Beranda Views Sepak Pojok Pilih Wagub, Jangan Terjebak Sosok Model Ayam Mau Bertelur

Pilih Wagub, Jangan Terjebak Sosok Model Ayam Mau Bertelur

681
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Beberapa kandidat bakal calon Gubernur Lampung yang akan bersaing pada pemilihan gubernur (Pilgub) 2018 sudah memastikan diri memenuhi syarat dukungan partai pendukung. Mereka adalah Ketua DPD Partai Golkar Lampung Arinall Djunaidi, Bupati Lampung Tengah Mustafa, dan Walikota Bandarlampung Herman HN. Petahana Gubernur Ridho Ficardo juga masih berpeluang ikut Pilgub.

Ketika rekomendasi partai dan gabungan partai sudah didapatkan, para bakal calon gubernur masih harus pusing (tidak mesti tujuh keliling) mendapatkan pasangan. Dari tiga bakal calon yang sudah dipastikan bisa maju Pilgub Lampung, sejauh ini belum satu pun yang memastikan menemukan sosok yang cocok untuk menjadi bakal calon wakil gubernur yang akan mendampinginya. Mereka — mungkin lewat tim sukses atau orang kepercayaan — sedang menyisir, tengok kiri-kanan, memilih-milih dan memilah-milah, membuat dahtar kandidat, untuk selanjutnya menentukan pilihan.

Memilih pasangan seiring untuik maju pada Pilgub Lampung 2018, barangkali, akan sama beratnya dengan mendapatkan restu dari dewan pimpinan pusat partai untuk maju sebagai bakal calon gubernur. Para kandidat bakal calon gubernur tidak saja harus mempertimbangkan variabel kepentingan DPP partai pendukung, tetapi juga mempertimbangkan popularitas, peluang elektabilitas, dan …. (tentu saja) stok dana yang bisa disiapkan sang bakal calon wakil gubernur.

Akan lain ceritanya jika sang bakal calon gubernur sudah memiliki stok dana yang sangat besar, uang yang nyaris “tidak berseri” (karena saking banyaknya), dan merasa sangat yakin popularitas plus elektabilitasnya di atas 50 persen.  Ia hanya merem dan disandingkan dengan monyet pun pasti akan menang.

Masalahnya, saat ini adakah bakal calon gubernur Lampung yang seperti itu?

Berdasarkan hasil survei terakhir Rakata Institute, popularitas bakal calon Gubernur Lampung masih dikuasai nama-nama Ridho Ficardo, Herman HN, lalu ditempel ketat Mustafa, dan disusul Arinal Djunaidi. Elektailitas Ridho dan Herman masih bersaing ketat. Pertarungan akan seru jika nanti ada empat pasangan calon gubernur – calon wakil gubernur. Jika sampai detik-detik akhir masa pendaftaran Ridho gagal memenuhi syarat dukungan partai dan gagal lolos verifikasi dukungan sebagai calon independen, maka Herman akan bersaing dengan Arinal dan Mustafa.

Karena kekuatan uang di balik Arinal, banyak yang meyakini persaingan keras akan terjadi antara Herman dan Arinal. Namun, hipotesis ini terlampau prematur dan kurang daya dukung argumentasi.

Pertarungan — atau lebi tepatnya persaingan — para kandidat akan seru jika masing-masing kandidat bakal calon gubernur memiliki bakal calon gubernur yang kurang lebih sepadan popularitas dan elektabilitasnya. Namun, jika para kandidat bakal calon gubernur “kepentok dana” sehingga terpaksa menggamit pasangan “sembarangan”, ceritanya akan lain.

Peta kekuatan pasangan peserta Pilgub Lampung 2018 sebenarnya akan mudah disimpulkan dan diaanalisis jika sejak awal para kandidat itu terbuka soal dana. Misalnya: berapa sih kekayaan pribadinya, berapa dana kampanye yang disiapkan, dari mana  saja sumber dananya; kalau dari donatur, siapa donaturnya?

Sayangnya, di Pilpres, Pilgub, Pilbub, maupun Pilwakot mana pun pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab. KPU dan Bawaslu belum pernah terdengar mengumumkan kepada publik tentang laku lajak atau sikap lancung para kandidat. Alhasil, kerap terjadi dalam sebuah pemilihan kepala daerah bertarung antara kandidat yang super power dana plus melimpah ruah uang entah dari mana sumbernya versus kandidat yang sempoyongan karena karena dana cekak.

Sebagai orang yang berdiri di luar pagar, saya cuma bisa menyarankan kepada para kandidat bakal calon gubernur Lampung: janganlah terpesona dengan sosok bakal calon wakil gubernur yang model rayuannya semodel dengan ayam betina yang akan bertelur.

Pernah lihat ayam betina mau bertelur? Ia — si ayam berbulu cantik atau mungkin berbulu bluwuk — akan berkotek. Ia lari ke sana – sini sambil mengepak-kepakkan sayapnya. Ia mencari tempat untuk bertelur yang nyaman.

Ia pada dasarnya sedang cari perhatian.

Jangan pula terjebak pada model ayam kalkun dan burung merak. Mereka memang berbulu indah. Namun, keindahan itu bisa jadi cuma jebakan…