Polemik di Medsos: Harga BBM Pasar Dunia Turun, Kok Indonesia Malahan Menaikkan Harga BBM?

  • Bagikan
Politik Itu tak Suci (Ilustrasi/FAHIMANZOOM/thedailystar)
“Politik tak Suci” (ilustrasi thedailystar)

JAKARTA, Teraslampung.com– “Harga BBM di pasar dunia lagi turun, kenapa Indonesia malah dinaikkan? Logikanya di mana?” kata Nurul di kantor Golkar, Jakarta, 15 November 2014. Kutipan tersebut berasal dari portal tempo.co lalu tersebar luas di jejaring media sosial.

Nada serupa juga berasal dari Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono. Putra bungsu mantan Presiden SBY  itu mengaku heran dengan langkah Presiden Joko Widodo, yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Alasannya sama: saat ini, harga minyak dunia justru sedang mengalami penurunan.

Menurut legislator yang pernah mundur sebagai anggota DPR RI lalu mencalonkan diri lagi dan perpilih pada Pemilu 2014 itu, dengan subsidi yang ada saat ini, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015 yang disusun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono mematok harga minyak dunia di atas 100 dollar AS per barrel. Namun, saat ini, harga minyak dunia justru turun ke angka 80 dollar AS per barrel.

“Jadi, jika asumsi kita harga minyak dunia di atas 100 dollar AS per barrel, pemerintah harusnya bisa menurunkan (harga BBM),” kata Ibas di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/11/2014), seperti dilansir kompas,com, yang juga kemudian menjadi rujukan orang untuk beramai-ramai menyerang Jokowi di jejaring media sosial.

Sayangnya, pemerintah atau Presiden Jokowi tidak secara rinci menjelaskan alasan kenapa harga BBM naik di saat harga BBM dunia turun. Jokowi hanya serba sedikit menyingkung ketiadaan anggaran untuk membangun infrastruktur dan kesehatan. Poin inilah yang justru menjadi bahan serangan penolak kenaikan harga BBM.

“Ini sudah bulan November, bagaimana mau membangun infrastruktur!’ pekik seorang pemilik akun Facebook, di beranda media sosialnya, Selasa (18/11).

Media sosial pun riuh pro-kontra kenaikan harga BBM. Banyak status bernada nyinyir, asal bicara, asal mendukung, asal menolak, dan nada marah. Banyak pula pemilik akun Facebook yang bisa memberikan argumen kenapa mendukung dan kenapa menolak kenaikan harga BBM.

Tentang komentar Nurul Arifin, Made Supriatma, seorang pengamat politik, penulis, dan kandidat doktor di sebuah perguruan tinggi di Amerika menulis:

“Orang ini dulu sekolah dimana ya? Apa ya dia nggak tahu kalo dia beli bensin itu cuman setengah harga? Yang setengahnya lagi dibayar oleh negara? Sekarang, sebagian dari porsi negara itu dihilangkan, ya jelas dia naik.


Kalok dia mau harga turun, dari kemarin-kemarin dia harusnya bayar bensin dengan harga internasional. Pasti turun deh tuh harga karena harga minyak dunia sekarang menurun.
Memang sih, dia sekarang mainkan peran jadi ‘attack dog’ kubu Prabowo. Tapi menyerang mbok yang nalar. Cari alasan lain kek, yang lebih masuk akal.
Orang ini dulu sekolahnya dimana sih?”


Aboeprijadi Santoso, seorang pensiunan Radio Hilversum Belanda yang kini masih aktif menulis, menimpali: “Soalnya kan turun berapa pun harga di pasar internasional  sudah tinggi dan sudah lama begitu. Jadi, bertahun-tahun negara nombokin gede dengan subsidi gede. Inilah yang lebih elementer yang justru haruss disadari tapi tdak disadari. Jadi,  Komisi II  DPR RI dengan staf dan sebagainya itu utk apa ya?”

Menurut Made, sulit sekali menentukan. Harga internasional itu minyak mentah. Sementara harga per negara itu bervariasi dari yang tinggi sekali sampai yang rendah sekali. Menurut Made, harga minyak internasional tergantung beberapa hal. 
Pertama, apakah satu negara menghasilkan minyak. Kedua,  jauh dekatnya lokasi negara itu dengan produsen minyak. Tiga,  jauh dekatnya jarak antara satu tempat dengan pengilangan (refineries). 
“Di rumah saya ini sekarang (maksudnya di Amerika Serikat–Red.) harganya Rp 12 ribu per liter. Tapi orang biasanya beli per gallon (3 literan). Di Australia seperti yang digambar diatas Rp 17,688/liter. Menurut Bloomberg (link-nya ada dibawah), harga bensin termahal itu di Norwegia: $9.79 per gallon atau $3.2 per liter (Rp 38.86 ribu)! Padahal kita tahu Norwegia itu penghasil minyak; tapi mereka tidak mau tergantung dari minyak. Malah pemerintahnya mengambuil keuntungan dari minyak untuk mensubsidi negara kesejahteraan. Misalnya pendidikan gratis; kesehatan terjamin; orang tua dilayanin dan dipelihara; orang tidak kerja dididik (bukan ditanggung untuk nganggur lho); anak-anak diperhatikan gizinya, dan lain-lain,” kata Made.
Menurut Made, negara kesejahteraan itu mahal sekali. “Makanya, semuanya diminta berkorban. Orang dipaksa untuk tidak punya mobil tapi angkutan umum disediakan. Norwegia adalah negara dengan penduduk yang punya pendidikan terbaik di dunia. Bahkan saking welas asihnya negara ini, mereka menyumbang 5 milyar dollar ke Indonesia untuk kelestarian hutan tropis (Program REDD). Mereka sangat memperhatikan lingkungan. Dan negara ini termasuk negara dengan jumlah orang pergi beribadah terkecil di dunia,” katanya.
Mengomentari status Made, Irawan Saptono (jurnalis) mengungkap cerita menarik.Menurut Irawan, dengan punya kilang sendiri harga BBM bisa semurah harga BBM subsidi. 
“Saya pekan lalu ketemu Pak Rudi Tavinos, pendiri dan CEO PT Tri Wahana Universal, kilang minyak swasta pertama di Indonesia. Kilangnya di Bojonegoro dan supply crude oilnya dari ExxonMobil Cepu. Saya ketemu Pak Rudi di kantornya di Gedung Cyber 2 Jakarta Selatan. Harga BBM yang dihasilkan kilang Pak Rudi ini sama dengan harga BBM subsidi. Dana subsidi BBM yang Rp 750 triliun selama 5 tahun bisa dipakai untuk bangun refinery di setiap provinsi. Niscaya harga BBM akan murah lagi tanpa subsidi,” katanya.
  • Bagikan