Beranda Kolom Kopi Pagi Pilgub Lampung dan Cara Santai Membaca Hasil Survei

Pilgub Lampung dan Cara Santai Membaca Hasil Survei

4599
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Mimin Trenjek langsung ngomel begitu membaca judul berita  Teraslampung.com tentang hasil survei Rakata Institute menjelang perhelatan pemilihan Gubernur Lampung. Maklum, dalam berita itu posisi Gubernur petahana Ridho Ficardo disebutkan tidak aman. Ia hanya nomor buncit dalam hal elektabilitas. Artinya, menurut survei itu, jika hari ini Pilgub digelar maka Ridho akan kalah. Pemenangnya adalah Mustafa.

“Pasti yang bikin berita sontoloyo! Gak becus jadi wartawan!” Mimin Trenjek nerocos di warung kopi Mbak Caca Marica Hehe, sambil memasukkan sepotong bakwan goreng ke mulutnya.

“Sabar Min… ada apa? Santai dulu…Ini masih pagi…” Mamak Lil berusaha menenangkan hati Mimin.

“Mana mungkin Pak Ridho gagal maju Pilgub? Itu namanya kiamat! Kayaknya nih ya yang punya media sentimen banget sama Pak Ridho. Jangan-jangan kolusi sama yang punya lembaga survei dan bakal calon lain!”

“Itu kan baru katanya lembaga survei. Sante aje kelessss…” Mas Lim Ban Pit mencoba menggoda.

Sante bijimana?! Ini sudah nggak benar! Mosok kerja Pak Ridho selama tiga tahun dianggap nggak ada apa-apanya?” Min Trenjek masih menunjukkan wajah berang.

Ia seruput kopi nasgitel sambil membaca selembar koran harian. Lagi-lagi judul koran pagi itu membuat ia makin jengkel.

“Koran sama saja! Maunya ngeroyok aja!”

Mimin melemparkan lembaran koran. Lembaran koran melayang ke wajah Mas Lim Ban Pit.

“Wah..sepertinya kamu ini  perlu membaca buku ‘Cara Santai Membaca Survei’ karya Prof. Dr. Cap Djie Ghong…”

“Makan tuh jigong lu!” pekik Min.

“Hahahahahahhaa” Mamak Lil dan Lim Ban Pit tertawa ngakak bersama.

***

Begitulah Mimin Trenjek. Ia akan marah tidak berkesudahan jika orang yang didukungnya dikabarkan buruk. Ia dulu juga pernah marah besar dan menghapus  semua kawan di Facebook yang mengejek Mas Prabs.

Ia juga akan marah nggak ketulungan jika ustaz pujaan hatinya disindir warganet.

Hidup Mimin Trenjek sebenarnya susah. Namun ia makin tambah susah dengan aneka galau bertubi-tubi yang dibuatnya sendiri. Itu karena orang yang didukungnya selalu dianggap sebagai tuannya. Ia begitu yakin bahwa pilihan dalam pilpres, pilgub, pilwakot,dan pemilu adalah pilihan hidup-mati. Juga pilihan surga-neraka.

Mimin tidak tahu bahwa Gubernur Ridho Ficardo saat ini sedang santai. Pak Ridho punya hasil survei sendiri dari lembaga lain. Pak Ridho juga punya kalkulasi sendiri soal politik dan pilgub yang tidak perlu dikasih tahu kepada para wartawan. Apalagi cuma kepada Mimin Trenjek.

Pak Ridho sudah khatam membaca kitab Cara Santai Membaca Survei karya Prof. Dr. Cap Djie Ghong. Makanya, ia pasti akan ketawa ngakak jika tahu Mimin Trenjek atau gerombolan anak buahnya marah-marah ketika membaca hasil survei.

Dalam buku Cara Santai Membaca Survei karya Prof. Dr. Cap Djie Ghong disebutkan bahwa survei adalah sebuah kerja akademis yang mensyaratkan penguasaan ilmu. Hasil survei bukanlah gambaran senyatanya dari fakta di lapangan.Hal itu karena dalam survei pasti memakai sampel.Presisi tidaknya hasil survei akan bergantung pada kualitas lembaga survei.

Menurut Prof. Cap Jhie Ghong, setidaknya ada 100 cara agar kita bisa santai membaca hasil survei. Lima di antaranya adalah: membaca bismillah, minum kopi panas atau teh hangat, pastikan paginya sudah sarapan, tidak menjadi bagian pihak yang disurvei, mempraktikkan filsafat Petruk Kantong Bolong, dan jangan mudah baper.

Kalau beberapa syarat itu dipenuhi, niscaya kita akan santai usai membaca atau mendengar hasil survei apa pun.

Nah, bagaimana kalau surveinya ternyata tidak betul? Misalnya, lembaga survei mendapatkan order dengan dana besar dari pihak tertentu? Menurut Prof.Dr. Cap Jhie Ghong, enyahkanlah pikiran buruk itu.

Memang, tidak semua lembaga survei bisa tahan godaan. Ada pula lembaga survei yang dulunya kredibel lama-lama melacurkan diri untuk kepentingan politik dan demi uang. Itu sama persis dengan seorang mantan akademikus andal yang dulu kerap jadi narasumber berita di media nasional tetapi begitu masuk jadi tukang survei tiba-tiba otaknya tersungkur.

Namun, tentu saja masih ada lembaga survei yang masih bisa dipercaya. Ini hukum alam. Sama halnya seperti mabluknya media online di jagat pers atau menjamurnya wartawan di era reformasi. Pada akhirnya akan mudah dipetakan mana media abal-abal yang sekadar dipakai pembuat dan pemiliknya untuk mencari uang dan mana media yang dibuat untuk kepentingan publik.

***

“Jadi begitulah Sista…. santai aja membaca survei….”ujar Mbak Caca Marica Hehe kepada Mimin Trenjek, ketika menjelang siang.

“Saya sih penginnya santai,tapi tetap nggak bisa. Karena saya yakin pasti ini ada apa-apanya,”ujar Mimin Trenjek.

“Justru hasil survei itu penting untuk evaluasi,Min! Toh ada banyak lembaga yang melakukan survei dan hasilnya berbeda-beda. Kamu nggak tahu saja bahwa Pak Ridho menurut hasil survei lembaga X hasilnya memuaskan,” kata Mamak Lil.

“Kok Mamak Lil tahu?”

“Ya tahu dong…” tukas Mamak Lil,”cuma hasil survei yang dipegang Pak Ridho tidak dipublikasikan.”

Mimin Trenjek kembali menyeruput kopi yang mulai dingin.

Suara azan terdengar dari Masjid Al Furqon.