Polemik Bilik Disinfektan, Dinkes dan Inspektorat Lampura Beda Pendapat

  • Bagikan
Inilah bilik disinfektan senilai Rp 17,5 juta per unit produksi PT SPB. Taksiran BPK, nilai bilik disinfektan semacam ini dalam kisaran Rp3,1 juta – Rp4,2 juta.

Feaby|Teraslampung.com

Kotabumi–Kepala Dinas Kesehatan Lampung Utara, Maya Natalia Manan mengaku tidak dapat memastikan apakah harga bilik disinfektan yang jadi temuan BPK itu wajar atau tidak. ‎Menurutnya, seluruh dokumen seputar persoalan itu telah diserahkan pada pihak Inspektorat Lampung Utara.

BACA: Proyek Bilik Disinfektan Senilai Rp1 Miliar di Lampura Bermasalah, Ini Kata Dinkes dan Inspektorat

‎”Saya tidak bisa bilang harganya wajar atau tidak. Kami sudah sampaikan ke Inspektorat pada awla Maret lalu,” kata dia usai rapat bersama Komisi IV DPRD Lampung Utara, Senin (29/3/2021).

Anehnya, meski tidak dapat memastikan harga itu wajar atau tidak, pernyataan Maya berikutnya malah cenderung mengisyaratkan bahwa harga itu memang wajar adanya. Hal itu tersirat saat ia mengatakan, kala itu kondisi harga bilik disinfektan memang terbilang tinggi.

“Saat itu memang harganya masih sangat tinggi,” terangnya.

Menariknya, pengakuan Maya yang menyatakan penyerahan dokumen seputar harga bilik dari pihak ketiga telah disampaikan pada awal Maret lalu ternyata bertolak belakang dengan pernyataan Inspektur Pembantu Wilayah IV, Rofi Febriansyah pada pertengahan Maret lalu.

Kala itu Rofi menegaskan, pihaknya berkesimpulan tidak dapat menentukan apakah harga masing – masing bilik itu wajar atau tidak. Kesimpulan ini dikarenakan pihak rekanan atau PPK dinas kesehatan ‎tidak dapat melengkapi dokumen mengenai kewajaran harga seperti seperti yang diharuskan. Berdasarkan kesimpulan itu maka pihaknya m‎enyerahkan sepenuhnya persoalan ini pada BPK.

Yang lebih konyolnya lagi, Maya mengaku bahwa bilik disinfektan ‎yang ada di dinasnya tersimpan rapi dan selalu siap sewaktu – waktu dibutuhkan. Padahal, kenyataannya, bilik disinfektan seharga belasan juta yang ada di dinasnya malah diletakan begitu saja seperti barang tidak berguna. Kondisi bilik terlihat sangat tidak terawat‎ dan diletakan di samping kantin dinas.

“Kalau memang diperlukan, kami pakai. Misalnya ada yang mau pinjam ke mana, bisa digunakan,” kata dia.

Loading...
  • Bagikan