Beranda Views Opini Peta Politik Menjelang Pilkada Bandarlampung 2020

Peta Politik Menjelang Pilkada Bandarlampung 2020

2062
BERBAGI

Adolf Ayatullah Indrajaya

Pilkada Bandarlampung masih jauh, sepuluh bulan lagi hari pencoblosannya. Tapi nama-nama mulai berseliweran. Herman HN sudah dua periode menjadi Walikota Bandarlampung, sehingga dipastikan ia tidak bisa ikut maju. Wakilnya, Yusuf Kohar, terlihat sudah menggeber tim pemenangan.

Tak ditutup-tutupi, Herman HN dan Yusuf Kohar tak sejalan harmonis di masa kepemimpinan bersama mereka. Kebijakan Herman HN kerap dikritik tajam. Beberapa keputusan Yusuf saat menjadi Pj Walikota disunat habis-habisan. Jelas, Herman menaruh harapan keberlanjutan kepemimpinannya di tangan isteri, Eva Dwiyana.

Eva tentu saja langsung masuk bursa unggulan. Di masa kepemimpinan Herman, mendampingi dua kali pilgub, basis dukungan se-Bandarlampung tentu jadi investasi politik yang solid. Apalagi, raihan suara saat pileg, Eva tak salah dikasih cap fenomenal. Suaranya mengerek kawan seiring masuk ke kancah legislator tingkat provinsi.

Yusuf Kohar? Politikus dengan basis pengusaha dan identitas etnis yang kuat dari Sumsel, boleh jadi saat ini tidak –atau belum– sekuat Eva.

***

Lalu kita sebut nama Rycko Menoza. Mantan Bupati Lampung Selatan ini tentu membawa panji-panji kebesaran keluarganya. Kakeknya adalah Gubernur Zainal Abidin Pagaralam. Ayahnya Gubernur Sjachroedin ZP.

Rycko dikenal sebagai orang organisasi yang tebal jaringannya. Paling tidak dua yang menonjol. Rycko sekarang Ketua Umum Lampung Sai, juga sarat sejarah dengan Pemuda Pancasila. Ditambah mewahnya nama besar ayah dan keluarga besar, siapapun mafhum kalau Rycko punya modal politik yang sangat mentereng.

Boleh jadi, modal politik yang dulu menghantarkan Herman Hn menjadi nakhoda Bandarlampung akan ringan pindah perahu. Apalagi kalau SZP turun tangan dan tak separuh-separuh memberi dukungan kepada sulungnya ini.

Berikutnya ramai disebutkan kalau restu Gubernur Arinal condong memihak ke Rycko. Bagaimanapun, suntikan moral pejabat yang sedang duduk itu strategis sekali.

Kemampuan tim yang mengawal Rycko brilian nian. Mampu mengerek popularitas dan elektabilitas sedemikian tinggi sehingga sekarang sudah sejajar dengan kandidat sokongan petahana, Eva Dwiyana.

Bahkan banyak disebut, rivalitas Rycko vs Eva sudah sedemikian terpolarisasi menampakkan kalau pilkada September 2020 nanti hanya soal komposisi pertarungan dua nama ini.

***

Kalau dua unggulan sudah mengemuka, tentu saja selalu ada kuda hitam. Yusuf Kohar jelas salah satunya. Tapi paling tidak ada tiga nama yang mulai menyeruak mencuri perhatian. Firmansyah Alfian, Dang Gusti Ike Edwin dan Wiyadi.

Firmansyah itu politikus ulung. Dulu saat dia jadi legislator dari Golkar, perannya cukup mewarnai. Absen sebentar karena terselandung kasus narkoba, Firmansyah hijrah mendalami ilmu agama dan tentu saja melunasi utang akademis. Sekarang Firman jadi Rektor Dharmajaya.

Dang Ike juga terus menebar investasi politik. Bintang dua polisi. Darah biru dengan status kerajaan yang bonafide. Pernah menjadi Kapolda yang sangat populer. Dang Gusti jadi nama kuat.

Kemudian Wiyadi. Dia Ketua DPRD dua periode, legislator di periode ketiga di Bandarlampung. Wiyadi juga Ketua Umum Paguyuban Pujakesuma Provinsi Lampung. Jangan lupa kalau Wiyadi itu Ketua DPC PDI Perjuangan, partai pemenang pemilu di kota.

Pergerakan politik Wiyadi awalnya relatif senyap. Bagaimanapun, PDI Perjuangan punya basis ideologis yang solid. Wiyadi dikenal sebagai kader tulen yang meniti jenjang kepartaian dengan ulet.

Tapi sebelumnya-sebelumnya tak nampak Wiyadi masuk bursa kontestasi kada. Sekarang? Survey independen merilis kalau Wiyadi jadi kuda hitam dengan akselerasi popularitas dan elektabilitas yang signifikan.

Berturut-turut kita sudah melihat nama-nama; Eva Dwiyana, Rycko Menoza, Yusuf Kohar, Firmansyah Alfian, Dang Ike Edwin dan Wiyadi dalam bursa kontestasi.

Yang patut diingat, hari pencoblosan masih sepuluh bulan ke depan. Rekomendasi parpol sebagai tiket jadi kontestan juga masih dalam perkelindanan politik yang licin di tiap level dan tingkatan.

Namun, Pilkada Bandarlampung sepertinya akan berlangsung meriah dan gegap-gempita. Tak menutup kemungkinan akan menyeruak nama-nama baru. Hari ini saja polarisasinya sudah mulai terasa.

Loading...