Beranda Kolom Sepak Pojok Pilgub Lampung, di Mana Posisi Rakyat?

Pilgub Lampung, di Mana Posisi Rakyat?

330
BERBAGI

Jauhari Zailani

Pilgub, pemilihan gubernur, pemilihan kepala daerah, masihkah bermakna sebagai gawe ‘hajat’ politik rakyat? Atau pemilihan kepala daerah ‘lima tahunan’ itu sekedar ritual tanpa ‘greget’ kuasa sejati milik rakyat? Atau malah sekadar pertunjukan elite politik yang biasa saja, lumrah, membosankan, atau bahkan memuakkan rakyat? Atau, rakyat sudah puas hanya menjadi penonton?

Dari beberapa bulan yang lalu, kita semua menikmati, ketika rakyat Lampung disuguhi aneka festival. Seperti gerak jalan berhadiah, senam massal berhadiah, pengajian ‘akbar berhadiah, dan tak lupa kita sebut suguhan goyang penyanyi dangdut dari ibukota. Yang terakhir ini, kita bisa sebut dua jagoan lawas Dewi Persik dan Inul Daratista. Selain dua pedangdut perempuan itu, ada lagi ‘jagoan’ lain yaitu Nassar.

Kepada rakyat Lampung juga disuguhkan pertunjukan wayang kulit. Jagoan ‘dalang’ yang menjadi langganan untuk mendongkrak dan memoles kemonceran seseorang. Seorang yang tentu saja digadang-gadang bakal menjadi calon gubernur.

Kehadiran Enthus Susmono dari Tegal, Ki Dalang yang kini menjadi Bupati Tegal itu, memang kondang seantero jagad, selain sebagai dalang ia juga pendakwah. Dalam pertunjukkan itu, apakah rakyat menikmati wayangnya, menunggu hadiahnya, atau memang menjadi pendukung seorang cagub dan menjadi pemilih setia?

Semua hura-hura itu masih dalam rangka mengorbitkan bakal calon gubernur, karenanya ukuran massal menjadi penting. Populeritas seseorang dapat ‘dijual’, atau didesakkan kepada parpol yang kemudian menjadikannya sebagai pertimbangan utama. Jumlah massa, bisa dijadikan ukuran populeritas seseorang.

Janganlah heran, jika untuk mengejar jumlah itu kegiatan olah raga massal pun pun berhadiah. Hadiah, kadang berbentuk mobil, menjadi pemikat orang untuk datang. Jangan dikata dangdut. Populeritas menjadi penting pra pencalonan, menjadi penting upaya-upaya mengejar rangking popularitas.

Benarkah Pilgub menjadi ajang unjuk kebebasan bagi Rakyat? Pertanyaan ini aneh muskil, meski tetap penting diajukan karena pada awalnya, demokrasi menjadi ajang pamer kebebasan bagi rakyat. Dengan pemilu, rakyat dapat menyatakan kemerdekaannya, kemandiriannya, dan kebebasannya sebagai manusia. Jadi, tak salah jika ada yang berkata,melalui pemilu ‘manusia’ belajar kembali mengenali dan mempelajari kembali kemanusiaannya.

Namun, benarkah dalam Pilgub Rakyat sudah menjadi subjek (aktor utama) dalam pesta demokrasi? Pertanyaan ini acap diajukan karena banyak yang melihat, kini rakyat hanya sebagai objek para elite. Jika jadi obyek pembodohan, itu menyakitkan dalam konteks ‘membangun peradaban’.

Siapakah yang membajak rakyat?