Beranda Kolom Sepak Pojok Pilpres, Saling Intip Cawapres, dan “Huuuuuuuuu….”

Pilpres, Saling Intip Cawapres, dan “Huuuuuuuuu….”

279
BERBAGI
Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto naik kuda.(dok tempo.co)

Oyos Saroso H.N.

Sok-sokan saling intip calon wakil presiden yang akan digandeng menuju palagan Pilpres 2019, hasilnya cuma “huuuuuu….”

Itulah pesan yang saya dapatkan dari Mat Rujak’i,beberapa hari lalu,menjelang subuh, setelah Prabowo mengumumkan menggandeng Sandiaga Uno.

Sebelumnya, Jokowi sudah lebih dulu mengumumkan pendampingnya. Bukan Mahfud M.D., seperti yang santer tersiar beberapa jam sebelumnya. Pendamping Jokowi adalah KH Ma’ruf Amin. Ia kyai plus-plus-plus,tetapi dengan banyak catatan minus-minus-minus.

Maka itu, baik bakal cawapres Prabowo maupun Jokowi sebenarnya “huuuuuuu…” juga. Mengecewakan banyak pihak,penuh kompromi, tetapi mereka sok-sokan saling intip untuk mendapatkan pasangan terbaik.

“Huuuuuuuu…..” adalah ekspresi kecewa.Mungkin juga ungkapan masa bodoh atau cibiran “ah, cuma segitu”.

Namun, konon itulah politik. Konon pula politik itu serbamungkin: tak ada kawan atau lawan abadi. Yang ada adalah kepentingan. Runyamnya, demi hasrat menuntaskan kepentingan itu rakyat sering diseret-seret untuk ikut serta dan dengan mudah ditinggalkan di tengah jalan. Sebab itu, celakalah rakyat yang bersetia pada pilihan dan mendaku memilih pemimpin serupa memilih surga atau neraka tetapi pada akhirnya ia sendiri yang terlindas oleh dampak hasil pilihannya.

Kalau cuma menghasilkan “huuuuu…..” semestinya Jokowi dan Prabowo tidak perlu susah-susah membuat daftar calon pasangan terbaik sembari menyembunyikan dari kubu lawan. Toh akhirnya publik akan tahu,hasilnya ya cuma itu-itu saja.

“Huuuuuuu….” pascapengumuman bakal cawapres akan melahirkan banyak kemungkinan buruk. Salah satunya adalah ketidakpercayaan pada langkah zigzag politikus dan golongan putih (golput). Mereka yang berada pada barisan tukang sorak dan para pemandu sorak yang pujaannya tersingkir dari bursa bakal cawapres akan mundur teratur dari hiruk pikuk pilpres.

Dan,bisa jadi jadi, pada akhirnya pilpres hanyalah ritus lima tahunan berbalut bisnis yang tidak berdampak signifikan terhadap nasib rakyat.

Isu mahar cawapres adalah bukti bahwa politik itu memang ladang bisnis. Okelah bukan ladang bisnis, tetapi setidaknya isu itu membuktikan bahwa Mat Rujak’i atau Mas Godril tidak bakalan bisa jadi capres atau cawapres kalau tidak punya timbunan uang yang superbanyak.

Bagaimana capres Jokowi? Sama saja. Ia tidak mungkin berani maju pilpres (selain karena memang berstatus petahana) kalau tidak punya stok sumber daya dan sumber dana superbesar.

Rentetan drama menjelang pengumuman bakal cawapres: mulai silaturahmi AHY ke keluarga Jokowi,ocehan Andi Arief soal jenderal kardus, hingga merapatnya Partai Demokrat ke Prabowo-Sandi cukuplah mempertegas bahwa fulitik di Indonesia tidaklah perlu terlalu diresapi secara serius. Ia hanyalah sebentuk hasrat manusia yang oleh Johan Huizinga sebut sebagai homo ludens. 

Ini permainan, bung dan nona!