Beranda Ruwa Jurai Peserta BPUN Waykanan: Pancasila Jaya Jangan Hanya di Mulut

Peserta BPUN Waykanan: Pancasila Jaya Jangan Hanya di Mulut

269
BERBAGI
Garuda Pancasila (dok wikipedia.com)

WAYKANAN, Teraslampung,com–Tanggal   1 Juni merupakan Hari Kelahiran Pancasila. Landasannya, peristiwa  sejarah saat Soekarno berpidato dalam rapat pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945. Berkaitan dengan itu, PC GP Ansor Waykanan Lampung merangkum pendapat sejumlah pelajar atau peserta Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) setempat mengenai pentingnya Pancasila.

 “Pancasila harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari karena mengajarkan bagaimana menjaga persatuan dan kesatuan, hingga nilai dan norma sosial,” ujar Ayu Sri Ningsih, pelajar SMAN 1 Blambangan Umpu, di Waykanan, Senin (1/6).
   
Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), penyeruan kata “Pancasila” akan disambut dengan kata “Jaya”, karena itu, demikian sejumlah peserta BPUN Waykanan 2015, Pancasila Jaya hendaknya bukan hanya di mulut semata, namun juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
   
“Pancasila ialah dasar negara kita. Dalam Pancasila, sudah jelas kita diwajibkan untuk saling berlaku adil, harus saling bersatu tanpa harus membeda-bedakan. Kita adalah Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu,” ujar Disisi Saidi Fatah, Ketua Alumni BPUN Waykanan 2015.
   
Menghargai penganut agama lain adalah wajib. “Kita juga boleh berteman dengan penganut agama lain tanpa kita harus ikut kepercayaan mereka. Ketua PC GP Ansor Waykanan sekaligus penggiat Gusdurian di Lampung Gatot Arifianto juga mengajarkan keberagaman di kegiatan BPUN. Misalnya kita harus menghormati pemeluk agama lain, tidak boleh mencemooh atau menjelek-jelekan pemeluk agama lain,” kata Disisi.

Pancasila, menurut Nindya Fela Roza, peserta BPUN lainnya, sangat perlu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kemanusiaan yang adil dan beradab , jelas mengajarkan kita untuk mempunyai rasa kepedulian terhadap sesama, tidak mengenal kelas atas dan kelas bawah,” ujar dia menambahkan.

BPUN merupakan progam tahunan Yayasan Mata Air sejak 2007, organisasi non profit yang didirikan oleh Gus Mus bersama sejumlah kiai, intelektual dan profesional seperti Al Habib Luthf bin Yahya, Dr KH As’ad Said Ali, KH Masdar F Mas’udi, KH Muadz Thohir, KH Thantowi Jauhari Musaddad dan (Alm) KH Masykur Maskub. Secara garis besar, BPUN berbicara tentang tiga hal, yakni: pendidikan, kepemimpinan, dan keberagamaan yang ramah.
   
“Manajer BPUN Waykanan Gatot Arifianto mengajarkan keberagaman kepada kami dengan mempersilakan seorang guru non muslim untuk menjadi tutor bidang studi ekonomi,” ujar Eis Novia, peserta BPUN dari SMAN1 Blambangan Umpu.
   
Menurut Eis pula, sila Persatuan Indonesia ialah penerjemahan dari keberagaman suku, agama, budaya warga Indonesia untuk tetap bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
   
Pancasila mengajarkan masyarakat bangsa Indonesia untuk menghormati tanpa pandang bulu. “Di Taman Sari, Jakarta Barat, gedung Gereja Kristus Yesus bersebelahan dengan Masjid Awwabin. Ketua PC GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto, yang tak lelah mengajarkan kami mengenai NU mengajarkan banyak hal tentang keberagaman terhadap kami, ia pemeluk Islam yang nasionalis,” ujar Suryaningsih, pelajar SMAN1 Blambangan Umpu lainnya.
   
Rls

Loading...