Petani Keluhkan Buruknya Jaringan Irigasi di Lampung Tengah

  • Bagikan

Supriyanto/TerasLampung


Irigasi Way Sekampung (ilustrasi)

GUNUNGSUGIH- Peningkatan produksi pertanian utamanya padi di Kabupaten Lampung tengah (Lamteng) tidak terlepas dari keberadaan jaringan irigasi dan kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Kesungguhan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah dalam pembangunan sektor pertanian, khususnya tanaman padi dapat dilihat dari konsisten tidaknya pemerintah setmpat dalam meningkatkan kualitas jaringan irigasi maupun pembinaan kelembagaan petani.

Sebagai upaya peningkatan pembangunan  di Kabupaten Lampung Tengah, pemerintah setempat tahun anggaran 2013 telah menganggarkan dana untuk pembangunan bidang pekerjaan umum sebesar Rp. 284.314.762.000, dengan realisasi anggaran sebesar Rp 248.900.409.545. Alokasi anggaran tersebut dipergunakan untuk membiayai 23 program terdiri dari 52 kegiatan yang diarahkan untuk peningkatan dan pengembangan infrastruktur wilayah, yakni peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur jalan dan jembatan,  pengelolaan sumberdaya air, dan jaringan irigasi.

Pada program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, dan jaringan pengairan lainnya, Pemkab Lampung Tengah telah melakukan rehabilitasi atau pemeliharaan paringan irigasi yang tersebar pada daerah irigasi teknis, daerah irigasi sederhana dan daerah irigasi kampung. Kegiatan pembangunan ini bertujuan meningkatkan pelayanan pembagian  atau  pemberian air irigasi.

Dalam Laporan Keuangan dan Pertanggunjawaban (LKPJ) tahun anggaran 2013, Bupati Lampung tengah Ahmad Pairin menyebutkan, sampai dengan tahun 2013 jaringan irigasi di Kabupaten Lampung Tengah mencapai 2.899.672 meter, meliputi Jaringan Irigasi Primer 486.207,71 meter, Sekunder 664.982,64 meter dan Tersier 1.748.482 meter atau sama dengan tahun 2012 yaitu sepanjang 2.899.672 meter meliputi Jaringan Irigasi Primer 486.207,71 meter, Sekunder 664.982,64 meter dan Tersier 1.748.482 meter.

Dari jumlah tersebut pada tahun 2013 jaringan irigasi primer yang kondisinya baik mencapai 75,63 persen atau meningkat 2,28 persen dibanding tahun 2012 mencapai 73,35 persen, Jaringan Irigasi Sekunder mencapai 72,30 persen atau meningkat sebesar 0,57 persen dibanding tahun 2012 sebesar 71,73 persen, sedangkan irigasi tersier yang kondisinya baik hanya 22,20 persen atau meningkat 0,61 persen dibanding pada tahun 2012 sebesar 21,59 persen.

Namun, ribuan kilo meter jaringan irigasi yang berhasil dibangun tersebut, patut  dipertanyakan. Dilapangan, masih ditemukan keluhan petani akibat jaringan irigasi yang tidak pernah diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah melalui Dinas Pengembangan Sumber Daya Air (PSDA).

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Tri Karya Way Waya Srimulyo, Kecamatan Kalirejo Lampung Tengah, Turisno. mengungkapkan sejak tahun 2002 hingga saat ini di wilayah, khusunya di jaringan irigasi Sekunder Way Waya belum pernah ad penganggkatan lumpur  maupun perawatan jaringan irigasi. Akibatnya, produksi pertanian khusunya adi diwilayahnya tidak pernah mencapai target yang maksimal.

”Jangankan musim gadu, musim rendeng saja petani disini tidak semuanya bisa menggarap lahan akibat keterbatasan air. Kami minta pemerintah daerah benar-benar memperhatikan pembangunan sektor pertanian khususnya jaringan irigasi yang menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan petani, “katanya Turisno, baru-baru ini.

Keluhan serupa di ungkapkan  Suwito, Ketua P3A Purwodadi Kecamatan Bangunrejo Lampung Tengah, dan Wahidin, Ketua P3A Kampung Sinarrejo, Kecamatan Kalirejo, serta Timiyo Ketua P3A Kampung Sri Purnomo, Kecamatan Kalirejo. Menurut mereka, dari tahun ketahun sebenarnya petani berharap ada peningkatan kualitas jaringan irigasi Way Waya di wilayahnya.

Harapan petani itu hanya sebatas harapan, karena pembangunan jaringan irigasi tak sampai kedaerahnya.  “Sudah dua belas tahunan petani di sini tidak mendapatkan air secara sempurna, walaupu ada jaringan Irigasi Way Waya,” kata Suwito.

Menurut Wahidin, kalau jaringan irigasi Way Waya kondisinya benar-benar diperhatikan dan terpelihara dengan baik, petani setidaknya bisa tanam padi dua kali dalam setahun

”Karena sumber pendapatan kami dari bertani, semampu kami yang bisa di kerjakan, ada air seperti musim rendengan kami tanam padi, saat musim gadu kami alihkan ke tanaman lain yang tidak terlalu banyak butuh air,” tegas Wahidin, yang juga diamini Timiyo.

  • Bagikan