Beranda Kolom Kopi Pagi Pilkades dan Tragedi Lurah Cumplung

Pilkades dan Tragedi Lurah Cumplung

4600
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Pak Lurah Cumplung sebenarnya cuma tinggal selangkah saja memenangi pilkades di Desa Wit Klapa Mentiyung. Sialnya, pada saat dia dan tim suksesnya gencar-gencarnya berkampanye, tiba-tiba ia ditangkap polisi dan mesti meringkuk di sel hanya karena terjerat kasus dana desa.

Uang negara yang diambil Lurah Cumplung sebenarnya kecil saja: cuma Rp 200 juta dari Rp 1 miliar dana yang masuk ke kampungnya. Namun, meskipun kecil, pak polisi rupanya tidak pandang bulu. Pak Lurah Cumplung tetap ditangkap.

Itulah awal tragedi sekaligus tragedi pertama kali Lurah Cumplung selama hidupnya. Selama 52 tahun kakinya menjejakkan ke bumi, Cumplung belum pernah menemui tragedi. Kakek-neneknya, juga ayah-ibunya, masih lengkap. Sejak kecil Cumplung tidak pernah susah. Ayahnya, Parto Krambil, termasuk orang terpandang. Maklum, Pak Parto Krambil adalah kepala desa yang juga punya usaha penggilingan padi, ternah ayam, dan ternah sapi. Ia lurah terkaya sekecamatan.

Sejak SD hingga bangku kuliah, Cumplung tak pernah susah. Saat mendapatkan istri pun sangat mudah. Siti Makanti, istri Cumplung, jatuh cinta kepada Cumplung sejak sama-sama SMA. Kala itu Cumplung jadi ketua OSIS, sedangkan Siti Makanti sekretaris OSIS.

Mereka kuliah di universitas berbeda, di lain kota. Jalinan cinta tetap utuh sampai keduanya jadi sarjana, lalu menikah.

Saat resepsi pernikahah Cumplung Bin Parto Krambil Vs Siti Markanti Binti Karto Ongol-Ongol, Pak Parto Krambil nanggap wayang kulit sehari semalam suntuk. Siang harinya Ki Sutarko dari Kutoarjo yang mendalang. Malam harinya Ki Timbul Hadi Prayitno dari Yogyakarta yang memukau penonton dengan sabetan wayangnya.

Hingga punya anak empat, Pak Cumplung dan Bu Siti tidak pernah susah. Ia kemudian ikut pemilihan lurah ketika Pak Parto Krambil lengser. Hasilnya: Cumplung menang pilkades!

Pesta kemenangan pun digelar dengan menggelar wayang kulit. Dalangnya Ki Entus Susmono dari Slawi, Kabupaten Tegal. Rakyat kampung berpesta pora.

***

Selama Cumplung menjadi kepala desa, Desa Wit Klapa Mentiyung sebenarnya maju pesat. Maklum, Desa Klapa Mentiyung wilayahnya pertaniannya luas, terutama padi dan palawija. Selain bertani, hampir seperlima warga desa juga beniaga. Minimal para ibu rumah tanganya berjualan di pasar. Sebagiannya lagi membuka kios dan warung kopi.

Selain itu, menggerojoknya uang dari pemerintah pusat lewat alokasi dana desa (ADD) juga makin membuat infrastruktur jalan dan saluan irigasi di Desa Klapa Mentiyung makin bagus

Sayangnya, tak banyak warga desa yang tahu bagaimana cara Lurah Cumplung mengelola dana desa. Salah satu yang tahu hanyalah Pak Carik Prayit. Pak Prayit yang menjadi sekretaris desa sejak sebelum Pak Cumplung menjadi lurah, tahu persis cara Pak Cumplung maling uang negara.

Pada Pilkades kali ini, Pak Prayit juga mencalonkan diri. Ia disebut-sebut menjadi saingan terberat Pak Cumplung. Tapi Pak Cumplung tidak khawatir, karena semua kelompok pengajian, semua pengurus perkumpulan pemuda, preman kampung, hingga kelompok arisan sudah dimanjakannya selama bertahun-tahun lewat uang amplop dan proyek kecil-kecilan.

Semua anggota tim suksesnya juga sudah dibelikan sepeda motor dan hape pintar plus honor Rp 10 juta/bulan. Semua sudah aman.

Pak Cumplung lupa bahwa pesaingnya bukan orang sembarangan.

***

Pilkades tinggal dua bulan lagi. Tapi Pak Cumplung masih di tahanan polisi. Sebagian TS-nya sudah kabur dan loncat mendukung Pak Prayit. Sebagian kecil TS Pak Cumplung masih meramaikan media sosial. Mereka adalah para TS yang bayarannua memang lebih besar. Dua di antaranya adalah ketua kelompok pemuda dan ketua pengajian yang memiliki jumlah pendukung sangat banyak.

Penduduk kampung tidak tahu apakah saat pencoblosan nanti Pak Cumplung bisa tampil atau tidak di lapangan desa. Sebagian besar di antara warga desa sudah apatis Pak Cumplung bisa ikut pilkades. Kalau pada saat pencoblosan Pak Cumplung tetap tidak bisa keluar, itulah benar-benar tragedi bagi Lurah Cumplung. Dus juga berarti tragedi bagi keluarga besar Parto Krambil.

“Oleh sebab itu, marilah kita doakan agar Pak Cumplung selamat dan tidak khilaf. Cobaan ini memang berat, tapi kita harus yakin bahwa skenario Tuhan akan lebih sip markosip. Semoga Pak Cumplung jadi kades lagi…” kata Amat Mesir, pada suatu sore yang hujan di RT 5 RW III  Dusun Bluluk, Desa Wit Klapa Mentiyung.

“Aamiiiiiiiiiiin!!!” jawab puluhan warga RT 5 TW III Dusun Bluluk.

*Catatan: Meskipun statusnya desa (bukan kelurahan), banyak kepala desa di Jawa Tengah disebut Pak Lurah, bukan Pak Kades.

Nyengir Boleh Tidak Juga tak Apa: Jumat Keramat bagi Cumplung

Sruput juga: Pidato Pertama Para Kades di Negeri Rai Munyuk