Beranda Views Jejak Perjuangan Radin Inten II Melawan Penjajah Belanda (1)

Perjuangan Radin Inten II Melawan Penjajah Belanda (1)

643
BERBAGI
Patung Radin Inten II di Kompleks Permakaman Radin Inten II

Zainal Asikin |Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Radin Inten II dengan Gelar Kesuma Ratu  lahir pada tahun 1834. Ia terkenal sebagai pemuda yang tangguh, cerdas, dan gagah berani menentang penjajah Belanda di tanah Lampung. Radin Inten II yang merupakan putra tunggal Radin Imba II yang dilahirkan dan dibesarkan oleh Ibunya, Ratu Mas,  dan keluarganya di tengah hutan.

Ihwal ini belum banyak terungkap ke publik.  Banyak warga Lampung yang tidak tahu bahwa masa kecil dan remaja Radin Inten II penuh dengan rahasia. Mengapa harus dirahasiakan? Kisahnya teramat panjang. Dan itu berkaitan dengan perjuangan Radin Imba II dan keluarga besarnya di Keratuan Darah Putih melawan Belanda.

Pada usianya yang masih sangat muda (22 tahun) Radin Intan II gugur di tangan tentara Belanda. Hingga akhir hayatnya, pemuda gagah berani yang tidak sudi takluk kepada Belanda itu belum (tidak) menikah.

BACA: Perjuangan Radin Inten II Melawan Penjajah Belanda (2)

Radin Intan II merupakan putra tunggal dari Raden Imba II yang dilahirkan dan dibesarkan oleh Ibunya, Ratu Mas dan keluarganya ditengah hutan dan dengan penuh kerahasiaan. Sedangkan Raden Imba II adalah putra Radin Inten I.

Berdasarkan silsilah, Radin Intan I adalah keturunan dari dari Ratu Darah Putih, Minak Gejala Ratu atau Muhammad Aji Saka putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di Keratuan Pugung, Lampung Timur sekitar abad 15.

Dari sini diketahui bahwa Radin Inten II masih keturunan langsung Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang menjadi penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Sunan Gunung Jati dan delapan wali lain terkenal dengan sebutan Wali Songo (Sembilan Wali).

 

Meneruskan Perjuangan Ayah

Salah satu senjata Radin Inten II (Foto: Teraslampung/Zainal Asikin)

Radin Inten II meneruskan kepemimpinan ayahandanya, Radinm Imba II, di Keratuan Ratu Darah Putih. Ia pun melanjutkan perlawanan mengusir penjajah Belanda di tanah Lampung.

BACA: Perjuangan Radin Inten II Melawan Penjajah Belanda (3)

Kepada Teraslampung.com, belum lama ini, Budiman Yaqub gelar Khadin Kusuma Yuda, anak keturunan Radin Inten yang juga seorang budayawan dan sejarawan Lampung Selatan, berkisah panjang lebar tentang Keratuan Darah Putih dan perjuangan melawan penjajah Belanda.

Sembari duduk santai di kursi ruang tengah Lamban Balak atau rumah peninggalan sejarah Keratuan Ratu Darah Putih, Budiman Yaqub megisahkan bahwa Radin Inten II dilahirkan ibunya di tengah hutan pada tahun 1834 saat Benteng Raja Gepeh jatuh ke pemerintahan Belanda.

Semasa kecil, Radin Inten II diliputi suasana perang melawan Belanda dan sekutu-sekutunya. Pada saat itu, Keratuan Darah Putih di bawah Perwalian Dalom Mangku Bumi dan sedang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Pada tahun 1850, saat Radin Inten II berusia 15 tahun, Radin Inten II dinobatkan sebagai penerus Radin Imba II. Radin Inten II dipercaya meneruskan tahta kepemimpinan dengan dinobatkan sebagai Ratu (Raja) di Keratuan Darah Putih atau Negara Ratu. Penobatannya dilakukan oleh seorang ulama dari Banten bernama H. Wakhia, disaksikan oleh para pengikut dan rakyat Lampung.

Sejak saat itulah Radin Inten II mulai menyusun segala sarana dan prasarana yang telah rusak akibat perlawanan kakek dan ayahnya melawan penjajah Belanda.

BACA: Perjuangan Radin Inten II Melawan Penjajah Belanda (4)

“Radin Inten II memperbaiki benteng-benteng yang rusak akibat perang dan membangun kembali benteng yang baru, seperti benteng Galah Tanoh, Pematang Sentok, Kahuripan dan Salaitahunan. Semua benteng tersebut, dilengkapi dengan parit yang dalam dan terowongan rahasia. Sedangkan untuk mengenai persenjataan, masih sangat sederhana seperti keris, badik, pedang, meriam kecil dan besar,”ujarnya kepada teraslampung.com.

Selain itu juga, Radin Inten II membentuk pasukan yang mana pasukan-pasukan tersebut dibagi menjadi beberapa unit-unit kecil yang terdiri dari 40 orang yang dipimpin oleh seorang komandan prajurit. Sarana lain yang dipersiapkan seperti dapur umum atau pejunjungan, yakni untuk menopang pasukan yang berjuang melawan penjajah Belanda.

Lalu pemerintahan disusun dengan menetapkan empat Marga Ratu dan pemerintahannya dibagi menjadi empat Paksi, yang dikepalai oleh seorang berpangkat Kario. Masing-masing Paksi tersebut, dibagi menjadi empat Pekon dan masing-masing Pekon dipimpin seorang Temenggung.