Perkara Istilah “Kerja” Itu, Tuan Presiden…

  • Bagikan

Willy Pramudya

Tuan Presiden, memilih para menteri itu merupakan hak konstitusional Anda. Demikian juga memilih nama kabinet. Tak ada soal di sana. Dan saya tak merasa perlu menjadi nyinyir. Tapi soalnya adalah apa yang Tuan maksud dengan Kabinet Kerja? Apakah semboyan “kerja, kerja, kerja!” yang Tuan sebut-sebut berarti “produksi, produksi, produksi!”?

Kalau itu yang dimaksud, mohon waspada kiranya. Sebab, sependek pengetahuan dan naluri saya itu tak hanya akan menjadi perkara yang bisa membawa Tuan menjadi bagian dari mereka yang disebut kelompok pro bahkan penganut fundanentalisme pasar. Ia bisa menempatkan Anda sebagai presiden yang tunduk bersimouh kepada kuasa modal sebagaimana ditunjukkan dengan sempurna oleh presiden sebelumnya. Umumnya pilihan seperti itu akan mengabaikan perkara “distribusi, distribusi, distribusi!” dan lazimnya mempersetankan pemerataan.

Di era rezim penguiasa tempo hari,  terbukti bahwa pertumbuhan yang membuat negeri ini dan presidennya dipuja-puji kalangan penjual utang dunia hanya mengalir ke 44 juta orang. Negeri ini menghadapi permasalahan ketimpangan ekonomi dan kemiskinan. Gini ratio lima tahun terakhir naik dari 0,37% menjadi 0,413%. Porsi kekayaan 43 ribu orang terkaya (0,02% dari total penduduk) mencapai 25% PDB. Sekitar 40 orang terkaya Indonesia menguasai 10,3% PDB atau setara kekayaan 60 juta penduduk Indonesia termiskin. Dan sejumlah menteri Anda yang duduk di posisi-posisi kunci sependek pengamatan saya terimndikasi menganut fundamentalisme pasar.

Saya tak menghendaki Tuan melakukan sebaliknya tanpa mendorong produktivitas. Tapi ketika Tuan mengatakan “kerja, kerja. kerja” adalah demi terealisasinya ajaran “Trisaksti” maka Tuan harus menunjukkan bahwa Tuan tidak sedang hendak membuat perubahan melainkan sedang melakukan pembaruan atas kerusakan parah selama ini.

Catatan saya, Tuan Presiden: perubahan tak serta merta menghadirkan kemajuan. Sementara kemajuan sudah pasti mensyaratkan perubahan. Dan bagi saya kemajuan itu cukup dua saja. Secara kebudayaan berarti kita bergerak maju dan secara keadilan berarti setiap orang semakin kesejahteraan hidupnya semakin meningkat.

Kalau seorang menteri Anda kelak tak menunjukkan itu, kiranya Tuan perlu segera memerahi rapornya dan kalau suidah diberi kesempatan ya dimohon istitrahat saja– meski sebagian dari mereka adalah kami kenal dengan baik sebagai kawan. Salam Kerja! WP

  • Bagikan