Polair Polda Lampung Amankan Tiga Kapal Penangkap Ikan Asal Jakarta

  • Bagikan

Zainal Asikin/teraslampung.com

Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih

BANDARLAMPUNG – Polisi Air (Polair)  Polda Lampung memproses hukum tiga kapal penangkap ikan asal Jakarta yang melanggar aturan. Penangkapan ketiga kapal itu sendiri dilakukan pada Rabu (17/2/2016) sekitar pukul 13.00 WIB. Polisi mengamankan tiga kapal berumatan ikan sekitar 10 ton tersebut, di wilayah perairan Pantai Timur, Labuhan Maringgai, Lampung Timur.

Kabid Humas Polda Lampung, AKB Sulistyaningsih mengatakan, ketiga Kapal itu, ditangkap karena menggunakan alat tangkap tidak sesuai spesifikas. Selain itu juga, kapal itu telah melanggar wilayah
tangkap.

“Ketiga kapal yang diamankan, KM Rejeki 29 GT, KM Cindy 30 GT dan KM Utara Jaya,”kata Sulis, Rabu (24/2/2016) malam.

Dikatakannya, dari kapal KM Rejeki Bintang 29 GT. Dari kapal ini, petugas menangkap nahkoda berinisial Si bersama enam orang anak buah kapal (ABK). Dari dalam kapal itu, ditemukan alat tangkap jaring cumi bersama hasil tangkapannya seberat 1 ton.

Kemudian dari kapal KM Cindy 30 GT, petugas juga menangkap nakhoda berinisal AS bersama delapan anak buah kapal (ABK). Dari dalam kapal itu, petugas menyita alat tangkap jaring cumi dan hasil tangkapannya seberat 5 ton.

“Dari kapal KM Utara Jaya, diamankan juga nahkoda berinisial CN, bersama 10 orang anak buah kapal (ABK) dan alat tangkap jaring cumi. Mereka membawa hasil tangkapan, sebanyak 4 ton,”ujarnya.

Sulis mengutarakan, kegiatan patroli polisi perairan Polda Lampung yang dilakukan di wilayah seputaran Pulau dua Pantai Labuhan Maringgai, Lampung Timur, koordinat 5′.10′.898″ S.- 106′.06′.802″ E. Hasilnya, menemukan tiga kapal penangkapan ikan diketahui asal Muara Angke, Jakarta.

Kapal-kapal itu, kata Sulis, ditangkap karena menggunakan jaring atau alat tangkap yang tidak sesuai spesifikasi, yang telah ditentukan oleh Peraturan Mentri Kelautan dan Perikanan RI.

“Alat tangkap yang dipakai, jenis jaring cumi yang sudah dimodifikasi pakai alat bantu. Yakni seperti mata jaring, jumlah ring lebih berat serta daya lampu yang digunakan,”terangnya.

Menurutnya, alat bantu tersebut, sangat berpengaruh pada luas jangkauan dan kedalaman wilayah jangkauan perairan. Akibatnya, ikan-ikan kecil dan ikan jenis lain ikut tertangkap dalam kondisi
jaring yang sudah di setting dan hauling.

“Dampaknya, sudah pasti merusak daya ikan plankton/pitan plankton juvenil yang ada dipermukaan dasar, cumi, ikan dan ekosistem laut lainnya,”terangnya.

Akibat perbuatannya, mereka telah melanggar Pasal 85 jo pasal 93 UU No 45 tahun 2009 tentang perubahan UU No. 31 tahun 2004 tentang perikanan. Ancaman hukumannya, pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda paling banyak Rp2 miliar.

  • Bagikan