Beranda Kolom Kopi Sore Perlukah Deklarasi Telolet?

Perlukah Deklarasi Telolet?

270
BERBAGI

Oyos Saroso HN

Sastrawan kita, Triyanto Triwikromo, pagi-pagi sekali sudah menulis “Deklarasi Telolet” di dinding akun Facebook. Begini isinya:

Deklarasi Telolet

Telolet dahulu Om kemudian. Telolet setahun dihapus Om sehari. Telolet cucuran atap jatuhnya ke Om juga. Setinggi-tinggi Telolet terbang akhirnya akan pulang ke Om juga. Telolet dibalas Om. Telolet kencing berdiri Om kencing berlari. Seperti Telolet merindukan Om. Ada Telolet ada Om. Telolet kosong berbunyi Om.
Sehari selembar Telolet lama-lama jadi Om. Telolet beriak tanda tak Om. Telolet berencana Om menentukan.
Om, Telolet, Om…
Hayo mana Telolet versimu?

Kalau diperhatikan, larik-larik di atas adalah peribahasa Indonesia yang beberapa katanya diganti dengan kata “Telolet”. Mas Tri, demikian saya bisa memanggil, mungkin sedang demam Telolet. Mungkin juga ia sedang menghibur diri atau gundah. Menghibur diri, karena faktanya Telolet memang bikin demam dan menjadi perhatian orang seantero jagat. Bahkan akun Instagram Presiden Barack Obama konon diramaikan Telolet.

Gundah, karena Mas Tri barangkali jengkel Telolet bisa membetot perhatian jutaan orang. Tidak seperti buku sastra yang sebagus apa pun kurang menarik perhatian publik luas.

Sementara itu, kritikus sastra Indonesia yang kini mukim di Belanda dan mengajar di Universitas Leiden, juga tergoda Telolet. Ia menarik alur sejarah Telolet dengan klakson bus Gumarang yang sejak zaman dulu kala memang sudah ‘bertelolet’.

Baca: Dari ‘Klakson Oto Gumarang’ ke “Om Telolet Om!”

 

Orang penting sibuk membincangkan Tolelot: Presiden Jokowi, pengamat politik, budayawan, komisaris BUMN, politikus, akademikus, wartawan — semua bertelolet. Di antara mereka ada yang menilai bahwa Telolet adalah wujud kebahagiaan kecil. Telolet dianggap sebagai manifestasi bahwa bahagia itu cukup sederhana: sekadar bisa mendengarkan suara Telolet yang bersumber dari klakson bus.

Benarkah begitu? Cuma sekadar itu? Tidak perlukah kita bikin Deklarasi Telolet. Misalnya: dengan bertelolet kita akan menghilangkan kebencian, Telolet akan mempersatukan bangsa seperti sepakbola mempersatukan dua musuh yang berseteru pascapilpres?

….

 

Loading...