Beranda Views Kopi Pagi Politik Berseragam Sekolah

Politik Berseragam Sekolah

199
BERBAGI

Rois
Said*
Di sebuah
warung kopi di pinggiran Jakarta, dua orang pemuda dengan tampang enggak
terlalu intelek ngobrol santai sambil menyeruput kopi hitam ditemani pisang goreng
yang masih mengepul. Sodik, salah satu pemuda yang matanya sudah agak minus,
terlihat sedang memaksakan diri membaca koran meskipun lampu penerangan sudah
agak jauh menjangkau koran yang dibacanya. Beberapa saat berkerut, tapi
kemudian Sodik tersenyum sambil melipat koran.
“Jokowi
udah kayak malaikat pencabut nyawa aja ya,” tiba-tiba Sodik nyeletuk sambil
menaruh koran dan terus menyeruput kopinya.
“Lho kok
bisa?” Makmun, sang teman, menoleh bingung. Sampai-sampai pisang goreng yang
sudah siap hancur dilumat geliginya, tertahan di ambang mulut yang melongo.
“Iya
dong. Lihat aja, dia bisa datang di saat bersamaan ke 33 provinsi di Indonesia!
Apa nggak hebat tuh? Kan cuma malaikat maut yang bisa begitu.”
“Jokowi
punya ilmu kesaktian kali.”
Nggak
tahu. Setahu gue dia orang biasa aja kok.”
“Lha
terus, gimana caranya kok dia bisa datang bersamaan ke 33 provinsi di
Indonesia?”
“Tuh,
namanya masuk di soal Ujian Nasional. Kan artinya dia bisa datang ke 33
provinsi di hari dan jam yang bersamaan, hehe…” Sodik nyengir.
“Semprul!
Kirain apaan!” Makmun langsung menjejalkan pisang goreng ke mulutnya dengan
tampang agak kesal. “Kalo udah nyangkut politik mah semua juga bisa!” sungut
Makmun.
***
Ya,
cerita tentang Joko Widodo yang “tiba-tiba” muncul di soal Ujian Nasional (UN) mata
pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA kelas IPS, memang banyak mengundang reaksi
dari berbagai kalangan. Sampai-sampai si Sodik dan si Makmun yang notabene
bukan pemerhati politik ataupun pengamat pendidikan pun ikut nimbrung
ngegosipin soal ini. Padahal, mereka berdua cuma dua pemuda pekerja rendahan
yang tak kuasa menolak saban kali dijejali berita-berita politik dan
karut-marut kehidupan di Indonesia.
Tetapi
lain lagi ceritanya kalau yang menanggapi adalah para pelaku politik praktis
yang partainya berseberangan dengan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Bagi mereka,
munculnya cerita keteladanan Jokowi di dalam soal UN adalah sebuah manuver
politik dalam kerangka menggiring ingatan para pemilih pemula yang amat
potensial untuk dimanfaatkan.
 Tahu dong, sebentar lagi kan Pemilu Presiden,
dan Jokowi sudah ditetapkan jadi bakal capres dari PDIP. Makanya, banyak yang
menyindir, Jokowi sedang mencuri start dengan melakukan “blusukan” sampai ke
soal UN. Jokowi sendiri sudah pasti mengelak dari tuduhan tersebut.
Enggak
tahulah, pihak mana yang benar. Yang jelas, terlepas dari pro kontra, tuduhan
dan sanggahan yang bergulir terkait cerita di atas, sebenarnya hal itu bukan
barang baru. Dari tahun ke tahun, rezim ke rezim, dunia pendidikan di Indonesia
memang punya nasib seperti sapi kok.
Anda tahu sapi? Betul! Yang namanya sapi, semua aspeknya bisa dimanfaatkan.
Susunya bisa diperah untuk diminum, dagingnya bisa dimakan, dan tenaganya bisa
dimanfaatkan buat membajak ataupun menarik gerobak. Sialnya, biarpun punya susu
yang menyehatkan dan diklaim bisa mencerdaskan otak, dagingnya enak dan
bergizi, serta tenaganya kuat, sapi tetap saja jadi sapi, enggak pernah tuh nasibnya beranjak jadi manusia–yang
notabene hampir tiap hari memanfaatkan jasanya.
Nah, dunia
pendidikan kita juga nasibnya kurang-lebih seperti sapi. Lho, di mana
kemiripannya? Ya bayangkan saja, dari tahun ke tahun, mutu pendidikan kita
selalu menempati kelompok terendah di antara bangsa-bangsa lain di dunia.
Padahal, berapa banyak tuh politikus dan penguasa yang sudah menangguk berkah dari
dunia pendidikan. Dari segi anggaran, pendidikan menjadi lumbung kekayaan buat
tikus-tikus berlabel “Bandit Senayan”. 
Setiap calon kepala daerah berkampanye,
mesti juga berkoar, “pendidikan gratis sampai 12 tahun!” Guru-guru dijanjikan
tunjangan sertifikasi dan ini-itunya lancar. Banyaklah kalau kita mau
menghitung “faedah pendidikan buat kehidupan politik” di Tanah Air. Tapi ya itu
tadi, biarpun dunia pendidikan sudah diperas sampe ke ampas-ampasnya, tetap
saja tuh mutu pendidikan kita enggak
maju-maju. Setelah para politikus dan birokrat itu mendapatkan berkah dari
dunia pendidikan, segera dia melupakan dan enggak merasa harus membalas budi
kepada si pendidikan itu.
Jadi, kalaupun
benar Jokowi (baca: tim sukses Jokowi) memanfaatkan soal UN sebagai salah satu
kendaraan untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya sebagai capres,
itu belum seberapa. Dan sekali lagi, itu bukan barang baru. Anda yang masih
bersekolah di zaman rezim Soeharto pasti masih ingat dong, bagaimana kita
dijejali cerita heroik Soeharto lewat pelajaran sekolah; PSPB (Pendidikan
Sejarah Perjuangan Bangsa). Tujuannya? Apa lagi kalau bukan untuk mengukuhkan
kekuasaan otoritarian “The Smiling General”. Buat Soeharto, usaha itu
mendatangkan hasil. Buat pendidikan, itu sama sekali tidak mendongkrak
kualitas.
***
“Pilpres
entar lu mau milih siapa, Mun?” tanya Sodik sambil nyeruput kopi yang tinggal
segaris..
Gue?
Pilih calon presiden yang paling ganteng!”
Gak ada
capres yang ganteng!”
Kalo
gitu
pilih calon presiden yang enggak akan nyolong duit rakyat!”
“Mantep!”
Sodik kasih jempol.
“Udah ah,
ngomongin politik mulu luh! Yuk balik!” kata Makmun sambil ngeloyor mau pergi.
Tapi tukang kopi langsung menarik kerah baju Makmun. Makmun menoleh bingung.
“Elu
pengen calon presiden yang kagak nyolong, elu sendiri udeh belajar ngentit
pisang goreng gue! Bayar luh!” semprot tukang kopi.
Makmun
cuma mesem sambil merogoh-rogoh sakunya.

“Hehe…
bayarnya besok ya…”
 * penulis dan mentor menulis skenario, pernah lama berhikmat di Teater Zat
Loading...