Polda Lampung dan Sumsel Siap Atasi Kejahatan di Perbatasan

  • Bagikan

Zaenal Asikin/Teraslampung.com

Irjen Saut Nasution

BANDARLAMPUNG – Untuk mengatasi tindak kejahatan dan maraknya peredaran senjata api  yang terjadi di wilayah Sumatera menjelang Ramadhan, Hari Raya, Pilpres, dan arus mudik Lebaran. Polda Lampung bersama Polda Sumatera Selatan serta Pemerintah Provinsi dan Kabupaten lansungkan rapat koordinasi mengenai pengamanan perbatasan kedua wilayah dari tindak kejahatan, di Hotel Sheraton Bandarlampung, Kamis (26/6).

Acara dihadiri Kapolda Lampung, Brigjen Pol Heru Winarko, Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Saut Nasution, dan para pejabat utama Polda dari kedua daerah tersebut.

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Drs. Saut Nasution mengatakan, salah satu masalah yang dibahas dalam rakor tersebut adalah mengenai penanganan dan antisipasi masalah berbagai kasus yang terjadi diperbatasan di kedua daerah yakni Lampung dan Sumatera Selatan yang harus dilaksanakan.

Pembahasan ini untuk mencari pemecahan dan mencari pormat apa solusi dan bagaimana penindakan yang akurat  dan bisa menghasilkan dampak positif bagi masyarakat, khususnya menjelang Ramadhan, Pilpres, dan arus mudik Idul Fitri 2014.

“Ada beberapa hal yang dibicarakan terutama dalam kasus-kasus yang menonjol seperti maraknya perderan dan pembuatan senjata api rakitan, pencurian dengan pemberatan, pencurian denan pemberatan, pencurian kendaraan bermotot, narkoba, dan perjudian,” kata Saut Nasution kepada wartawan, Kamis (26/6).

Saut mengakui ada dua wilayah di Sumatera Selatan yang menjadi sentra produksi pembuatan senjata api rakitan. Dua wilayah itu adalah OKI (Ogan Komering Ilir) dan Linggau. Pihaknya akan selalu siaga sebagai antisipasi pengamanan dan mendeteksi secara dini setiap kejadian atau tindak kejahatan dianggap sudah sangat meresahkan.

Dalam menangani hal itu, kata Saut Nasution, perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak terutama peran dari Pemerintah Daerah untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Karena dalam pengamanan ini bukanlah hanya Polri semata melainkan peran dari Pemerintah Daerah juga.

Menurut Saut tindak kejahatan yang dilakukan masyarakat ini tidak hanya kesalahan dari mereka seutuhnya, banyak juga mereka yang khilaf, kurang mengerti, atau hanya demi urusan perut sehinggamereka nekat untuk melakukan kejahatan.

“Sesungguhnya mereka bukan musuh melainkan masyarakat yang seharusnya mendapat pelayanan, perlindungan, dan pengayoman dari semua pihak. Baik Pemerintah, aparat penegak hukum, dan yang lainnya, agar mereka bisa sadar jika yang di perbuatan itu salah, tugas-tugas tersebut harus mendapatkan dukungan dari masyarakat karena tanpa dukungan, semua kegiatan atau upaya yang dilakukan akan sia-sia pastinya,” papar dia.

Menurut mantan Kadiv Humas Mabes Polri itu, bahan baku untuk pembuatan senjata api rakitan sebagian memang berasal dari Ogan Komering Ilir (Oki) dan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.  namun sebagian bahan baku lagi menurut data berasal dari Lampung.

“Dalam hal ini kami (Polda Sumsel dan Polda Lampung) bekerjasama untuk saling menekan dan memberikan arahan kepada masyarakat, supaya bahan baku tersebut tidak gampang masuk kepada mereka sebagai konsumennya. Kami  harus bisa mengarahkan pelakunya untuk berkarya positif dan lebih bermanfaat ketimbang membuat senjata api yang biasanya dibuat sesuai dengan pesanan dan digunakan untuk kejahatan,” kata dia.

Saut mengatakan, pada mada mendatang orang-oran yang ahli membuat senjata api rakitan akan diarahkan untuk membuat barang-barang kerajinan yang bernilai dan bermanfaat untuk masyarakat luas seperti, cindra mata dan alat-alat pertanian berupa cangkul.

“Kami imbau asyarakat yang masih menyimpan dan memilikinya, serahkanlah kepada petugas setempat,” ujarnya.

Kapolda Lampung, Brigjen Pol. Drs. Heru Winarko SH mengatakan tujuan rapat koordinasi tersebut adalah untuk mencari solusi menekan tindak kejahatan di perbatasan. Selain itu juga untuk mereka para pelaku yang memiliki keahlian membuat senjata api agar bisa diberdayakan ke arah yang positif dan lebih bermanfaat.

“Kalau dikalkulasikan selama kurun waktu dua tahun ini, Polda Lampung berhasil menyita 600-an pucuk senjata api. Ini kan sangat luar biasa, oleh karena itu perlu penanganan serius. Menurutnya, hampir semua senjata api rakitan yang disita itu berasal dari Sumatera Selatan,” tutur Heru Winarko.

  • Bagikan