ni na mangolu”, teriaknya. Pabrik laknat itu telah membunuh inti hidup dan kehidupan.

Jerit para perempuan memang tak sekeras teriakan para lelaki, tapi efeknya seringkali lebih dahsyat. Namun yang agaknya perlu pula kita pertanyakan adalah: bagaimana dengan para perempuan kelas menengah perkotaan yang doyan menghabiskan uang belanja jutaan rupiah di mall-mall, yang hidup dalam budaya konsumerisme? Tidakkah mereka juga menjadi penyumbang terbesar terhadap sampah rumah tangga dan kerusakan lingkungan sungai kita?

Bukan karena saya lelaki maka mengajukan pertanyaan semacam ini di sini, tapi realitas yang keras menuntut kita baik yang di desa maupun di kota, di hutan dan di mall, untuk sama-sama melakukan emansipasi dan penyadaran akan pentingnya kearifan ekologis. Bumi cuma satu, di sini rumahku juga rumahmu……kata anak-anak Sekolah Alam menyanyikan Go Green dengan syahdu dan bergembira. Ya, bumi sangat terbatas, hanya itu-itu saja, sementara jumlah manusia penghuni bumi kian banyak. Sebagai manusia kita memikul amanah sebagai khalifah yang akan menebarkan rahmat, bukan laknat, bagi alam semesta.

Loading...