Perkebunan Tebu Rakyat Masih Potensial Dikembangkan di Lampung Tengah

Bagikan/Suka/Tweet:

Supriyanto/Teraslampung.com

Kebun tebu dengan pola kemitraan. (Teraslampung/Supritanto).

GUNUNGSUGIH – Kebutuhan gula konsumsi secara nasional, cenderung bertambah dari tahun ke tahun seiring meningkatnya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan pertumbuhan industri makanan dan minuman. Untuk memenuhi kebutuahn tersebut, pemerintah terpaksa mengimpor gula, yang tentu saja akan memberikan keuntungan kepada para mafia importir gula.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lampung Tengah Nasir A.T, keinginan pemerintah untuk swasembada gula patut di dukung. Namun demikian, kata Nasi, keinginan swasembada tanpa diimbangi dengan penambahan luasan tanaman tebu, tentu akan sulit bisa dicapai.

“Penambahan luasan dengan program tebu rakyat jangan hanya sebatas gerakan sesaat, dengan harapan terbangun kemitraan antara perusahaan gula dengan petani. Untuk mendukung peningkatan produksi gula nasional, pemerintah harus melakukan sebuah gerakan nyata dan berkelanjutan di daerah yang potensial bagi pengembangan tanaman tebu di luar Jawa,” kata Nasir, Rabu (16/9).

Nasir mengatakan, sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam meningkatkan swasembada gula, pemerintah Provinsi Lampung telah menetapkan Lampung Tengah sebagai sentra pengembangan tebu rakyat.

Penetapan tanaman yang menjadi unggulan tersebut, tentunya sesuai potensi Lampung Tengah sangat potensial bagi pengembangan komoditas tebu rakyat.

”Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah sangat mendukung program tebu rakyat ini. Apa lagi lahan untuk pengembangan tebu masih tersedia cukup luas,”kata Nasir.

Dia berharap pengembangan tebu rakyat di Lampung Tengah tidak hanya sebatas produk hulu saja, yakni petani menanam tebu lalu di jual ke pabrikan, tetapi juga terbangun produk hilir yang akan lebih meningkatkan pendapatan petani.

”Saat ini kita baru menggalakkan petani mau menanam tebu, dengan harapan petani bisa merasakan keuntungan dari menanam tebu. Sedang, untuk membangun produk hilir butuh waktu dan butuh proses, tidak bisa serta merta,”katanya.

Tahun ini kata dia, sudah terdapat 11 kelompok tani yang mengembangkan tanaman tebu dengan pola kemitraan dengan luas mencapai 1.000 hektare, terdiri dari 500 hektare rawat ratun dan 500 hektare perluasan areal.

Rawat ratun adalah tanaman yang sudah ada dilakukan pemeliharaan. Sedang 500 hektare merupakan perluasan areal berupa penambahan areal, luasan areal ini merupakan milik masyarakat bukan punya perusahaan.

”Sejak ada kerjasama kemitraan yang disepakati, tahun ini tanaman baik yang rawat ratun maupun penambahan luasan areal sudah tebang atau panen. Jumlah ini akan terus tingkatkan, bila tanam tahun ini bisa memberikan keuntungan bagi petani,”katanya.

Bila petani benar-benar sudah menguasai teknologi budidaya tebu dan luasan tanam terus meningkat, tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah akan membangun pabrik gula skala kecil. Terkait dengan program tebu rakyat ini,

Nasir berharap, pemerintah pusat benar-benar memberikan dukungan maksimal, dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.

”Bila program tebu rakyat di dukung optimal oleh pemerintah pusat, kami yakin pengembangan tebu rakyat di Lampung Tengah akan meningkat, bahkan bisa jadi komoditas tebu juga akan menjadi ikon Lampung Tengah, selain padi, ubi kayu dan sapi,”katanya.

Namun demikian, pemerintah daerah tidak akan serta merta merekomendasikan petani menanam tebu. Hal ini tentu didasarkan kesesuaian potensi yang dapat dikembangkan di setiap wilayah. Di wilayah yang cocok untuk tanaman padi atau singkong tentu tidak akan diizinkan bagi pengembangan tanaman tebu.

Pemkab Lamteng telah melakukan pemetaan wilayah potensi, sesuai peruntukan pengembangan komoditas. Jadi tidak semua wilayah bisa di tanami tebu, hal ini untuk menjaga kestabilan produksi padi dan singkong yang sudah menjadi unggulan Lampung Tengah.

”Potensi lahan untuk pengembangan tanaman tebu rakyat masih cukup luas, termasuk untuk komoditas pangan lainnya tergantung keseriusan pemerintah pusat dalam menyuport pengembangan komoditas tebu,”katanya.