Beranda Kolom Sepak Pojok Pilgub Lampung dan Alasan untuk Bahagia

Pilgub Lampung dan Alasan untuk Bahagia

614
BERBAGI
Grafik Indeks Kebahagiaan Penduduk Tiap Provinsi di Indonesia pada 2017 menurut BPS.

Oyos Saroso H.N.

SAYA hampir melupakan definisi bahagia. Namun, pada Minggu siang (28/1/2018) yang agak mendung, tiba-tiba saya digoda kawan baik dari Maluku Utara, dan memaksa saya untuk mengorek kembali apa itu bahagia dan kebahagiaan.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, kawan baik saya yang sejak kecil hingga punya satu putri tinggal di Ternate, Budhy Nurgianto, mengunggah grafik indeks kebahagiaan penduduk Indonesia di semua provinsi di Indonesia. Budhy pantas gembira dengan nyengir khasnya karena Maluku Utara bertengger di posisi puncak.

Grafik itu menunjukkan bahwa indeks kebahagiaan penduduk Maluku Utara pada 2017 paling bagus dibanding provinsi lain di Indonesia, dengan poin 75,68. Artinya, secara rata-rata penduduk Maluku Utara lebih bahagia dibanding penduduk DKI Jakarta (poin 71, 33), Yogyakarta (72,93), atau Lampung (69,51).

Saya tersenyum kecut karena Lampung berada pada posisi nyaris terbuncit, posisi keempat dari bawah. Di posisi bawah (penduduiknya kurang bahagia), Lampung hanya sedikit lebih baik dibanding NTT, Sumut, dan Papua.

Indeks kebahagian yang bikin masygul orang awam itu dijelaskan oleh BPS sebagai berikut:  Indeks Kebahagiaan Lampung tahun 2017 berdasarkan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan
(SPTK) sebesar 69,51 pada skala 0-100.

Indeks Kebahagiaan Lampung tahun 2017 merupakan indeks komposit yang disusun oleh tiga dimensi, yaitu kepuasan hidup (Life Satisfaction), perasaan (Affect), dan makna hidup (Eudaimonia). Kontribusi masing-masing dimensi terhadap Indeks Kebahagiaan Lampung adalah Kepuasan Hidup 34,80 persen, Perasaan (Affect) 31,18 persen, dan Makna Hidup (Eudaimonia) 34,02 persen.

Nilai indeks masing-masing dimensi Indeks Kebahagiaan adalah sebagai berikut:yaitu: (1) Indeks Dimensi Kepuasan Hidup sebesar 69,69; (2) Indeks Dimensi Perasaan (Affect) sebesar 67,43; dan (3) Indeks Dimensi Makna Hidup (Eudaimonia) sebesar 71,24. Seluruh indeks dimensi diukur pada skala 0-100.

Apa pun penjelasannya, data indeks kebahagiaan sudah dipublikasikan pada Agustus 2017. Dan itu membuat saya –mungkin juga Mat Kodrat, Mang Ja’i, Wak Slompret, Kiay Hermansyah, Uni Upik, dan Mas Gendul Gowang– kurang sreg.

Benarkah penduduk Lampung kurang bahagia, sementara di luar sana banyak alasan untuk bahagia?

Suer. Sungguh. Saya selalu bahagia meskipun pinggang sudah nyaris habis karena saking kerasnya mengencangkan ikat pinggang. Saya dan Man Dra’up tetap bahagia meskipun penghasilan hanya pas-pasan dan masih sering gali lubang tutup lubang. Satu-satunya sumber ketidakbahagian bagi orang ndesit  dan tak pernah makan bangku sekolahan macam saya adalah jika melihat wapres dan menteri nyengir kuda ketika mengomentari alasan Indonesia harus mengimpor beras dan jagung.

Ukuran bahagianya keluarga saya tentu berbeda dengan ukuran bahagianya Den Mas Semelekete atau Karto Krambil. Juga berbeda dengan ukurannya para responden survei BPS.

Namun, apa pun itu, Kalau survei BPS dilakukan pada saat ini atau setidaknya pada rentang waktu September 2017 hingga Januari 2018, maka ada kemungkinan hasilnya akan beda. Sebab, amat banyak alasan penduduk Lampung untuk bahagia.

Pilgub! Itulah alasan nomor wahid untuk bahagia. Karena akan ada pemilihan gubernur (pilgub), partai-partai yang gontok-gontokan pada Pilgub DKI Jakarta tiba-tba akur dan bikin acara pengajian bersama. Karena pilgub, ada jalan sehat tiap minggu dengan taburan hadiah sangat aduhai: mobil, sepeda motor, kulkas, mesin cuci, springbed, sepeda, telepon genggam (bisa dibaca henpon), dan uang tunai.

Oh ya, jangan lupa ada pula tawaran asyik mencicipi susu kaleng, sarung, sembako, dan halan-halan. 

Seandainya Pilgub digelar setiap tahun dan ada 10 pasang calon yang maju Pilgub serta sama-sama memanjakan penduduk Lampung, saya yakin indeks kebahagiaan penduduk Lampung akan meningkat.

Dan itu artinya, saya tidak perlu ngiri sama Budhy yang provinsinya nangkring di nomor wahid sebagai provinsi yang penduduknya paling berbahagia.