Beranda Views Opini Peternak Berteriak pada Saat Pandemi Covid-19

Peternak Berteriak pada Saat Pandemi Covid-19

101
BERBAGI

Oleh : Zulfikar Halim Lumintang*

Siapa yang meragukan kualitas produk peternakan Indonesia? Indonesia dikenal dunia sebagai pengekspor produk peternakan yang berkualitas tinggi. Berdasarkan data realisasi rekomendasi ekspor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), capaian ekspor subsektor peternakan pada tahun 2015 hingga 2018 semester I adalah Rp 30,15 triliun.

Ditambah lagi, keunggulan halal yang dimiliki oleh Indonesia, menjadi daya tarik importir dari negara di daerah Timur Tengah dan negara lain di kawasan Asia. Dan potensi tersebut telah dilakukan penjajakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan.

Salah satu faktor yang menjadikan subsektor peternakan Indonesia diakui dunia adalah kualitas peternak yang mumpuni. Selain memiliki kemampuan teknis yang baik, para peternak Indonesia dikenal memiliki keuletan yang jarang dimiliki oleh peternak negara lain.

Tidak heran jika banyak peternak Indonesia yang sukses di luar negeri. Sebut saja Reza Abdul Jabbar. Sebagai seorang Master di bidang peternakan, Reza merupakan peternak sapi perah asal Indonesia yang sukses mengaplikasikan ilmunya.

Kini, Reza telah memiliki sekitar 2500 sapi perah yang hidup di 850 hektar lahan peternakan. Tepatnya di Peternakan Rural Practice Yrust. Proses pemerahan di peternakannya sudah menggunakan teknologi yang canggih, yaitu menggunakan robot mekanik. Selain itu, pemberian pupuk sudah menggunakan helikopter. Tak aneh jika susu perah miliknya sudah menjangkau berbagai negara, termasuk negara di kawasan Asia Pasifik.

Kualitas peternak Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Berbanding lurus dengan itu, seharusnya tingkat kesejahteraan peternak Indonesia dalam kondisi aman. Mungkin hanya kasu

Tren NTP Peternakan

Selama awal pandemi Covid-19 hingga sekarang (Februari 2020-April 2020), Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) selalu menurun, atau memiliki tren negatif. Pada awal masa pandemi (Februari 2020) NTPT tercatat mencapai 98,23. Dalam kondisi ini, peternak sudah mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan peternak turun, lebih kecil dari pengeluarannya.

Indeks Harga yang Diterima Peternak (It) Februari 2020 mencapai 104,29. Indeks tersebut menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi peternak. Komoditas yang masuk dalam hitungan adalah ternak besar, ternak kecil, unggas, dan hasil ternak. It dari komoditas ternak besar mencapai 105,67, It dari komoditas ternak kecil mencapai 104,70, It dari komoditas unggas mencapai 101,80 dan It dari komoditas hasil ternak mencapai 104,57.

Indeks Harga yang Dibayar Peternak (Ib) Februari 2020 mencapai 106,18. Indeks tersebut menunjukkan perkembangan harga kebutuhan rumah tangga peternak, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun untuk proses produksi pertanian. Ib terdiri dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencapai 105,71 dan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mencapai 106,40.

Pada Maret 2020, NTPT ternyata mengalami penurunan menjadi 98,12. Atau turun sebesar 0,11% dari bulan Februari 2020. Turunnya NTPT disebabkan oleh turunnya It Maret 2020 yang mencapai 0,09% dari Februari 2020 menjadi 104,20. Jika dilihat lebih jauh, diantara keempat komoditas tersebut, hanya It dari komoditas hasil ternak yang mengalami peningkatan dari Februari 2020 sebesar 0,85%. Hal ini wajar, karena permintaan daging, telur, dan hasil ternak lainnya juga meningkat selama pandemi.

Selain itu, Ib Maret 2020 yang mengalami kenaikan 0,02% dari Februari 2020 juga menjadi penyebab turunnya NTPT. Tercatat IKRT meningkat 0,22% dari Februari 2020 menjadi 105,95 dan Indeks BPPBM turun 0,09% dari Februari 2020 menjadi 106,30.

Selanjutnya, pada April 2020, NTPT kembali mengalami penurunan sebesar 1,76% menjadi 96,40. Sama halnya dengan kondisi Maret 2020. Penurunan NTPT pada bulan April 2020 ini disebabkan oleh turunnya It April 2020 dan Ib April 2020. It April 2020 turun sebesar 1,83% menjadi 102,29. Kali ini, It keempat komoditas pada subsektor peternakan mengalami penurunan dari bulan Maret 2020. Yang paling tinggi turunnya adalah komoditas unggas dengan 3,03%. Sedangkan Ib April 2020 turun sebesar 0,07% menjadi 106,12.

Dari sajian data diatas, bisa kita lihat bahwa semakin kesini peternak semakin mengalami kerugian. Padahal bulan April 2020, bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 1441 H. Seperti yang kita letahui bersama, bahwa biasanya komoditas hasil ternak akan banyak permintaan. Dan harga pada bulan Ramadhan cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya. Akankah keadaan ini berlanjut sampai bulan Mei 2020 dan seterusnya?

Faktor Penyebab dan Solusi Alternatif

Peternakan menjadi satu-satunya subsektor yang petaninya (peternaknya) mengalami defisit selama pandemi Covid-19 (Februari 2020-April 2020). Hal itu bisa terlihat dari Nilai Tukar Petani Peternakan yang berada di bawah angka 100.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Salah satu yang mungkin terjadi adalah permintaan terhadap komoditas hasil ternak menurun. Selama pandemi (Februari 2020-April 2020) konsumsi masyarakat terhadap daging, telur, susu berkurang.

Masyarakat lebih memilih untuk mengkonsumsi tanaman obat semacam jahe, kunyit, serai yang berfungsi penambah imun tubuh. Hal tersebut terbukti dengan naiknya Indeks Harga yang diterima petani tanaman obat dari Februari 2020-Maret 2020 mencapai 2,77%, dan dari Maret 2020-April 2020 mencapai 2,65%.

Kedua, konsumen hasil ternak dari restoran, rumah makan, dan hotel berkurang drastis. Hal tersebut disebabkan karena konsumen tersebut juga tidak beroperasi sementara selama pandemi.

Dalam posisi ini, peternak khususnya komoditas hasil ternak harus cerdas mengambil peluang yang ada. Dalam kondisi #Dirumahaja, pemanfaatan media sosial dalam memasarkan produknya dapat menjadi alternatif. Apalagi ditambah dengan fasilitas gratis ongkos kirim bagi konsumen jarak dekat.

Pemerintah juga diharapkan segera mengambil langkah strategis. Guna menyerap hasil produksi peternakan. Jangan sampai para peternak beralih ke komoditas lain, dan meninggalkan peternakan. Karena tidak bisa dimungkiri, kebutuhan masyarakat akan daging, telur, dan susu harus tetap terpenuhi.***

*Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara

Loading...