Perjalanan Paling Jauh dan Tempat Paling Dalam

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Menghadiri undangan reuni empat puluh lima tahun alumni, pagi itu saya menelusuri jalan bebas hambatan Sumatera mengendarai mobil tua. Pengendaranya juga tua, namun dinikmati saja. Mengenang beberapa tahun silam perjalanan itu harus ditempuh paling tidak dua belas jam, dan bisa lebih. Sementara sekarang tempuh waktu hanya sekitar empat sampai lima jam saja. Jika anak muda, atau yang berjiwa muda yang mengendarai, bisa hanya tiga setengah jam. Luar biasa anugerah ini.

Pada kesempatan lain ada teman baru pulang dari berlibur di Turki, negeri jauh yang sekarang menjadi destinasi wisata orang Indonesia. Di sana ada Selat Bosporus yang menyejarah, ada pasar tradisional kuno, Masjid Agha Sopia, Masjid Sultan, musium berisi benda benda sejarah zaman Rasullulah. Ada juga balon udara yang ditumpangi pada suhu yang sangat dingin. Masih banyak lagi wisata relegi dan sejarah. Negeri ini ditempuh dari Jakarta menggunakan pesawat terbang tidak kurang dari duabelas jam di udara. Cukup jauh ternyata.

Sebaliknya di suatu kompleks perumahan terdapat tempat ibadah umat Islam yang cukup megah, dekorasi lampu yang cukup mewah, tempat mengambil air sembahyang yang representatif, sound system yang canggih, dan masih banyak lagi fasilitas yang wah. Tetapi saat panggilah beribadah datang, ternyata ada seorang yang datang di sana. Ia yang membuka pintu, menata perlengkapan pendukung lain, dan sekaligus melakukan panggilan salat sendiri. Jeda beberapa saat , ia  mengumandangkan iqomah tanda salat di mulai. Ternyata ia langsung jadi imam. Sampai waktu selesai beliau tetap sendiri melakukan ritual peribadatan. Menyedihkan lagi jika tiba waktu zuhur, asar, dan subuh. Kejadian itu berulang. Kecuali saat magrib dan isya, terkadang ada jamaah yang mampir dari musafir yang sedang melakukan perjalanan.

Meskipun tempat ibadah itu berada di tengah kompleks umat beragama Islam, tetapi kondisinya memprihatinkan.  Ini meneguhkan apa yang dikatakan oleh mendiang Buya Hamka. “Jika kamu mau melihat orang Islam, lihatlah saat Idhul Fitri dan Idhul Adha. Jika kamu mau lihat orang muslim, lihatlah saat waktu subuh tiba,” kata Buya Hamka. Ternyata tempat paling jauh di dunia ini adalah masjid.

Di sisi lain,  kita mendapatkan informasi dari geolog yang menyatakan bahwa ada satu lubang yang di buat manusia menjadi lubang terdalam (Kompas.com). Dilansir dari Lets Talk Science, pengeboran Kola Superdeep Borehole menghasilkan sejumlah penemuan menarik. Misalnya, ilmuwan dan insinyur menemukan ada banyak air di bawah tanah. Pengeboran Kola Superdeep Borehole hingga menjadi lubang terdalam di dunia, sebagian besar, murni didorong oleh kepentingan ilmu pengetahuan. Ilmuwan Soviet ingin mempelajari lebih lanjut tentang lapisan terluar bumi, yang disebut kerak, untuk memahami bagaimana mereka terbentuk dan berevolusi.

Menurut penelitian, penggalian lubang ini dimaksudkan untuk mencapai kedalaman 14.500 meter, namun para ilmuwan dan insinyur harus menyerah ketika mereka mencapai suhu tinggi yang tak terduga. Pada kedalaman 12.626 meter, terdapat batuan berusia 2,7 miliar tahun yang memiliki suhu sekitar 180 derajat celcius. Ini hampir dua kali lebih panas dari yang diperkirakan. Suhu yang sangat tinggi tersebut merusak mata bor dan pipa. Batuan itu pun menjadi lunak sehingga para ilmuwan menggambarkan di kedalaman tersebut seperti plastik. Pengeboran akhirnya dihentikan pada tahun 1992 dan lokasi proyek ditinggalkan sekitar 10 tahun kemudian.

Lubang itu adalah secara fisik kita lihat; pertanyaan tersisa..mengapa orang mendengar panggilan waktu menghadap Sang Kholik, tidak tergerak hatinya. Ini berarti ada yang paling dalam di dunia ini yaitu “rasa”. Kedalaman rasa ini tidak ada kaitannya dengan usia, tingkat pendidikan, pengalaman, gelar akademik, bahkan kekayaan. Kedalaman rasa ini adalah misteri kehidupan yang tidak dapat didiskrepsikan oleh kalimat apapun. Dia lebih dalam dari lobang terdalam yang ada di muka bumi ini yang seperti disebutkan di atas.

Ternyata yang dekat secara kuantitatas belum tentu dekat secara kualitas. Atau dekat secara fisik bisa jadi jauh secara nonfisik (rasa). Pergulatan diri untuk mencapai kesempurnaan hidup itu antara lain bagaimana menyatukan jarak rasa, sehingga mendorong karsa untuk mendekatkan kuantifikasi dengan kualifikasi.

Pendekatan filosofis mencoba melakukannya; walaupun tidak semuanya berhasil; karena ada factor penentu lain yang di luar jangkauannya, yaitu ketentuan yang hanya dimiliki oleh Yang Maha Penentu. Faktor inilah yang memendekkan jarak, dan mendalamkan rasa pada diri manusia , sehingga menjadikan manusia sempurna dalam pengertian memiliki keterbatasan sekaligus kelebihan yang menyatu. Inilah salah satu pintu, diantara pintu pintu lain menuju kesempurnaan hidup menuju jalan Sang Khalik karena ketentuanpintu mana yang akan kita lalui, itu adalah hak prerogratif dari Yang Memiliki Hidup.

Selamat menyeruput kopi pagi di penghulu hari.

 

 

You cannot copy content of this page