Beranda News Kesehatan Peserta BPJS di Lampung Utara tidak Gratis saat Berobat

Peserta BPJS di Lampung Utara tidak Gratis saat Berobat

417
BERBAGI

Feaby/Teraslampung.com
Bukti kuitansi dan obat yang ditebus pasien peserta BPJS, Nevi saat dirawat di RSUD Ryacudu, Kotabumi.
KOTABUMI--Kampanye dan sosiasliasi gencar Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ternyata tidak  sesuai kenyataan. Dalam sosialisasi selalu disebutkan bahwa peserta BPJS akan ditanggung biaya pengobatannya. Faktanya, di Lampung Utara program BPJS ternyata tidak gratis. Peserta BPJS masih harus mengeluarkan dana ketika akan menebus obat.
Yang dialami Nevvi, salah seorang pasien peserta BPJS di RSUD Ryacudu, misalnya. Ia  masih harus menebus obat sebesar Rp.900 ribu untuk lima kali penebusan obat di apotek Rumah Sakit Umum Daerah Ryacudu (RSUDR) Kotabumi. Penebusan obat ini disarankan oleh oknum perawat RSUDR Kotabumi. Oknum perawat nampaknya sengaja memanfaatkan kondisi psikologis pasien dan keluarga‎ yang khawatir dengan kondisinya pasca persalinan pasien melalui operasi caesar.

Samsuri, suaminya Nevvi menceritakan bahwa isterinya tercinta masuk ke RSUDR Kotabumi untuk menjalani proses persalinan pada Jum’at (5/9) sekitar pukul 10:00 WIB. Saat itu, isterinya terpaksa menjalani operasi caesar dalam persalinannya. 
Usai operasi, oknum Perawat RSUDR memberikan resep obat untuk ditebus obat di Apotek RSUDR kepada Ibu mertuannya. Oknum perawat itu mengklaim obat yang disarannkannya tersebut merupakan obat yang paling bagus.
Menurut Samsuri, lantaran tak mempunyai pilihan lain selain menebus obat yang disarankan Perawat itu, ia terpaksa menebus ‎obat dengan nama Goforan Cefotaxime tersebut. “Mertua saya disuruh tebus obat sebesar Rp.180 ribu di Apotek RSUDR oleh perawat. Katanya obat itu paling bagus,” kata dia, Kamis (11/6).

‎Samsuri mengaku kecewa dengan pihak RSUDR yang membuat dirinya terpaksa mengeluarkan uang hingga sebesar Rp.900 ribu untuk lima kali penebusan obat dimaksud pada Apotek RSUDR. Padahal, isterinya tercinta merupakan peserta BPJS yang sedianya seluruh pengobatan dan obat telah ditanggung BPJS. “Kalau harus bayar lagi buat obat, buat apa kami jadi peserta BPJS,” keluhnya.
Di lain sisi, Direktur RSUD Ryacudu, Kotabumi, Maya Metisa ketika dikonfirmasi mengenai perkara itu terkesan membela bawahannya. Sebab, menurutnya ada obat yang ditanggung dan tidak ditanggung BPJS. “Mungkin obatnya memang tidak ‎ada dalam Fornas (Daftar obat BPJS),” kelit dia.
Loading...