Beranda Ekbis Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2014 Diprediksi 5,8 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2014 Diprediksi 5,8 Persen

138
BERBAGI
Kantor Bank Indonesia (dok intelasia)

Dewi Ria Angela/Teraslampung.com

JAKARTA–Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) di Gedung BI, Jakarta, Kamis (9/1) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 7,50% dan 5,75%.

Evaluasi menyeluruh ekonomi tahun 2013 dan prospek ekonomi tahun 2014-2015 menunjukkan kebijakan ini masih konsisten dengan upaya mengarahkan inflasi ke sasaran 4,5±1% pada 2014 dan 4±1% pada 2015, serta mengendalikan defisit transaksi berjalan menurun ke tingkat yang lebih sehat,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs dalam siaran persnya Kamis (9/1).

Menurut Peter,  perkembangan terkini menunjukkan membaiknya  kondisi ekonomi global dimotori oleh AS dan Jepang, serta indikasi pemulihan ekonomi di kawasan Eropa, China dan India. Perbaikan ini diperkirakan dapat berlanjut pada tahun 2014 sehingga dapat menopang ekonomi Indonesia ke depan, baik dari jalur perdagangan maupun jalur finansial.
BI memperkirakan, perekonomian Indonesia tahun 2013 dtumbuh sebesar 5,7%, melambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2012 sebesar 6,2%. Namun dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 itu masih terbilang cukup tinggi.

“Untuk pertumbuhan pada tahun 2014, BI memperkirakan akan lebih baik, mendekati batas bawah kisaran 5,8-6,2% sejalan perbaikan ekonomi global,” jelas Peter.

Defisit Transaksi Berjalan

Rapat Dewan Gubernur BI juga mengemukakan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2013 diperkirakan mencapai 3,5% dari PDB, lebih tinggi dari defisit pada tahun 2012 sebesar 2,8% dari PDB.

Peningkatan defisit neraca transaksi berjalan terutama disebabkan menurunnya ekspor non-migas akibat penurunan pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas dunia. Selain itu, neraca migas juga mencatat defisit yang lebih tinggi sejalan dengan masih tingginya kebutuhan konsumsi BBM domestik.

“Dengan kebijakan stabilisasi yang ditempuh Pemerintah dan Bank Indonesia, perkembangan terkini di triwulan IV-2014 mengindikasikan tekanan terhadap NPI mulai membaik. Defisit transaksi berjalan diperkirakan menurun seiring surplus neraca perdagangan yang didorong kenaikan ekspor nonmigas. Selain itu, impor nonmigas juga menurun seiring dengan perlambatan ekonomi domestik,” jelas Peter.

Ia menyebutkan, Bank Indonesia memandang tren perbaikan NPI pada triwulan IV-2013 cukup positif dalam mendukung stabilitas ekonomi dan mengarahkan transaksi berjalan menjadi lebih sehat. Dengan perkembangan NPI tersebut maka cadangan devisa pada akhir Desember 2013 meningkat menjadi sebesar 99,4 miliar dolar AS atau setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran Utang Luar Negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Adapun mengenai inflasi sepanjang tahun 2013, menurut RDG BI, meningkat menjadi 8,38% dari 4,30% pada 2012, atau berada di atas sasaran inflasi yang telah ditetapkan 4,5±1%. “Kenaikan inflasi terutama disebabkan dampak gejolak harga pangan domestik serta pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi pada akhir Juni 2013,” jelas Peter.

Kenaikan harga BBM bersubsid itu, lanjut Peter, telah mendorong kenaikan harga-harga baik dampak langsung maupun dampak lanjutan (second round effect). Namun demikian, tekanan inflasi berangsur-angsur dapat dikendalikan dan jauh lebih rendah dibandingkan saat kenaikan harga BBM beberapa tahun sebelumnya.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 4,5±1% pada tahun 2014 dan 4,0±1% pada 2015,” papar Peter.

Loading...