Beranda Hukum Kriminal Polda Lampung Sita 50 Ton Garam Ilegal-Tanpa Izin Edar dari BPOM RI

Polda Lampung Sita 50 Ton Garam Ilegal-Tanpa Izin Edar dari BPOM RI

290
BERBAGI
Waka Polda Lampung, Brigjen Pol angesta Romano Yoyol
Waka Polda Lampung, Brigjen Pol angesta Romano Yoyol

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG —Petugas Subdit I Industri Perdagagan dan Investasi (Indagsi) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung mengamankan 50 ton garam merk dagang U.D. Tiga Permata tanpa dilengkapi izin edar BPOM RI. Kandungan yodium yang ada di garam itu tidak sesuai dan belum disterilkan.

Puluhan ton garam asal Pulau Jawa tersebut disita dari sebuah gudang milik pelaku Ariyanto (47), warga Jalan Wala Abadi Kampung Kroy, Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Bandarlampung.

Waka Polda Lampung, Brigjen Pol angesta Romano Yoyol mengatakan, pengungkapan 50 ton garam yang disita ini, merupakan hasil penyelidikan yang dilakukan petugas Subdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Lampung adanya peredaran garam tanpa dilengkapi izin edar dari BPOM RI di salah satu usaha di Jalan Wala Abadi Kampung Kroy, Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Bandarlampung.

“Setelah dilakukan pengecekan di gudang tersebut pada Jumat 31 Agustus 2018 sekitar pukul 15.00 WIB, ternyata benar di tempat itu petugas menemukan adanya kegiatan yang memproduksi dan memperdagangkan produk olahan garam,”ujarnya saat ekspos kasus di Mapolda Lampung, Kamis 13 September 2018.

Selain mengamankan pelaku, petugas juga menyita 50 ton garam hasil produksi dan sudah dikemas dengan berbagai ukuran merk dagang UD. Tiga Permata tanpa izin edar. Selain itu juga, turut disita satu unit mobil Pickup warna hitam, empat unit ponsel, uang tunai Rp 30 juta serta beberapa barang bukti lainnya.

“Puluhan ton garam yang disita ini, sudah dilakukan uji lab dan hasilnya berbahaya kalau sampai dikonsumsi oleh masyarakat. Pastinya, mengakibatkan gondok karena kandungan yodium di garam itu tidak sesuai dan juga belum diseterilkan,”ungkapnya.

Brigjen Pol Angesta Romano Yoyol mengutarakan, garam yang disita itu didatangkan pelaku dari Pulau Jawa, sedangkan pengolahan dan pengemasannya dilakukan di Bandarlampung.

“Garam ini sudah banyak tersebar di pasar tradisional di Lampung. Sudah ada merk dagang, SNI, dan BPOM. Tapi semua itu tidaklah terdaftar dan belum ada izin edarnya,” katanya.

Yoyol mengatakan, pelaku yang diamankan baru satu, yakni Ariyanto. Aryanto ditahan karena dia yang mendapat keuntungan dan bertanggungjawab.

“Sedangkan untuk pekerjanya, hanya sebagai saksi. Dari pengakuannya, sudah lima tahun usaha itu beroperasi,”terangnya.

Dikatakannya, kejahatan pangan ini harus ditindak karena membahayakan jika sampai dikonsumsi masyarakat.

Sementara itu, Ariyanto (47) mengaku pengolahan dan pengemasan garam usaha miliknya tersebut sudah dilakukan kurang lebih sekitar lima hingga enam tahun dan pengemasannya ada berbagai macam ukuran. Untuk ukuran 1 Kg dijual seharga Rp 3.000, lalu 2 Kg Rp 6.000 dan ukuran 3 Kg Rp 9.000.

“Garam ini saya ambil dari Pulau Jawa, dalam satu bulan saya mengambil garam itu sebanyak 20 ton dan pengirimannya melalui jalur laut. Untuk mengenai pemasarannya, tergantung yang ambil garam. Kalau paling banyak tersebar, yakni di Kota Bandarlampung ada juga di beberapa daerah lampung lainnya,”ucapnya.

Saat ditanya bahwa usaha garam miliknya itu tidaklah terdaftar dari BPOM RI, Ariyanto mengakuinya namun bukan berarti bahwa dirinya tidak melakukan upaya untuk melakukan perijinannya tersebut. Menurutnya, hingga saat ini ijin edarnya masih dalam tahap proses.

“Garam yang saya olah dan kemas lagi ini tidaklah berbahaya, hanya ijin edarnya yang belum selesai. Sudah tiga kali saya mengurus ijinnya, tapi sampai sekarang belum juga selesai. Lalu diperbaharui lagi ijinya, karena adanya pergantian Kepala Dinas,”ungkapnya.

Menurutnya, pengurusan ijin edar usaha garamnya tersebut, bukan hanya dari BPOM Lampung saja tapi juga dari BPOM RI di Jakarta sehingga prosedurnya lambat.

Loading...