Petani Sawah Lebak Kabupaten OKI Harapkan Jokowi-JK Menang

  • Bagikan

Ahmad Marhaen/Teraslampung.com

PALEMBANG- Merasa tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah, ratusan ribu petani sawah lebak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menyampaikan amanat kepada pasangan Jokowi-JK agar mereka dijadikan potensi petani dalam program kedaulatan pangan.

“Kami para petani sawah lebak di OKI, yang mencapai 110 ribu jiwa, dengan ini menyampaikan amanat kepada Jokowi-JK agar kami dilibatkan dalam program kedaulatan pangan, jika pasangan ini terpilih pemimpin Indonesia yang baru,” kata Rohman, pengurus Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten OKI, seusai acara Konsolidasi Petani Menggagas Kedaulatan Pangan di Kawasan Lebak yang diselenggarakan SPI di Palembang, 4-5 Juli 2014.

Dijelaskan Rohman, saat ini kondisi petani sawah lebak di Kabupaten OKI sangat memprihatinkan. Akibat tidak adanya perhatian dari pemerintah. Bahkan lahan mereka pun terancam perkebunan sawit dan HTI
(Hutan Tanaman Industri).

Diharapkan, jika Jokowi-JK terpilih menjadi pemimpin Indonesia, mereka dilibatkan dalam program kedaulatan pangan. “Kami yakin, jika kami mendapat perhatian serius dari pemerintah, khususnya terhadap lahan lebak, makan kesejahteraan kami meningkat, dan kami mampu menyumbang kebutuhan beras nasional lebih banyak lagi,” kata Rohman.

Sebab saat ini, tanpa mendapatkan perhatian pemerintah, setiap tahun mereka mampu memproduksi rata-rata 2,5 ton padi per hektar. “Jika pemerintah ke depan lebih perhatian, kami yakin akan mampu
meningkatkan produksi dua kali lipat,” tegasnya.

Guna mewujudkan harapan tersebut, kata Rohman, para petani sawah lebak di Kabupaten OKI siap memilih dan memenangkan pasangan Jokowi-JK. “Intinya harapan kami ini akan terwujud jika Jokowi-JK menang,” katanya.

Potensi Kedaulatan Pangan Sekitar 146.279 hektar lebak yang dikelola 220 ribu petani di Sumatera Selatan terancam oleh perkebunan sawit dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Ini dikarenakan produksi padi dari lahan lebak ini kian menurun setiap tahunnya. Saat ini pendapatan mereka rata-rata setahun Rp8 juta atau menghasilkan padi sekitar 2,67 ton per hektare.

Ke-220 ribu petani sawah lebak itu menyebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) seluas 45.687 hektar atau 31,23 persen, Kabupaten Ogan Ilir seluas 40.562 hektare atau 27,73 persen, dan Kabupaten Banyuasin 16.705 atau 11,42 persen.

Sisanya sebesar 29,62 persen tersebar di Kabupaten Musi Banyuasin, Muaraenim, Ogan Komering Ulu (OKU),  OKU Timur, Musi Rawas, Prabumulih dan Kota Palembang (Alihamsyah,2004 dan BPS Kabupaten OKI, 2004).

Salah satu upaya memperbaiki lahan pertanian sawah, yakni melakukan reklamasi. Tapi selama ini, pemerintah hanya fokus pada lahan pasang surut  Akibat pertanian pasangan surut yang baru dijalankan selama 10 tahun terakhir, produksinya melampau pertanian lebak, yang sudah berjalan selama ratusan tahun.

“Satu-satunya cara menyelamatkan lahan lebak ini pemerintah harus menjadikan petani padi lebak sebagai potensi kedaulatan pangan nasional,” kata Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Selatan Ahmad Fitriadi Monginsidi.

Sebagai potensi kedaulatan pangan, tentu saja lahan lebak ini harus direklamasi. “Reklamasi yang dimaksud bukan berarti penimbunan, melainkan perbaikan, peningkatan kualitas lahan, melalui pemberdayaan teknologi dan manusia,” kata Fitriadi.

Saat ini rata-rata petani lebak di Sumsel menguasai 1,24 hektare. Dari luasan itu produksi padi per tahunnya hanya 2,67 ton per hektar atau senilai Rp8 juta. Jika dilakukan perbaikan tata air mikro dan peningkatan kesuburan lahan melalui reklamasi, produksinya dapat mencapai 4-5 ton padi per hektare dalam setahun.

“Petani lebak dalam setahun akan mampu menyumbang 600 ribu ton untuk kebutuhan pangan nasional. Petani makmur, rakyat Indonesia terpenuhi pangan. Negara pun tidak perlu lagi melakukan import beras yang sering dilakukan selama ini,” ujar Fitriadi.

Terancam HTI dan Perkebunan Sawit Selama 10 tahun terakhir, sekitar 25 ribu hektare lebak hilang untuk perkebunan sawit dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Sekitar 90 persen kehilangan lahan lebak tersebut terjadi di Kabupaten OKI. Khususnya di Kecamatan Pangkalan Lampan dan Pampangan.

“Alih fungsi lahan lebak ini karena dinilai tidak produktif lagi, sehingga diserahkan untuk perkebunan sawit dan HTI,” kata Fitriadi.

Hilangnya lahan lebak tersebut, ternyata memberi dampak berkurangnya populasi kerbau rawa, burung, sejumlah jenis ikan, serta sejumlah tradisi kerajinan seperti tikar purun.

“Dulu Kabupaten OKI terkenal sebagai sentra produksi susu dan daging kerbau. Kini hal tersebut sulit didapatkan,” ujarnya.

  • Bagikan