Jejak  

Pilihan Tempat Deklarasi, Dua Pasangan Capres-Cawapres Dinilai tak Paham Sejarah

Bagikan/Suka/Tweet:

Gedung Djoang Tempat Pentolan Murba, Rumah Polonia Kediaman Istri ke-8 Bung Karno


Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya, Jakarta Pusat (dok)

Aan Frimadona Rosa/Teraslampung.com

JAKARTA, Teraslampung.com  – Hari ini masyarakat Indonesia menyaksikan sekaligus di beri jawaban teka-teki pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk bertarung pada 9 Juli 2014 mendatang. Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) yang menjadi calon presiden dan wakil presiden yang diusung PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura. Sementara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa diusung Partai Gerindra,PAN,PKS,PPP,PBB dan Partai Golkar.

Menjadi menarik adalah tempat pendeklarasian kedua pasangan capres dan cawapres tersebut. Deklarasi pasangan Jokowi-JK dilakukan di Gedung Joang 45 Jl. Menteng Rayam Jakarta Pusat, sementara deklarasi Prabowo-Hatta Rajasa digelar di Rumah Polonia, di Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Keduanya memang berkaitan dengan sejarah presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Namun, bagi ahli sejarah J.J. Rizal, pilihan deklarasi di dua tempat yang dianggap bersejarah itu kurang tepat.

Sangat benar kalau tempat itu bernilai sejarah tapi konon kabarnya kedua pasangan capres dan cawapres memberikan kesan serta makna akan semangat Soekarno kepada khalayak ramai bahwa semangat keindonesiaan yang dimiliki Bung Karno untuk dijual sebagai bahan baku dagangan kampanye yang sebentar lagi digelar tentunya merebut simpati masyarakat untuk meraih kemenangan pada pemilihan presiden kali ini.

Rumah Polonia di Cipinang Cempedak, Jakarta Timur (dok)

Sejarawan dari Universitas Indonesia J.J. Rizal menyoal sekaligus mempertanyakan keputusan Partai Demokrasi Perjuangan yang mengusung capres Jokowi-Jk di Gedung Joang 45. Menurut Rizal, Gedung Joang justru merupakan tempat berkumpulnya Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) yang dulu anti- Soekarno, kata Rizal, sebagaimana dikutip Tempo, Senin, 19 Mei 2014.

Pada praproklamasi dan pascaproklamasi, sikap Murba selalu berseberangan dengan pemerintah Soekarno. Maka itu, menurut J.J. Rizal, jelas tidak tepat Gedung Joang dijadikan tempat deklarasi oleh Jokowi-JK jika maksudnya adalah untuk mengingatkan sejarah perjuangan Bung Karno.

Masih menyoal tempat deklarasi, Rizal menanyakan pilihan Jusuf Kalla sebagai cawapres Jokowi. Menurut Rizal, ketua PMI itu bukan tokoh pemuda. Memilih Gedung Joang tidak pas karena tempat ini pernah menjadi tempat bersejarah bagi pergerakan kepemudaan di Tanah Air. Sedangkan cawapres PDIP justru memilih calon wakil presiden yang tak mewakili semangat pemuda.

“Ini kontraproduktif, Jusuf Kalla bukan tokoh muda”, ujar alumnus Universitas Indonesia itu.

Rizal juga mempertanyakan tempat pendeklarasian pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yakni di bekas rumah Sukarno di Rumah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta Timur.

Menurut Rizal, rumah itu merupakan bekas kediaman istri Sukarno yang ke-8. “Ini ingin mengangkat simbol Sukarno atau untuk mengejek?” kata Rizal.

Dari kesimpulan Rizal, baik PDIP maupun Gerindra tidak memiliki kemampuan mengetahui sejarah Sukarno. Bahkan, sejarawan dan aktivis budaya Betawi ini berasumsi mereka hanya ingin meraup keuntungan dari nama besar Presiden RI pertama itu.

“Mereka tak paham sejarah. Ini hal yang gila,” kata Rizal