Beranda Politik Permadi Tidak Gentar Disebut Makar, Ini Alasannya

Permadi Tidak Gentar Disebut Makar, Ini Alasannya

223
BERBAGI
Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Permadi, memberikan keterangan pengunduran diri Mohamad Sanusi dari Partai Gerindra kepada awak media, di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta, 4 April 2016. TEMPO/Imam Sukamto
Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Permadi, memberikan keterangan pengunduran diri Mohamad Sanusi dari Partai Gerindra kepada awak media, di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta, 4 April 2016. TEMPO/Imam Sukamto

TERASLAMPUNG.COM — Politikus Gerindra, Permadi, mengaku tidak gentar dengan tuduhan jika dirinya dianggap makar. Mantan politikus PDIP  ini menjelaskan dirinya tak khawatir dituding karena sudah pernah ditahan 38 kali.

Hal itu dikatakan Permadi usai menjalani pemeriksaan polisi sebagai saksi dalam dugaan kasus makar dan hoax di Mabes Polri Jumat (17/5/2019).

Ini adalah panggilan kedua setelah dia tidak muncul dalam panggilan pertama Selasa (14/5/2019) lalu.

“Saya tadi itu tidak diambil paksa tetapi petugas baik hati menjemput saya dan karena saya tidak bisa berjalan jauh saya dijemput untuk ditaruh di pintu terdekat dengan pemeriksaan,” kata Permadi.

Penyidik menurutnya memberikan pertanyaan secara sopan dan baik. Ada sekitar 21 pertanyaan dan yang penting adalah 16 pertanyaan.

Mantan politikus PDIP ini juga menjelaskan jika video revolusi yang beredar itu bukan diambil dirumahnya tetapi di rumah rakyat Jalan Tebet Timur Raya pada Mei lalu.

“Saya mengatakan saya diundang oleh yang punya rumah. Saya baru tahu bahwa kita akan melakukan suatu petisi di depan para wartawan, untuk itu saya tentu minta petisinya seperti apa, saya diberikan petisi ternyata, di petisi itu ada 14 pendahuluan dan 4 petisi,” urainya.

Dia menolak yang 14 pendahuluan sebab terlalu panjang. Rakyat tidak akan mau baca dan agak kurang sesuai dengan keinginannya. Namun dia bersedia dengan 4 petisi lainnya.

Keputusan rapat memutuskan dirinya, yang dianggap paling tua, dianggap sesepuh, untuk membacakan petisi itu dan dia bersedia.

“Yang datang adalah para (pensiunan) jenderal antara lain, Pak Kivlan Zen datang belakangan, Pak Syarwan Hamid, Syamsu Djalal dan lain sebagainya,” imbuhnya. Lalu ada Eggi Sudjana, Habib Mukhsin, dan Habib Umar.

“Pada saat hampir habis membacakan petisi baru Kivlan datang, terus Kivlan berpidato intinya mengajak people power di Lapangan Banteng, mengepung KPU (Komisi Pmeilihan Umum) dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu). Pertanyaan selanjutnya apakah saya setuju dengan pendapat Kivlan?,” sambung Permadi.

Dia menjawab jika dirinya dan Kivlan adalah sesama aktivis tetapi baru bertemu hari itu, jadi dia tidak bisa bilang setuju atau tidak karena dia tidak tahu sebelumnya. Rapat-rapat sebelumnya dia tidak tahu, tetapi yang pasti karena dirinya strok dia tidak bisa hadir di Lapangan Banteng maupun pengepungan Bawaslu maupun KPU.

“Tapi saya senang, masyarakat sekalipun tidak sebanyak yang saya inginkan, telah melakukan people power itu. Saya tuh melakukan demo atau people power dan saya ditahan 38 kali. Apakah itu mau dianggap makar atau tidak, saya tidak peduli. Saya berjuang dan itu dimungkinkan dalam konstitusi,” tegasnya.

Beritasatu.com

Loading...