Beranda Kolom Kopi Pagi Pilihan: Sekeping Medali Emas atau Kemuliaan

Pilihan: Sekeping Medali Emas atau Kemuliaan

485
BERBAGI
Roger Casugay dan Arif Hidayat (kolase foto/Instagram)

KEPUTUSAN untuk memilih hanya datang dalam hitungan milidetik: Kemenangan atau Kemuliaan.

Roger Casugay, peselancar Filipina memilih yang kedua. Meski yg pertama tampak lebih menyenangkan. Juga lebih nyata. Bagaimana nggak nyata?

Ia tengah bertarung habis-habisan untuk merebut singgasana emas lewat olahraga alam bebas di samudera yang ganas. Lawannya mengintai, siap merebut kemenangan. Cuma tersedia satu tempat teratas.

Tiba-tiba, datanglah ombak dari laut lepas, menghantam papan selancar salah satu lawan lombanya. Tingginya ombak lebih kurang tiga meter. Terbayanglah kekuatannya.

Di tengah lautan yg demikian luas, ombak itu menggulung Arip Nurhidayat, peselancar Indonesia, lawan lomba Roger yang sama-sama berburu emas. Arip kehilangan papan luncurnya, dan terapung-apung menghadapi ombak ganas. Tubuhnya melayang-layang bagai kertas.

Roger yang sudah melihat kilau medali emas di depan matanya, dalam hitungan milidetik berbelok pikirannya. Ia memang atlet selancar andalan tuan rumah yang digadang meraih emas. Tapi dalam hitungan detik, kesempatan itu ia lepas.

Ia memang dididik sebagai atlet profesional, sehingga kemenangan adalah tujuan utama. Tapi lebih dari atlet pro, rupanya ia punya naluri, ia adalah manusia. Jauh sebelum ia menjadi atlet.

Arip yang tengah tergulung ombak, direngkuhnya kuat-kuat. Diselamatkan Arip dari pusaran ombak yang menghantam hebat. Nalurinya sebagai manusia berhati emas, muncul dalam situasi darurat. Keduanya pun selamat dan menepi ke darat.

Roger kehilangan kemenangan, tapi merengkuh kemuliaan. Emas melayang, rasa hormat datang.

Tiap-tiap manusia punya kesempatan untuk meraih kemuliaan. Punya peluang untuk mendapat rasa hormat. Panggungnya saja yang berbeda. Roger “beruntung” memperolehnya di panggung international: SEA Games 2019.

Tapi ini bukan soal peruntungan. Ia pasti mendapat didikan, atau hidup dalam lingkungan, di mana menyelamatkan nyawa orang jauh lebih berharga, tak peduli yang diselamatkan itu dari bangsa mana, suku apa, atau lebih ekstrem lagi, agama apa.

Kisahnya akan dicatat lama di hati tiap manusia. Sedang jika ia mengambil pilihan menang, barangkali ia cuma dikenang sesaat.

Manusia bernama Arip berhutang nyawa. Tapi hutang bukanlah istilah yang tepat, rasanya. Karena Roger memberinya cuma-cuma. Meski ia harus merelakan kemenangan bagi dirinya.

Roger tak beroleh medali emas, tapi hati emasnya dicatat oleh sejarah. Emas dibiarkan lepas, karena baginya, rupanya kemanusiaan jauh lebih besar ketimbang keping emas yang lepas.

Alois Wisnuhardana

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaLama Tak Pulang, Tetangga Mengira Perceraian UAS Hoax
Artikel berikutnyaCapai Target SBABS 100 Persen, Direktur AKKOPSI Apresiasi Pemkab Lamsel
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya