Pintar dan Benar

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila

Dua kata ini sering berjalan seiring, namun sebenarnya memiliki perbedaan yang nyata. Definisi operasional kata “pintar” yang dipakai dalam tulisan ini adalah mengetahui, pandai, memiliki ilmu. Pintar selalu dikaitkan dengan prestasi akademik. Sebab, orang pintar selalu bergelut pada ilmu. Kata ini sering juga disamakan dengan cerdas. Padahal, kedua kata itu memiliki makna yang berbeda.

Secara umum, perbedaan cerdas dan pintar yang paling terlihat adalah pola pikir mereka yang berbeda. Pola pikir adalah suatu gagasan, metode ataupun cara yang diyakini dan digunakan oleh seseorang saat memandang serta memahami suatu hal. Sehingga, cara berpikir ini akan memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan dan menangani sesuatu.

Oleh sebab itu, orang pintar yang biasanya mendapatkan pengetahuan dari belajar teori akan menangani suatu kondisi berdasarkan apa yang mereka pelajari saja. Sedangkan orang cerdas mampu melihat dari berbagai sudut pandang dan bisa berpikir cerdik dan kreatif dalam melihat sesuatu.

Sedangkan kata benar sedikitnya memiliki enam pengertian: Pertama, sesuai sebagaimana adanya (seharusnya); betul; tidak salah. Kedua, tidak berat sebelah; adil. Ketiga, lurus (hati). Keempat, dapat dipercaya (cocok dengan keadaan yang sesungguhnya); tidak bohong. Kelima, sah. Keenam, sangat; sekali; sungguh.

Khusus tulisan ini ingin mengaitkan antara pintar dan benar dipandang dari sudut filsafat manusia. kedua kata ini nyaris berkelindan dalam aplikasinya pada kehidupan keseharian manusia. Walaupun sebenarnya kedua makna yang terkandung didalamnya memiliki perbedaan yang esensial jika dikenakan kepada perilaku manusia.

Menurut pujangga R.Ng. Ronggowarsito, ada empat pasangan antara pintar dan benar jika diterapkan kepada perilaku manusia sepanjang masa. Pertama, “Ora kabeh wong pinter kuwi bener“. Terjemahan bebasnya: “Tidak semua orang pandai itu benar”. Maksud pitutur atau nasihat satu ini ialah kepandaian seseorang tidak menjamin perilakunya itu benar. Bisa jadi orang yang pandai itu justru berbuat yang tidak benar menurut hukum kehidupan, baik negara maupun masyarakat.

Kedua, “Ora kabeh wong bener kuwi pinter“. Terjemahan bebasnya: “Tidak semua orang benar itu pandai”. Maksudnya adalah tidak semua orang berbuat benar itu pasti pandai. Berarti kebenaran itu bisa dilakukan siapa saja dan tidak harus pandai. Atau tidak harus pandai dulu baru benar.

Ketiga, “Akeh wong pinter neng ora bener” (Banyak orang pandai tetapi tidak benar). Maksudnya, tidak menjamin semakin banyak orang pandai maka semakin banyak orang berbuat benar. Bisa jadi karena terlalu banyaknya orang pandai maka banyak pula yang berperilaku tidak benar.

Keempat, “Akeh wong bener senanjan ora pinter” (Banyak orang yang benar walaupun tidak pandai). Ini menunjukkan bahwa perilaku benar itu tidak harus melekat pada orang pintar. Atau dengan kalimat lain sekalipun tidak pintar tetap berpeluang untuk berbuat benar.

Jika kita renungkan dengan keterbatasan teknologi saat itu, dan juga keterbatasan sarana prasarana jika dibandingkan masa kini, ternyata jaman itu sudah ada pujangga yang berpikiran visioner, bahwa pada masanya manusia akan tergolong pada empat dimensi secara sistemik. Kebenaran pemikiran beliau itu saat ini benar adanya, justru dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, keempat dimensi itu makin nyata kebenaran dan keberadaannya.

Buya Hamka justru lebih operesional lagi dalam mengkaitkan keduanya dengan berpesan: Pertama, “Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba karena di dalam mencoba , itulah kita menemukan kesempatan untuk berhasil”. Di sini tampak sekali bahwa pintar dan benar harus menyatu untuk selalu mencoba guna menemukan keberhasilan.

Kedua, “Jangan takut gagal karena orang yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah melangkah”. Di sini tampak sekali bahwa pintar dan benar merupakan modal untuk melangkah, dan jika keduanya juga menyatu, maka yang ada adalah keberanian untuk melangkah.

Ketiga, “Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”. Tampak sekali yang membedakan manusia dengan mahluk lain dalam hidupnya adalah pintar dan benar. Pintar saja bisa dimiliki oleh mahluk lain, tetapi benar, tidak bisa dimiliki mahluk lain, karena tidak ada norma yang mengatur sebagai acuan.

Tiga hal peninggalan kata bijak dari Buya Hamka (dari ribuan yang beliau tulis), ternyata memberikan pedoman bagaimana bertindak pintar secara benar, dan berlaku benar secara pintar.

Semoga di hari yang fitri ini kita masih dapat berhikmat untuk selalu mencari keridhoan Ilahi. Dengan rasa tulus dari hati yang paling dalam, dan takzim, sekaligus saya menutup tulisan ini dengan ucapan Takoballolohi wa minkum, takobal yakarim, saya menyampaikan mohon maaf lahir batin kepada semua sidang pembaca yang terhormat, jika ada selama ini kata tertulis menyinggung perasaan, sampaian rasa yang tidak selera, merajut pikir yang tidak sejalan.

Semoga Allah mengampuni. Minal Aidin wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin.