Opini  

Petani Milenial untuk Masa Depan Pertanian Lampung

Bagikan/Suka/Tweet:

Lenna Nalurita
ASN BPS Tulangbawang

Indonesia termasuk negara agraris. Negara agraris adalah negara yang sebagian besar penduduknya memiliki lapangan usaha di sektor pertania dan pertanian sebagai menopang perekonomian. Indonesia merupakan salah satu negara agraris terbesar di dunia, sehingga memiliki ketahanan pangan yang tangguh.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018, lebih dari 33,4 juta orang bekerja di sektor pertanian. Ini mejadi dilema negara Indonesia. Apakah pembangunan di sektor pertanian kebih menguntungkan, dengan jumlah tenaga kerja yang semakin bertambah ataukah berkurang?

Regenerasi petani sangat diperlukan agar ketahanan pangan di negeri ini tetap terjaga. Peranan anak-anak muda sangat dibutuhkan dalam sektor pertanian. Hal itu menjadi pekerjaan rumah bersama bagaimana cara menimbulkan minat pemuda untuk mencintai dunia pertanian serta mendorong regenerasi petani, untuk menuju Indonesia pulih bersama bangkit perkasa. Regenerasi petani dibutuhkan untuk menjaga produktivitas sektor pertanian terutama di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Pola pikir anak muda harus berubah, sektor pertanian tidak bisa dipandang sebelah mata. Regenerasi petani saat ini menjadi kebutuhan mendesak di tengah kontribusi sektor pertanian yang cukup besar bagi kesejahteraan masyarakat. Fakta telah membuktikan bahwa pada saat pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia bahkan di dunia, hanya sektor pertanian yang tidak begitu terdampak Covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian lebih stabil dibandingkan sektor lain yang terjun bebas akibat pandemi. Sektor pertanian sebagai penyelamat ekonomi Indonesia.

Milenial dan Pertanian

Berdasarkan data BPS pada tahun 2018 ada lebih dari 1,3 juta rumah tangga di Lampung berusaha di sektor pertanian. Namun, petani tua masih mendominasi dengan usia di atas 35 tahun sebanyak 85,7% dan petani berusia kurang dari 35 tahun sebesar 14,3%. Angka ini dipengaruhi oleh citra sektor pertanian yang identik dengan dunia kotor, kumuh, miskin, dan kurang bisa memberikan imbal hasil yang menggiurkan.

Persoalan kompleks terkait rendahnya produktivitas, keterbatasan akses terhadap modal, pasar, dan adopsi teknologi yang tertinggal masih dihadapi sektor pertanian di Lampung. Ketersediaan bahan penunjang/saprodi pertanian yang tidak tepat waktu pada saat dibutuhkan petani. Belum adanya jaminan harga pasar yang dapat menambah pendapatan petani yang menguntungkan, menekan biaya produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani. Permasalahan ini menjadi “hantu” bagi regenerasi petani di Lampung.

Generasi muda diharapkan dapat terjun ke dunia pertanian agar membantu memajukan sektor pertanian Lampung serta dapat membuka peluang kerja baru. Dengan begitu, generasi muda mampu menjadi tumpuan pembangunan pertanian bagi kekuatan perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja bagi penduduk pedesaan, dan mengurangi kemiskinan. Permasalahan yang dihadapi saat ini: masyarakat masih beranggapan bahwa tidak mudah menjadi anak petani apalagi menjadi petani.

Gambaran yang jauh dari benak anak-anak milenial. Sejalan dengan pandangan itu, pada umumnya orang tua di perdesaan juga tidak menginginkan anak-anak mereka bekerja di desa sebagai petani sebagaimana pekerjaan mereka saat ini. Krisis petani muda inilah yang menjadi hambatan terhadap produktivitas pertanian, daya saing pasar, kapasitas ekonomi perdesaan, dan bermuara pada ancaman terhadap ketahanan pangan serta keberlanjutan sektor pertanian

Harapan

Optimis akan sukses merangkul generasi milenial ke dunia pertanian di Lampung masih besar harapannya. Generasi muda, khususnya generasi milenial yang lahir di sekitar 1980 sampai 2000-an merupakan target utama. Kriteria dari generasi tersebut biasanya ditandai dengan mudah beradaptasi, memilih pengalaman daripada aset, dan  melek teknologi digital.

Petani milenial tentu lebih energik serta berani mengambil risiko dibanding petani konservatif, sehingga mereka bisa menjadi penerus para petani yang saat ini sudah mulai banyak yang lanjut usia. Dengan ciri khas tersebut dapat membuat generasi milenial mampu berkembang dan maju di sektor pertanian.

Melalui pemanfaatan teknologi, usaha pertanian di tangan generasi milenial diharapkan mampu beradaptasi dan berkembang pesat di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Ini semua akan cepat terwujud jika adanya dukungan dari masyarakat serta uluran tangan dan bimbingan dari para pemangku kepentingan ( stakeholder) yang berhubungan dengan sektor pertanian.***