Beranda News Kesehatan Pola Makan Orang Indonesia Masih Keliru

Pola Makan Orang Indonesia Masih Keliru

186
BERBAGI

BANDARLAMPUNG — Pakar gizi Indonesia, Dr. dr Tan Shot Yen, M.Hum. mengingatkan tentang pola makan masyarakat Indonesia yang keliru, karena orang Indonesia masih mementingkan komposisi karbohidrat ketimbang protein.

Penjelasan dari dr. Tan membuat terkejut peserta pada Seminar Kesehatan yang merupakan rangkaian kegiatan HUT ke-2 Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cabang Lampung Minggu (26/11/2017).

Dr Tan menjelaskan pola makan orang Indonesia masih banyak komposisi karbohidratnya daripada protein.

“Kita masih terbiasa dengan pola makan yang memenuhi kebutuhan fisik bukan pemenuhan pada otak,” ujarnya lagi.

Dalam kesempatan itu dia membandingkan piramida gizi seimbang Indonesia dengan negara maju seperti Amerika, Australia dan lainnya.

Terpapar dalam gambar bahwa komposisi negara maju meletakkan protein pada bagian dasar pemenuhan gizi manusia.

Sedangkan Indonesia meletakan karbohidrat sebagai dasar menu pemenuhan gizi seimbang.

“Idealnya, setiap individu terpenuhi kebutuhan sayur dan buahnya minimal setengah kilogram per hari,” jelasnya.

Tan mengatakan untuk gizi seimbang tidak perlu dengan membeli sumber makanan yang dari luar negeri (impor) yang menawarkan harga fantastis. “Di negara kita ini banyak, bahan baku untuk memenuhi gizi seimbang, harganya murah dan mudah didapat,” kata Tan shot Yen.

Tak lupa Tan juga memberi tips untuk menu pemenuhan gizi seimbang pada keluarga untuk ibu yang bekerja

Pertama, pastikan dalam setiap menu makanan keluarga mengandung 4 bintang yakni protein hewani dan protein nabati, karbohidrat, sayur dan buah.

Ke dua, untuk menu harian harus dibuatkan perencanaan dalam seminggu. Kemudian membersihkan dan potong-potong sesuai selera

Ke tiga, letakkan makanan yang belum dimasak ke dalam wadah yang kedap udara. Masukkan dalam freeser lalu turunkan satu per satu sesuai dengan rencana menu yang telah dibuat pada malam hari.

“Pastikan menu yang akan disajikan pada keluarga mendekati pada aslinya untuk menjaga nutrisi pada makanan yang kita konsumsi. Tidak ada penambahan penyedap rasa atau pewarna tambahan,” tuturnya.

Perkembangan teknologi untuk memudahkan, tetapi tidak melenakan ibu untuk malas mengolah masakan.

Trik dan tips ini untuk menjaga generasi Indonesia sehat, kuat dan berdaya saing.

Sementara dr. Wiyani Pambudi, SpA.,IBCLC menekankan proses menyusui eksklusif secara langsung.

“Menyusui tidak sekadar memberikan nutrisi pada anak, tetapi ada proses interaksi kepada anak sekaligus mendekatkan hubungan lewat kontak kulit ibu dan anak,” ujarnya.