Beranda Views Jejak Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (1)

Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (1)

577
BERBAGI
Baju besi Radin Inten II kini disimpan di Rimah Balak Keratuan Darah Putih, Lampung Selatan (Foto: Teraslampung.com/Zainal Asikin)

VOC awalnya Hanya Mengincar Rempah-Rempah, Akhirnya Mau Mengusai Lampung

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN-Pulau Sumatera salah satunya Provinsi Lampung merupakan daerah yang kaya akan hasil rempah-rempahnya, sehingga membuat daya tarik bagi organisasi perdagangan milik Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC) kala itu.

Belanda melalui pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, pada 22 November 1808 berdagang dan mencari rempah-rempah di Lampung. Namun mereka justru berusaha menguasai daerah ini (Lampung) dengan cara memaksa dengan menghapuskan hak kekuasaan Kesultanan Banten. Hal itu menimbulkan perlawanan dari Keratuan Darah Putih di Lampung. Selain Rain Inten I dan Radin Imba, tokoh Keratuan Darah Putih yang gigih menentang Belanda adalah Radin Inten II.

Untuk mengurai jejak perjuangan Radin Inten II, Teraslampung.com menemui anak keturunan Radin Inten di rumah tua (Lamban Balak), sebuah peninggalan sejarah di Desa Kuripan, Penengahan, Lampung Selatan,belum lama ini.

Teraslampung.com ditemui seorang lelaki paro baya yang mengenakan pakaian batik dan songkok (peci) khas adat Lampung. Dia adalah Budiman Yaqub gelar Khadin Kusuma Yuda yang juga seorang budayawan dan sejarawan Lampung Selatan.

BACA: Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (2)

Budiman Yaqub menceritakan sejarah awal mula perjuangan keturunan Ratu Darah Putih yang berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah lampung, dikisahkannya pada abad 13 hingga 17, Lampung merupakan daerah penghasil lada di samping Semenanjung Melayu (Riau) dan Minangkabau, Sumatera Barat.

Pada abad tersebut, perdagangan lada di Lampung berada dibawah kekuasaan Kesultanan Banten. Hal tersebut tercantum dalam sebuah piagam bernama Dalung Kahuripan. Isi dalam piagam tersebut adalah, “Maka Lami-Lami Ratu Darah Putih Iku Ing Banten MaI Nya KuI Lampung, Anjeneng Akan Pangeran Sabakingking Ngadekaken Ratu”.

“Isi dalam piagam tersebut memiliki perjanjian yang sangat kuat antara Lampung dengan Banten, karena Pangeran Sabakingking atau Sultan Hasanuddin dari Banten merupakan saudara tertua lain ibu dengan Minak Gejala Ratu atau Muhammad Aji Saka sebagai pemimpin Keratuan Ratu Darah Putih di Desa Kahuripan, Penengahan, Lampung Selatan,”ujarnya kepada teraslampung.com.

Perlawanan Keratuan Ratu Darah Putih terhadap penjajah Belanda, kata Budiman, pertama dilakukan oleh Radin Inten I (1751-1828). Radin Inten I merupakan anak tertua dari Keratuan Ratu Darah Putih, Muhammad Aji Saka dan Tun Penatih, dan sebagai pewaris tahta sebagai Ratu (Raja) dari Keratuan Ratu Darah Putih atau Negara Ratu yang berpusat di Desa Kahuripan yang sekarang ini masuk di wilayah Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

Bagi Belanda yang kala itu melalui pemerintahan Gubernur Jenderal H.W. Daendels, menganggap Radin Inten I sebagai orang yang keras kepala dan tidak mau menuruti apa yang diperintah Belanda. Bahkan Radin Inten I menentang keras semua kebijakan yang dibuat oleh Belanda, seperti melakukan monopoli perdagangan hasil rempah-rempah dan adanya misi lain yang ingin mengkristenisasikan rakyat Lampung yang kala itu sudah memeluk agama islam.

“Atas sikap keras Radin Inten I itu, Belanda marah dan berupaya mencari kelemahan Radin Inten I sebagai Ratu di Keratuan Ratu darah Putih. Namun Belanda bersikap lunak mengakui kekuasan Radin Inten I, sebagai pemimpin di Keratuan Darah Putih dengan berusaha membujuk Radin Inten I untuk diajak bekerjasama,”bebernya.

 

Loading...