Beranda Views Opini Pilkada Pesawaran: Faktor “X” yang tak (Pernah) Dihitung Pesaing Dendi Ramadona

Pilkada Pesawaran: Faktor “X” yang tak (Pernah) Dihitung Pesaing Dendi Ramadona

146
BERBAGI

Oyos Saroso HN

Penghitungan cepat yang dilakukan Rakata Institute menempatkan Dendi Ramadona sebagai pemenang Pilkada Kabupaten Pesawaran. Ia mengalahkah calon petahana pewaris trah Abdurrachman Sarbini (Mance), Aries Sandi Dharma Putra.

Menurut Rakata Institute, Dendi Ramadona memperoleh dukungan suara  45,92 persen, sedangkn calon petahana Aries Sandi Dharma Putera hanya mendapatkan dukungan 29,06 persen. Calon lain, Fadhil Hakim dan Oktari Jaya masing-masing mendapat suara 19,30 persen dan 6,57 persen.

Hingga Kamis malam (10/12/2015) belum 100 persen data masuk ke KPU. Namun, berdasarkan data KPU (kpu/go.id), hasil perolehan riil para calon kepala daerah Kabupaten Pesawaran tidak jauh berbeda dengan hasil hitung cepat Rakata Institute.

Berdasarkan hasil rekapitulasi formulis C1 (hasil penghitungan suara di TPS) yang ditabulasi KPU, hingga Kamis malam (10/12) Aries Sandi Darma Putra, S.H., M.H- Mahmud Yunus memperoleh   65.545 suara (29,22%), H. Okta Rijaya M, S.H.I.-Salamu Solikhin  13.984 suara (6,23%), Fadhil Hakim YHS, BBA –  Zainal Abidin, S.Pt.memperoleh 38.961 suara (17,37%), sedangkan
H. Dendi Ramadhona K, S.T. -Eriawan, S.H. mendapatkan : 105.818 suara (47,18%.

Dengan data itu, hanya “kecurangan masih dan terstruktur” dan terbuktilah yang akan bisa menjegal Dendi.Artinya, hampir bisa dipastikan Dendi akan ringan melenggang menduduki kursi Bupati Pesawaran menggantikan Aries Sandi Dharma Putra.

Perjuangan Dendi untuk meraih kemenangan tidaklah ringan. Maklum. pesaing beratnya adalah petahana yang konon cukup populer dan dicintai rakyatnya. Melalui banyak foto dan berita yang beredar di dunia maya, tergambar bagaimana antusiasnya warga Pesawaran menyambut setiap kedatangan Aries Sandhi. Di media sosial, kampanye tim Aries Sandhi pun tampak lebih sistematis, rapi, dan masif. Mereka memiliki situs informasi sendiri yang tiap hari bisa mengunggah kegiatan sosialisasi Ariesandi.

Sebaliknya. sosialisasi dan berita Dendi Ramadona di dunia maya nyaris senyap. Ada satu-dua berita baru tentang Dendi, tetapi isinya kampanye hitam. Bahkan, malam menjelang saat pencoblosan pun Dendi masih dihajar kampanye hitam dan olok-olok melalui dunia maya.

Kesenyapan itu berubah jadi kemeriahan dan suka cita ketika Rakata Institute merilis hasil penghitungan cepat yang menempatkan Dendi Ramadona sebagai pengumpul suara terbanyak, mengalahan calon petahan Ariesandi Dharma Putra.

Meski masih sementara — karena hasil akhirnya masih harus menunggu keputusan pleno KPU– kemenangan Dendi Ramadona dalam Pilkada Pesawaran termasuk fenomenal. Fenomenal, karena Dendi adalah politikus muda yang berani bersaing dengan petahana yang kekuatannnya ditakuti calon lawan. Ia tidak takut kalah dengan risiko kehilangan ‘status’ sebagai anggota DPRD Lampung.

Sementara itu, publik di Lampung a tahu beberapa bulan sebelum pendaftaran  Pilkada ada sejumlah tokoh Pesawaran yang tak kalah kuat dibanding Dendi yang akan mencalonkan diri dalam Pilkada Pesawaran. Muncul antara lain nama Almuzamil Yusuf dan Musiran. Namun nama keduanya meredup dan tidak melanjutkan melangkah untuk bersaing dalam Pilkada. Mundurnya Almuzamil dan Musiran, tentu saja, dengan pertimbangan matang. Salah satu pertimbangannya kemungkinan besar adalah terlalu kuatnya calon petahana.

Munculnya Dendi di antara dua pasangan calon lain yang juga menantang calon petahana membuat pertarungan Pilkada Pesawaran lebih seru. Bisa dikatakan, meskipun ada dua pasangan lain penantang Ariesandi, tetapi pertarungan  sesunggguhnya atau ‘head to head’ terjadi antara Aries Sandi Dharma Putra dengan Dendi Ramadona.

Di luar “kekuatan individualnya” masing-masing, persaingan keduanya bisa dikatakan sebagai persaingan antara trah Abdurrachman Sarbini Natamenggala (Mance) dengan Zulkifli Anwar. Di sinilah agaknya ada banyak “faktor X” yang tidak dihitung tim pemenangan Arie Sandi Dharma Putra.

“Faktor X” itu bisa berupa dukungan tak tampak terhadap Dendi Ramadona karena faktor ayahnya pernah berjasa di Lampung Selatan saat menjabat Bupati (dulu Pesawaran masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan). Bisa juga berupa sisi-sisi kelemahan Aries Sandi yang tidak segera dipoles dan diperbaiki. Meski tidak menjadi bahan kampanye hitam pihak lawan, sisi lemah calon petahana tidak akan bernah berubah menjadi baik dan bernilai plus di mata  masyarakat Pesawaran.

Di banyak daerah yang menggelar Pilkada, hal  yang sering dianggap sebagai sisi lemah calon petahana dan jadi objek serangan calon pesaingnya misalnya adalah buruknya  infrastuktur jalan, buruknya pelayanan kesehatan, pelayanan publik, dan pendidikan. Saya tidak melihat ada kampanye di medsos dengan isu itu dalam menjelang Pilkada Pesawaran.

Hal itu berbeda sekali, misalnya, saat menjelang Pilgub Lampung 2014 lalu. Ketika itu, Herman HN dihajar habis-habisan bahkan oleh media lokal yang menikmati kepretan langganan koran terkait proyek jembatan layang. Objek hajaran selain asal-usul dana proyek, juga buruknya jalan lama yang berada di bawah jembatan layang dan ekonomi pembangunan jembatan layang.

Dalam Pilkada langsung yang diikuti oleh calon petahana, sang penantang yamg rekam jejak dan kiprahnya belum begitu banyak diketahui publik memang harus pintar berstrategi. Di seberang lain, calon petahana harus memiliki strategi bertahan sekaligus menyerang yang taktis. Prestasi selama menjabat sebagai kepala daerah adalah senjata tersendiri. Sementara kelihaian menangkal serangan isu-isu negatif merupakan senjata lain. Dalam konteks ini, tanpa ada prestasi yang luar biasa atau minimal tidak ‘jeblok-jeblok amat’, calon petahana yang tidak bisa mengatasi aneka serangan isu tersebut akan berat untuk menang.

Pada titik inilah, agaknya,calon petahana kurang jeli ‘menghitung’ kekuatan lawan yang berkelindan dengan “faktor X”.