Beranda News Pelayanan Publik PLTU Tarahan 3 Rusak, PLN Lakukan Pemadaman Bergilir Hingga 17 September 2013

PLTU Tarahan 3 Rusak, PLN Lakukan Pemadaman Bergilir Hingga 17 September 2013

122
BERBAGI
PLTUTarahan

Teraslampung.com — Rusaknya PLTU Tarahan 3 di Lampung Selatan sejak Senin lalu (2/9/2013) menyebabkan krisis listrik di Lampung makin parah. Kondisi itu menyebabkan PLN Lampung melakukan pemadaman tiap hari di seluruh wilayah Lampung. Pemadaman dilakukan pada malam dan siang hari.

Pemadaman bergilir sebenarnya sudah dilakukan PLN sejak pertengahan Agustus 2013 lalu. Namun, saat itu listrik padam hanya berkisah 2-3 jam. Kini pemadaman listrik dilakukan PLN antara 6 jam hingga 8 jam sehingga menyebabkan banyak pelanggan protes. Apalagi pemadaman selalu dilakukan secara tiba-tiba dan tidak ada pemberitahuan lebih dulu.

Manajer PLN Lampung, Alam Awaludin, mengatakan PLN terpaksa melakukan pemadaman listrik terpaksa dilakukan karena mengalami krisis daya akibat rusaknya PLTU Tarahan III. Selain karena rusaknya PLTU Tarahan 3 krisis listrik di Lampung juga terjadi rusaknya jaringan transmisi Sumatera Selatan—Lampung.  Jaringan transmisi itu selama ini berfungsi memasok listrik dari wilayah Sumatera bagian selatan ke Lampung jika Lampung mengalami kekurangan daya.

“Titik kerusakan ada di Baturaja, Sumatera Selatan sejak pertengahan Agustus 2013 lalu. Setelah itu transmisi Bukit Kemuning—Kotabumi (Lampung Utara). Kini ditambah dengan rusaknya PLTU Tarahan III di Lampung Selatan. Kami menargetkan pada 17 September kondisi listrik sudah normal kembali,” kata Awaludin, Selasa (3/9).

Menurut Awaludin pihaknya sedang terus berusaha memperbaiki gardu induk di Baturaja dan PLTU Tarahan. Bersamaan dengan upaya perbaikan, PLN meminta para pelanggan untuk menghemat listrik pada saat listrik nyala.

Data di PLN Cabang Tanjungkarang, Lampung, menyebutkan dengan pelanggan sebanyak 1,3 juta, Lampung butuh daya listrik sebesar 1.000 megawatt. Sementara Lampung hanya memiliki daya listrik sebesar 600 MW.

“Sisanya dipasok dari jaringan interkoneksi Sumatera bagian selatan,” katanya.

Wakil  Manajer Hukum dan Humas PT PLN Distribusi Lampung ,  I Ketut Darpa, mengatakan sampai 17 September mendatang PLN akan melakukan pengurangan beban listrik karena sedang melakukan pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tarahan Unit III serta Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulu Belu Unit I di Kabupaten Tanggamus.

Ketut mengungkapkan, PLTU Tarahan Unit III akan melaksanakan pemeliharaan boiler pada 1-8 September.

“Sementara PLTP Ulu Belu Unit 1 sudah jatuh tempo untuk menjalani pemeliharaan tahunan yang sudah terjadwal dan harus terlaksana 1-17 September.  Dua pembangkit listrik tersebut tidak bisa beroperasi selama periode pemeliharaan. Kami tidak bisa berharap pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Way Besai dan PLTA Batutegi karena debit airnya sangat minim,” kata dia.

Ketut mengatakan untuk menambah pasokan daya listrik di Lampung PLN akan mempercepat pengoperasian PLTU Sebalang 2 x 100 MW pada akhir 2013 mendatang. Selain itu tambahan daya listrik juga diharapkan akan didapatkan dari PLTU Gunung Sugih sebesar 2 x 7 MW yang diperkirakan beroperasi pada akhir September 2013.

Sementara itu, akibat seringnya pemadaman listrik oleh PLN, masyarakat di berbagai daerah di Lampung sudah mulai bereaksi  keras. Pada Minggu malam (1/9) misalnya, ratusan warga Kabupaten Lampung Tengah mengamuk di kantor PLN Bandarjaya. Mereka melempari kantor PLN dengan batu dan memecahkan kaca-kaca jendela. Gugatan class action juga akan dilakukan sejumlah pengacara dan kelompok masyarakat.

“Warga marah karena pada Sabtu (31/8) listrik padam semalam penuh. Minggu siangnya listrik mati lagi. Pemadaman yang sangat lama itu baru terjadi saat itu. Bayangkan, selama 12 jam listrik mati,” kata Marsono, warga Bandarjaya, Lampung Tengah.

Muhammad Yunus, Direktur Eksektutif  Komite Anti Korupsi (Koak) Lampung, mengatakan pihaknya bersana sejumlah pengacara akan mengajukan gugatan class action kepada PLN karena PLN dianggap lalai memenuhi hak-hak pelanggan.

“Pelayanan kepada pelanggan itu sebenarnya terukur. PLN bersikap sangat keras terhadap pelanggan yang menunggak membayar tagihan, sementara melakukan pemadaman secara semena-mena. Konsumen posisinya sangat lemah,” kataYunus.

Mas Alina Arifin