Persepsi Presensionis

  • Bagikan
Cawan gaya "mingei" (seni orang biasa), karya LNT Shoji Hamada, Jepang.

Ahmad Yulden Erwin

Waktu adalah soal perspektif dalam pengamatan. Ketika saya mengamati, misalnya satu cawan karya Shoji Hamada, yang “hadir” di hadapan mata saya hanyalah satu sisi saja dari cawan. Sedangkan sisi belakang, atas, bawah, dan sisi lainnya tersembunyi sebagai potensi persepsi. Saya membutuhkan waktu yang mengalir ke depan untuk mengamati tiga sisi lainnya dari cawan.

Namun, ketika aspek waktu dihilangkan dari persepsi (di dalam dunia metafora atau patafora misalnya), maka pengamatan akan hadir dalam aspek ruang. Realitas akan hadir utuh dalam seluruh perspektifnya. Segala yang diamati akan hadir dalam ruang presensionis, ruang kosmik. Setiap benda–benda apa pun itu–bahkan termasuk eksistensi kita sendiri akan hadir dalam seluruh perspektif pengamatan. Aku yang mengamati, yang dibatasi oleh waktu, akan hadir dalam seluruh perspektif. Aku menyatu dengan yang diamati dan hadir sebagai “fakta presensionis” dari realita.

Pertanyaannya: Bagaimana kita bisa menghilangkan aspek waktu itu, hal yang membatasi perspektif pengamatan kita di dalam ruang? Sebenarnya tak ada yang perlu dilakukan. Karena pada faktanya, waktu yang terpisah dari ruang itu tak pernah ada. Waktu adalah ruang, ruang adalah waktu, begitu kata Einstein dalam teori relativitasnya.

Waktu hanyalah konsep psikologis kita terhadap gerak atau perubahan. Ketika waktu lesap, maka kita selalu ada di sini dan saat ini dalam arti yang luas, serentak, dan tanpa batas. Pada titik ini, pada momen presensionis ini, kita bisa berkata bahwa konsep waktu, ruang, dan diri kita sendiri belum pernah ada. Dengan kata lain, kita–pula segala benda sehari-hari yang maujud di sekeliling kita–adalah kosmos itu sendiri dan, pasti, hadir di luar kata-kata. Begini tentu bukan hal yang gaib atau rahasia, melainkan hal yang sehari-hari dan sungguh biasa. Namun, bisakah kita menerimanya, menerima keluasan dan kedalaman dari segala yang sehari-hari, yang biasa, tanpa terjebak dalam pikuk perihal persepsi siapa yang paling benar?

CAWAN BIASA HAMADA

Salju itu hitam, pasti, selalu
Ada malam di tengahnya
Saat kaubuka mata, kembali
Setiap detik adalah samudera
Sekarang, kaumasuki gerbang
Shambala di cawan Hamada
Seruang-seruang, di sini
Setiap benda adalah semesta
  • Bagikan