Beranda News Kesehatan Pneumonia, Penyakit Nomor Satu Pembunuh Bayi dan Balita

Pneumonia, Penyakit Nomor Satu Pembunuh Bayi dan Balita

764
BERBAGI

Fadilasari

Belum banyak orang tua yang tahu tentang penyakit pneumonia. Padahal, penyakit ini adalah pembunuh nomor satu pada bayi dan balita. Hal itu mengacu pada hasil penelitian WHO dan UNICEF yang menyebutkan pneumonia adalah pembunuh paling utama dan penyebab kematian paling tinggi dibanding penyakit lainnya, seperti diare, malaria, dan campak.

Berdasarkan data World Healt Organization (WHO) 2011, setiap tahunnya lebih dari 2 juta bayi dan anak yang meninggal karena pneumonia. Itu artinya, dalam satu hari dari ada lima balita meninggal karena pneumonia. Dalam satu menit terdapat empat balita yang meninggal dunia. Bahkan United Nations Children’s Fund (UNICEF) memperkirakan penyakit pneumonia membunuh tiga juta anak setiap tahunnya.

Pada acara seminar yang bertema “Pneumonia Pembunuh Utama Pada Balita” di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa, 4 November 2014, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (PPML), Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI, dr Sigit Priohutomo, menjelaskan bayi dan anak-anak rentan dengan penyakit ini.

Berdasarkan data yang dihimpun, ada sekitar 309 ribu anak terserang pneumonia di Indonesia setiap tahunnya, yang meninggal ada 197 ribu anak. Sehingga rasio-nya setiap 1,7 menit ada satu anak yang terserang dan setiap 2,6 menit ada yang meninggal.

Sayangnya, akibat ketidaktahuan orang tua, meski angka kematian yang begitu tinggi, ternyata belum banyak perhatian terhadap penyakit ini. Di negara berkembang, pneumonia merupakan penyakit yang terabaikan (the neglegted disease) atau penyakit yang terlupakan (the forgotten disease).

Begitu banyak bayi dan anak-anak yang meninggal karena penyakit ini namun sangat sedikit perhatian yang diberikan. Bahkan banyak bayi dan balita yang meninggal karena pneumonia, akibat ketidaktahuan orang tuanya, bahwa penyakit itu berbahaya.

Kebanyakan orang tua baru menyadari betapa berbahaya penyakit itu, ketika kematian sudah merenggut nyawa sang buah hati. Apalagi di masyarakat kita masih berkembang pemahaman, bahwa bayi yang sakit tidak perlu buru-buru dibawa ke dokter atau minum obat. Bayi yang masih rentan dan baru lahir, tidak perlu dan tidak boleh minum obat yang banyak mengandung zat kimia.

Penyakit pneumonia yang gejalanya mirip influenza biasa, membuat orang tua sering mengabaikannya. Gejala umumnya hanya batuk biasa, yang kadang disertai sedikit demam. Perbedaannya dengan batuk biasa, pada penyakit pneumonia terjadi napas cepat. Hal inilah yang masih banyak belum dipahami para orangtua. Kekurangpahaman ini harus dibayar mahal.

Itulah yang saya dulu saya alami, ketika anak bujangku, Alvin Rafa, berpulang pada usia 2 bulan 10 hari.

Alvin mengalami batuk, akibat tertular kakaknya, atu Icha, yang ketika itu masih berusia 1,8 tahun. Batuk Icha memang dahsyat dan susah sembuh, karena Icha tidak bisa minum obat. Saat mau minum obat, Icha selalu mengeluarkan lagi  cairan obat yang tertelan di mulutnya. Batuk Icha juga menular pada mama dan papanya. Wal hasil, Alvin kecil terserang batuk yang berasal dari kakak, mama, dan papanya sekaligus.

Aku baru menyadari penyakit yang itu berbahaya, ketika dari hari kehari Alvin terlihat lemas, dan setiap akan batuk, sekujur tubuhnya membiru kehitaman. Alvin sempat dirawat di dua rumah sakit berbeda, hingga kemudian menghembuskan napas terakhir setelah delapan hari dirawat di ruang ICU. Sebuah kejadian yang amat jauh dari dugaanku. Bagaimana tidak, ternyata batuk bisa merenggut nyawa seorang manusia.

Sepeninggal Alvin, aku banyak mencari informasi tentang penyakit tersebut. Aku mendapat informasi dari internet, buku, majalah, berkonsultasi dengan beberapa dokter anak dan dokter paru.

Pneumonia adalah infeksi akut pada parenkim atau jaringan paru-paru, yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme, yang berdampak pada kerja alveoli. Alveoli yaitu organ yang berfungsi untuk menyerap oksigen dari atmosfer yang kemudian menyebarkannya ke seluruh tubuh. Akibat infeksi ini, fungsi alveoli menjadi terganggu karena terisi cairan, hingga mengakibatkan gangguan pernapasan.

Menteri Kesehatan periode sebelumnya, Endang Rahayu Sedyaningsih, mengakui, pneumonia masih belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, bagaimana bahayanya penyakit itu, tanda-tanda, serta gejalanya. Terbukti hanya satu dari tiga penderita saja yang sampai ke tenaga kesehatan. Padahal, pneumonia tercatat sebagai penyakit penyebab kematian paling utama di dunia bagi anak berusia bawah lima tahun (balita).

Untuk mengatasi penyakit dan menekan jumlah penderita , setiap tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Pneumonia Dunia (World Pneumonia Day). Di Indonesia, hari pneumonia diperingati sejak 2 November 2009. Peringatan itu dimaksudkan sebagai ajang sosialisasi dan upaya mencegah penyakit pneumonia.

Bayi dan anak-anak yang terkena pneumonia harus segera dibawa ke rumah sakit, karena khawatir penyakitnya menjadi berat yang menyebabkan fisiknya melemah. Menurut WHO, ada tiga klasifikasi pneumonia. Pertama, pneumonia sangat berat, ditandai dengan batuk dan kesulitas bernapas yang disertai dengan sianosis sentral–yakni dada, perut, bibir dan lidah bayi berwarna kebiruan—dan dinding dada sebelah bawah mengalami penarikan ke dalam (severe chest indrawing). Penderita biasanya sampai sulit minum.

Kedua, pneumonia berat, ditandai dengan batuk yang disertai kesulitan bernapas, napas sesak, bayi tampak menarik perut dalam-dalam saat bernapas, demam, kejang, rasa kantuk yang berlebihan, mengalami apnea (jeda napas saat tidur), disertai penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas. Ketiga, pneumonia (biasa). Tanda klinisnya adalah :batuk atau kesulitan bernafas tanpa penarikan dinding dada dan disertai pernafasan cepat.

Presiden Kongres Asian Pacific Society of Respirology (APSR) ke-19 Prof dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K), seperti dikutif detikhealth (6/11) mengatakan pneumonia yang terjadi bayi baru lahir harus segera mendapat pengobatan. Peradangan pada paru-paru bayi yang masih kecil akan memiliki dampak yang lebih serius jika dibandingkan dengan pneumonia yang terjadi para orang dewasa.

“Kenapa bayi banyak meninggal karena pneumonia? Karena bayi itu paru-parunya kecil, begitu kena infeksi susah dapat oksigennya dan cepat matinya. Kalau orang dewasa masih sempat dipakai cara lain seperti menggunakan alat bantu nafas karena paru-parunya besar,” kata dr Faisal.

Sumber: ilafadilasari.wordpress.com