Beranda Ruwa Jurai Peringatan BBGRM Bukan Sekadar Seremoni

Peringatan BBGRM Bukan Sekadar Seremoni

203
BERBAGI
Gubernur Lampung Ridho Ficardo dalam kegiatan inseminasi buatan untuk ternak sapi di Punggur, Lampung Timur, 12 Mei 2016.

Supriyanto/Teraslampung.com

Gubernur Lampung Sjachroedin ZP melakukan inseminasi buatan pada acara peringatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat di Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, Rabu, 7 Mei 2014. (teraslampung.com/supriyanto)

PUNGGUR – Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat yang diperingati setiap tahun harus memberikan tujuan yang jelas, selama ini pemerintah pusat masih sekedar merayakan tapi tidak pernah mengolah pontensi yang ada. Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP pada peringatan ke-11 Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) tingkat Provinsi Lampung yang dipusatkan di Kecamatan Punggur Lampung Tengah, Rabu (7/5).

Menurut Gubernur, pada peringatan ini yang perlu kita tingkatkan adalah bagaimana kita menggerakkan kembali dan menghidupkan semangat gotong royong sebagai warisan nenek moyang bangsa Indonesia.

Sjachroedin mengingatkan, Bulan Bakti Gotong Royong mestinya menjadi sarana introspeksi terhadap apa yang sudah capai maupun yang belum kita lakukan dalam membangun daerah.

“Peringatan BBBGRM bukan sekadar acara seremonial,  tetapi harus mempu menggugah rasa kesatuan dan persatuan ditingkat desa.  Penilaian terhadap keberhasilan gotong royong dalam peringatan BBGRM jangan hanya sebatas mengejar pancapaian juara, tapi indikator apa yang di nilai sebagai juara, lalu pelaksanaan kegotongroyongannya seperti apa.Ini yang saya rasa kurang dipahami dan kurang dilaksanakan mulai dari pusat sampai ke daerah,” kata Gubernur.

Gubernur mengatakan masyarakat harus  membangun kebersamaan yang  melibatkan elemen masyarakat dan pemuda. Setiap masalah kita selesaikan di desa jangan semua persoalan dibawa ke bupati, untuk apa ada tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, bila tidak terlibat dalam mambangun masyarakat.

“Untuk membangun daerah tegas Gubernur, kita tidak hanya terpaku pada acara seremoni seperti ini atau kepada peraturan menteri, tetapi kita harus mempu melaksanakan kegiatan sesuai kondisi daerah. Bupati/Walikota harus mampu menginventarisasi potensi masing-masing daerah, lalu membangun sinergi dengan kabupaten lain dalam pengembangan potensi,” kata dia.

Gubernur mencontohkan, kerjasama antara Provinsi Yogyakarta dengan Kalimatan dalam pengembangan kerajinan topi. Dalam kerjasama itu kata Sjachroedin, Kalimantan menyetok bahan baku topi, sedang Jogyakarta yang melakukan finising  topi dan melakukan pemasarannya.

”Kerjasama antara kabupaten dalam mengembangkan potensi derah ini saya kira belum berjalan dengan  baik di Lampung, itulah gunanya kordinasi antar provinsi dan antar kabupaten. Yogya mampu mengekspor topi ke Malaysia, sedang Kalimantan kesulitan dalam hal pemasaran, nah ini contoh bersinergi antar daerah yang saya maksud,”tegas Gubernur.

Pada peringatan Bulan Bakti Gotong Royong ini mari kita renungi apa yang telah kita perbuat untuk membangun daerah sesuai dengan tujuan kegiatan ini. Masih banyak hal-hal yang perlu kita kordinasikan. Pembangunan bukan hanya tanggunjawab Gubernur, tapi juga tanggungjawab Bupati/walikota, karena tanggung jawab Gubernur masih tarbatas.

Diingatkan Gubernur, pada 2015 Indonesia dihadapkan kepada Asean Free Trade Area (AFTA) yakni bentuk  kerjasama perdagangan dan ekonomi di wilayah ASEAN. Pelaksanaan pasar bebas tingkat Asean ini tentunya sudah harus kita siapkan, agar kita tidak kalah bersaing. Pemerintah daerah harus menyosialisasikan tantangan ini, agar kita mampu meningkatkann produktivitas sektor pertanian dan ketahanan pangan.

”Kepala SKPD tidak lagi melakukan program pembangunan sesuai dengan program APBD, tanpa melakukan pendampingan secara maksimal, mulai dari proses peningkatan roduksi hingga pemasaran,”katanya.

Sebagai upaya peningkatan pembangunan pertanian, Pemerintah provinsi Lampung  telah membangun terminal Agrobisnis di Gayam Lampung Selatan, serta telah menendatangani kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pangan, seperti daging, ikan, sayur dan buah. Kerjasama ini tegas Gubernur, untuk membantu para petani dan petambak agar bisa lebih maju.

“Kita sudah menanda tangani MoU dengan DKI untuk pengadaan daging. Sapi dipotong dan di packing di Lampung, sehingga DKI tidak lagi dihadapkan sampah-sampah pertanian, dana untuk pengendalian sampah tersebut dapat digunakan untuk membangun coldstorage di terminal agrobisnis,”katanya.

Loading...